Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Faktor umum penyebab siswa bermasalah

Faktor umum penyebab siswa bermasalah

oleh: suksesbosss     Pengarang : hadimuhain
ª
 

Gejala kemerosotan moral remaja dewasa ini benar-benar
mengkhwatirkan. Kejujuran, kebenaran, keadilan, tolong menolong dan
kasih sayang sudah tertutup oleh penyelewengan, penindasan, saling
menjegal dan merugikan. Banyak terjadi adu domba dan fitnah, menjilat,
menipu, mengambil hak orang lain sesuka hati, dan perbuatan maksiatmaksiat
lainnya.
Belakangan ini kita banyak mendengar keluhan orang tua, ahli
didik dan orang-orang yang berkecimpung dalam bidang agama dan
sosial, berkenaan dengan ula h perilaku remaja yang sukar dikendalikan,
nakal, keras kepala, berbuat kebenaran, maksiat, mabuk-mabukan, pesta
obat-obatan terlarang, melakukan tindakan indisipliner di sekolah seperti membolos sekolah, melawan guru, pelecehan seksual, malak, tawuran dan
tingkah laku penyimpangan lainnya.
Tingkah laku yang ditunjukkan oleh generasi muda harapan masa
depan bangsa itupun sungguh jumlahnya mungkin hanya sepersekian
persen dari jumlah pelajar secara keseluruhan, sungguh amat disayangkan
dan telah mencoreng kredibilitas dunia pendidikan. Para pelajar yang
seharusnya menunjukkan akhlak yang baik sebagai hasil didikan itu, justru
malah menunjukkan tingkah laku yang buruk.
Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya perilaku
menyimpang di kalangan para remaja. Diantaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, longgarnya pegangan terhadap agama. Sudah menjadi
tragedi dari dunia maju, dimana segala hampir dapat dicapai dengan ilmu
pengetahuan, sehingga keyakinan beragama mulai terdesak, kepercayaan
kepada Tuhan tinggal simbol, larangan-larangan dan suruhan-suruhan
Tuhan tidak diindahkan lagi. Dengan longgarnya pegangan seseorang
pada ajaran agama, maka hilanglah kekuatan pengontrol yang ada didalam
dirinya. Dengan demikian satu-satunya pengawas dan pengatur moral
yang dimilikinya adalah masyarakat dengan hukum dan peraturannya.
Namun biasanya pengawasan masyarakat itu tidak sekuat pengawasan dari
dalam dirinya sendiri.
Kedua, kurang efektifnya pembinaan akhlak yang dilakukan oleh
rumah tangga, sekolah, maupun masyarakat. Pembinaan moral yang
dilakukan oleh ketiga institusi ini tidak berjalan menurut semestinya.
Pembinaan di rumah tangga harus dilakukan sejak anak masih kecil,
sesuai dengan umurnya. Sekolah juga mengambil peranan yang penting
dalam pembinaan moral anak didik. Hendaknya dapat di usahakan agar
sekolah menjadi lapangan baik bagi pertumbuhan dan perkembangan
mental dan moral anak didik. Disamping tempat pemberian pengetahuan,
pengembangan bakat dan kecerdasan. Dengan kata lain, supaya sekolah
merupakan lapangan sosial bagi anak-anak, dimana pertumbuhan mental,
moral dan sosial dan segala aspek kepribadian dapat berjalan dengan baik.
Selanjutnya masyarakat juga harus mengambil peranan dalam
pembinaan moral. Masyarakat yang lebih rusak moralnya perlu segera
diperbaiki dan dimulai dari dirinya sendiri, keluarga dan orang-orang yang
terdekat dengan kita. Terjadinya kerusakan moral di kalangan pelajar dan
generasi muda sebagaimana disebutkan diatas, karena tidak efektifnya
keluarga, sekolah dan masyarakat dalam pembinaan moral. Bahkan ketiga
lembaga tersebut satu dan lainnya saling bertolak belakang, tidak seirama,
dan tidak kondusif bagi pembinaan moral.
Ketiga, derasnya arus budaya materialistis, hedonistis dan
sekularistis. Sekarang ini sudah sering kita lihat di surat kabar dan media
elektronik yang lain tentang anak-anak sekolah menengah yang ditemukan
oleh gurunya atau polisi mengantongi obat-obatan terlarang, gambargambar
cabul, alat-alat kontrasepsi dan benda-benda tajam. Semua alat
alat tersebut biasanya digunakan untuk hal-hal yang dapat merusak moral.
Namun gejala penyimpangan tersebut terjadi karena pola hidup yang
semata-mata mengejar kepuasan materi, kesenangan hawa nafsu dan tidak
mengindahkan nilai- nilai agama.
Keempat, belum adanya kemauan yang sungguh-sungguh dari
pemerintah. Pemerintah yang diketahui memiliki kekuasaan (power),
uang, teknologi, sumber daya manusia dan sebagainya tampaknya belum
menunjukkan kemauan yang sungguh-sungguh untuk melakukan
pembinaan moral bangsa. Hal yang demikian semakin diperparah lagi oleh
adanya ulah sebagian elit penguasa yang semata-mata mengejar
kedudukan, peluang, kekayaan dan sebagainya dengan cara-cara yang
tidak mendidik seperti korupsi, kolusi dan nepotisme yang hingga kini
belum ada tanda-tanda untuk hilang. Mereka asyik memperebutkan
kekuasaan, materi dan sebagainya dengan cara-cara yang tidak terpuji itu
dengan tidak memperhitungkan dampaknya bagi kerusakan moral
bangsa
Diterbitkan di: 16 Maret, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    dengan jurus yang bagaimana agar para remaja khususnya para pelajar ? Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.