Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Aktivitas Guru dalam Merencanakan Kurikulum

Aktivitas Guru dalam Merencanakan Kurikulum

oleh: SangObsesi     Pengarang : DIREKTORAT TENAGA KEPENDIDIKAN DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
ª
 

Pada dasarnya kegiatan merencanakan meliputi: penentuan tujuan
pengajaran, menentukan bahan pelajaran, menentukan alat dan metode
dan alat pengajaran dan merencanakan penilaian pengajaran (Sudjana,
1989: 31). Dengan demikian kegiatan merencanakan merupakan upaya
yang sistematis dalam upaya mencapai tujuan, melalui perencanaan yang
diharapkan akan mempermudah proses belajar mengajar yang kondusif.
Dalam kegiatan perencanaan langkah pertama yang harus ditempuh
oleh guru adalah menentukan tujuan yang hendak dicapai. Berangkat dari
tujuan yang kongkrit akan dapat dijadikan patokan dalam melakukan langkah
dan kegiatan yang harus ditempuh termasuk cara bagaimana melaksanakanya.
Dalam pandangan Zais (1976: 297) ada beberapa istilah yang
berkenaan dengan tujuan, antara lain: aim goals dan objective. Pada materi
ini yang dimaksud tujuan adalah objective, yaitu tujuan pokok bahasan
yang lebih spesifik, merupakan hasil proses belajar mengajar. Bloom (1954:
18) mengklasifikasikan tujuan tersebut menjadi tiga ranah, yaitu ranah
kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan menurut Ansary (1988: 95)
ada beberapa sumber tujuan pengajar yaitu: kebutuhan anak, kebutuhan
masyarakat, ilmu pengetahuan, dan filsafat.
17
Taba (1962: 200-105) memberi beberapa pentujuk tentang cara merumuskan
tujuan pengajaran yaitu:
(1) Tujan hendaknya mengandung unsure proses dan produk.
(2) Tujuan harus bersifat spesifik dan dinyatakan dalam bentuk prilaku
nyata.
(3) Mengandung pengalaman belajar yang diperlukan untuk mencapai tujuan
yang dimaksudkan.
(4) Pencapaian tujuan kadang kala membutuhkan waktu ralatif lama (tak
dapat dicapai dengan segera).
(5) Harus realistis dan dapat dimaknai sebagai kegiatan belajar atau pengalaman
belajar tertentu.
(6) Harus komprehensif, artinya mencakup semua aspek dan tujuan yang
ingin dicapai sekolah.
Dalam merencanakan proses pembelajaran maka langkah kedua adalah
menetapkan bahan pelajaran. Dalam pandangan Ansary (1988: 120)
bahan pelajaran mencangkup tiga komponen, yaitu ilmu pengetahuan, proses
dan nilai-nilai. Dalam hal ini tiga kompunen tersebut dapat dirinci sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai sekolah.
Dalam menentukan bahan pelajaran bukanlah pekerjaan yang mudah
akan tetapi pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi yang serius, karena
bahan pelajaran harus disesuaikan dengan perkembangan sosial di sampingperkembanga
ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga dalam menentukan
bahan pelajaran perlu memperhatikan beberapa hal yaitu: signifikansi,
kegunaan, minat, dan perkembangan manusiawi (Zais, 1976: 343). Yang
harus diperhatikan adalah bagaimana bahan pelajaran yang akan disajikan
kepada anak didik dirancang dan diogarnisir dengan baik. Nasution (1988:
142) mengartikan organisasi kurikulum sebagai pola atau bentuk bahan
pelajaran yang disusun dan disampaikan pada murid. Sedangkan menurut
Ansyar (1988: 122) bahwa “organisasi kurikulum mencangkup urutan,
aturan dan integrasi kegiatan-kegiatan sedemikian rupa guna mencapai
tujuan-tujuan.
Sukmadinata (1988: 123) menjelaskan beberapa jenis organisasi kurikulum
yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pengajaran yaitu
sebagai berikut: (a) organisasi kurikulum berdasarkan atas pelajaran, (b)
18
organisasi kurikulum berdasarkan kebutuhan anak, (c) organisasi kurikulum
berdasarkan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Karena itu
guru sebagai pengembang kurikulum di sekolah sudah seharusnya data
memilih jenis organisasi kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan.
Penentuan metode mengajar adalah merupakan langkah ketiga dari
tugas guru sebagai pengembang kurikulum di sekolah. Menentukan metode
mengajar ini erat dengan hubungannya pemilihan strategi belajar mengajar
yang paling efektif dan efensien dalam melakukan proses belajar
mengajar guna mencapai tujuan pengajaran. Waridjan dkk. (1984: 32)
mengartikan strategi pengajaran sebagai kegiatan yang dipilih guru dalam
proses belajar mengajar, yang dapat diberikan kemudahan atau fasilitas
kepada anak didik menuju tercapainya tujuan pengajaran.
Menurut Sudjana (1989: 57) ada beberapa hal yang harus menjadi
bahan pertimbangan dalam menentukan metode mengajar yang akan digunakan,
yaitu: (a) tujuan pengajaran yang ingin dicapai, (b) bahan pelajaran
yang akan diajarkan, (c) jenis kegiatan belajar anak didik yang diinginkan.
Ada beberapa metode mengajar yang dapat digunakan untuk
mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar, yaitu ceramah, tanya
jawab, diskusi, resitasi, belajar kelompok, dan sebagainya.
Sedangkan langkah ke empat dalam merencanakan pembelajaran
adalah merencanakan penilaian pelajaran. Penilaian pada dasarnya adalah
suatu proses menentukan nilai dari suatu obyek atau peristiwa dalam konteks
situasi tertentu (Sudjana dan Ibrahim, 1989: 119). Di sisi lain Hasan
(1988: 11) mengatakan bahwa penilaian berbeda dengan tes dan pengukuran.
Tes merupakan bagian integral dari pengukuran, sedangkan pengukuran
hanya merupakan salah satu langkah yang mungkin digunakan dalam
kegiatan penilaian.
Diterbitkan di: 02 Mei, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.