Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Perbedaan antara kitab kuning dengan kitab kontemporer

Perbedaan antara kitab kuning dengan kitab kontemporer

oleh: RadenSaid    
ª
 
Perbedaan antara kitab kuning dengan kitab kontemporer
Dalam tradisi intelektual Islam, kitab-kitab karya ulama era kejayaan Islam biasa disebut al-kutub al-qadimah (kitab-kitab klasik), sebagai pembeda dengan karya tulis ulama modern yang biasa disebut al-kutub al-‘ashriyyah alias kitab-kitab modern atau kontemporer. Sedangkan dalam tradisi pesantren di tanah air, kitab-kitab karya para ulama besar itu –baik yang klasik maupun modern—juga mempunyai sebutan lain, yakni kitab kuning.
Kedua kitab tersebut memiliki perbedaan pada kurun penulisan. selain itu, kitab-kitab klasik dan kitab kontemporer juga dibedakan dari cara penulisan. Kitab-kitab klasik biasanya ditulis secara sambung menyambung, dari awal sampai akhir kitab, tanpa tanda berhenti semacam titik, koma, dan sebagainya, atau dalam bahasa Jawa disebut ndlujur. Kitab-kitab klasik juga bisa ditulis tanpa syakl atau harakat (tanda baca atau sandangan,- Jawa red), seperti fathah, kasrah, dhammah, atau sukun, sama sekali. Karena tanpa tanda baca, kitab kuning juga biasa disebut kitab gundul. Karena nyaris tanpa rambu-rambu, pembacaan kitab klasik sering dianggap sulit oleh sebagian orang. Yang menyulitkan juga, terkadang kata ganti dalam suatu kalimat (terutama dalam kitab-kitab fiqih) merujuk kepada subyek yang letaknya berhalaman-halaman di depannya. Ini tentu menuntut keterampilan dan kejelian tersendiri.
pada kitab-kitab karya ulama modern, penulisan isinya lebih sistematis, dengan membagi tulisan dalam bab-bab, pasal-pasal, dan alinea-alinea. Tentu lengkap dengan tanda berhenti seperti koma dan titiknya. Sebagian kitab modern juga sudah mencantumkan syakal atau harakat pada huruf-hurufnya, meski masih banyak juga yang tetap lebih suka menuliskannya dengan gundulan. Ciri khas lain yang membedakan kitab klasik dengan kitab modern adalah dalam penjilidannya, meski belakangan cetakan terbaru kitab klasik juga sudah banyak yang dijilid ala kitab modern. Berbeda dengan kitab modern yang dijilid rapi dan indah sebagai satu kitab tebal, kitab-kitab klasik, terutama yang tidak terlalu tebal, lembaran-lembaran kertasnya tidak dijilid menjadi satu. Bahkan bisa dibilang sama sekali tidak dijilid. Setiap sepuluh atau dua puluh lembar yang tercetak per empat halaman dilipat menjadi satu, berdasarkan urutan halaman dan kedekatan tema pembahasan. Setiap satu lipatan lembaran kitab disebut satu korasan. Biasanya, santri-santri yang akan mengaji kitab-kitab besar tidak membawa seluruh kitabnya, melainkan hanya korasan yang akan dikaji hari itu saja. Yang tak kalah unik dalam kitab kuning adalah format penyusunan naskah.
Dalam satu halaman kitab kuning bisa terdiri dari satu, dua atau tiga bagian naskah. Kitab-kitab dasar biasanya hanya terdiri dari satu naskah, yakni naskah inti atau matan. Sementara kitab kelas menengah biasanya terdiri dari dua bagian naskah, yakni matan dan syarah (penjelasan atau penjabaran matan). Pada kitab yang lebih besar lagi, dua bagian itu ditambah hamisy, catatan pendamping, baik yang merupakan penjelasan baru dari matan dan syarah yang sudah ada, maupun tulisan lain yang dianggap memiliki kesamaan ide dengan tulisan utama.Berbeda dengan kitab bernaskah tunggal yang tata letaknya biasa, kitab bernaskah ganda disusun dengan cara yang unik. Setiap halaman dibuat dua bagian: bagian pinggir untuk matan kitab, dan bagian tengah dengan pembatas garis keliling untuk syarah. Karena berisi penjelasan matan, bagian syarah biasanya dibuat lebih besar. Sedangkan pada kitab yang memiliki hamisy, matan dan syarah utama diletakkan di bagian tengah. Sementara bagian pinggirnya diisi oleh catatan pendamping yang terkadang merupakan keterangan dari syarah dan matan di tengah, terkadang juga berisi matan yang sama namun dengan syarah yang berbeda. Bahkan ada juga kitab yang hamisynya berisi kitab lain yang mengkaji tema yang sama.

Diterbitkan di: 30 Mei, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.