Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Macam-macam Metode

oleh: AlghafuryIrul    
ª
 
D. Macam-macam Metode
Metode pendidikan yang berfungsi sebagai pengentar untuk sampai kepada tujuan dapat dikatakan baik menurut filsafat pendidikan apabila memenuhi beberapa ciri sebagai berikut:
1. metode pendidikan bersifat luwes, dan dapat menerima perubahan dan penyesuaian dengan keadaan dan suasana proses pendidikan.
2. metode pendidikan senantiasa berusaha menhubungkan antara teori dan praktek, antara proses belajar dan amal, antara hapalan dan pemahaman secara terpadu.
3. metode pendidikan menghindari cara-cara mengajar yang bersifat meringkas, karena ringkasan itu merupakansebab rusaknya kemampuan-kemampuan ilmiah yang berguna.
4. metode pendidikan menekankan kebebasan peserta didik untuk berdiskusi, berdebat, dan berdialog dengan cara yang sopan dan saling menghormati.
5. metode pendidikan juga menghormati hak dan kebebasan pendidikan untuk memilih metode yang dipandang sesuai dengan watak pelajaran dan peserta didik itu sendiri.
6. metode pendidikan harus bersumber dan diambil dari jiwa dan akhlaq yang mulia. Ia merupakan hal yang integral dengan materi dan tujuan pendidikan.
Dalam literatur kependidikan, menurut Abudin Nata, paling tidak ditemukan tiga bentuk metode pembelajarn, yaitu: metode pembelajaran yang berpusat pada pendidik (teacher centered), metode pembelajar yang berpusat pada peserta didik (student centered), dan metode pembelajaran yang berpusat pada pendidik dan peserta didik. Metode pembelajaran model pertama adalah cara pembelajaran yang menempatkan pendidik sebagai pemberi informasi, pembina, dan pengarah satu-satunya dalam aktifitas pendidikan. Konsekwensinya model ini adalah seorang pendidik hanya mencukupkan dirinya pada penguasaan bahan pejaran semata, tampa harus mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam bahan pembalajaran yang dapat disampaikan kepada peserta didik.
Model metode yang kedua, yaitu yang berpusat pada peserta didik, merupakan metode yang berupaya memberikan rangsangan, bimbingan, dan pengarahan, serta dorongan kepada peserta didik agar terjadi peruses belajar. Yang terp-enting dalam metode ini adalah bukan hanya pendidik yang menyampaikan bahan pelajaran, tapi juga bagaimana peserta didik mempelajari bahan pelajaran sesuai dengan tujuan. Menurut Noeng Muhadjir, di dalam model ini, peserta didik diberi kesempatan seluas mungjin untuk menyerap informasi, menghayati sendiri pristiwa yang terjadi, dan melakukan langsung aktivitas operasional belajarnya.
Sedangkan metode pembeljaran ketiga adalah berupaya memadukan dua model diatas.
E. Kesimpulan
Metode sangat diperlukan dalam meraih sebuah pendidikan yang edial. Dengan metode seorang pendidik bisa mengetahui bagaimana cara yang tepat isi atau materi pendidikan itu dididik dan diajarkan. Karena tampa metode suatu materi pelajaran tidak akan dapat berproses secara efektif dan efisien dalam kegiatan belajar mengajar menuju tujuan pendidikan. Metode yang tidak tepat-guna akan menjadi penghalang kelancaran jalannya proses belajar-mengajar sehingga banyak tenaga dan waktu terbuang sia-sia. Peranan pendidik sangat menolong kelahiran 'bakat' yang sudah ada di dalam diri peserta didik, sebagaimana seorang bidan menolong orang yang sedang melahirkan.
Untuk mengetahui bakat dalam diri peserta didik, orang tua adalah penanggung jawab utama. Secara tradisional, jika anak lahir dari orang tua petani, anak itu pun akan mendapatkan didikan dan bimbingan untuk menjaga petani.
Metode pengembangan bakat yang ada pada peserta didik, sekolah, dalam hali ini yang dimaksud adalah guru, mempunyai tanggung jawab besar. Tentang pemanfaatan bakat menjadi tanggung jawab masyrakat sepenuhnya.
Seorang guru harus menguasai bahan yang akan diajarkan dan tidak boleh bersifat keras, tidak boleh sering meringkas. Juga guru harus menekankan diskusi pada paserta didiknya. Dan memberi kebebasan dalam berdiskusi, berdebat, dan berdialog dengan bahasa yang sopan.

F. Daftar pustaka
Abudin Nata, Pradigma Pendidikan Islam: Kapita Selekta Pendidikan Islam, Cet. I, Jakarta: Grasindo, 2001, hlm. 202
Ihsan Hamdani, H, Drs, Ihsan Fuad, A, H, Drs, Filsafat Pendidikan Islam, CV Pustaka Setia, Bandung, Cet. III 2007, hlm. 123.
Isma'il SM, M. Ag, Strategi Pembalajari Agama Islam Berbasis PAIKEM, RaSAIL Media Group, Semarang, hlm. 7, Cet. I, 2008.
Noeng Muhadjir, 2000, halm. 20-21
Suparlan Suhartono, Ph.D, Filsafat Ilmu Pengatahuan, hlm. 72, Arruz Media, Jogjakarta, Cet. 1, Juni 2008. Jujun S.S., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, 1987.
Siti Mechati, 1975: 5.
Suparlan Suhatono, Filsafat Pendidikan, ar-Ruzz Media (Anggota IKAPI DIY), Maguwarjo, Depok, Sleman, Jogjakarta, hlm 76, Cet. IV, 2009.
Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, jogjakarta, ar-Ruz, Cet. I, 2006, hlm. 138-139. Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany, Filasafat Pendidikan Islam, hlm. 583-584
Wiji Suwarno, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, ar-Ruzz Media, Jogakarta, hlm. 19-20, Cet. I 2006.

Diterbitkan di: 03 Juli, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.