Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Manusia dalam konsep Al-Quran

Manusia dalam konsep Al-Quran

oleh: SangObsesi     Pengarang : dr. LIZA
ª
 
Al-Quran banyak memberi gambaran tentang manusia antara lain sebagai berikut:
Manusia diciptakan dengan bentuk fisik yang sangat baik (S.95:4), dengan rupa yang
seindah-indahnya (S.64:3) dan dilengkapi dengan organ yang instimewa seperti
pancaindra dan hati (S.16:78), agar manusia bersyukur kepada Allah yang belah memberi
banyak keindahan dan kesempurnaan. Manusia pun diberi kemampuan berfikir untuk
memahami alam semesta (S.13:3) dan dirinya sendiri (S.30:20-21) sebagai ciptaan Allah
untuk kemudian meningkatkan keimanannya kepada Allah SWT,. Manusia mempunyai
akal untuk memahami tanda-tanda keagungan Allah, Kalbu untuk mendapatkan cahaya
yang tertinggi (S.89:27-30) dan ruh yang kepadanya Allah SWT mengambil kesaksian
manusia mengenai keesaan ilahi (S.7:72-74). Bahkan kepadanya agama sebagai tuntunan
agar hidupnya selamat dunia dan akherat.
Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah dibumi (S.2:30), dan di ciptakan Allah
bukan untuk main-main (S.23:115), melainkan untuk mengembangkan amanah (S.33:72)
dan untuk beribadah kepadaNya (S.51:56) serta selalu menegakkan kebajikan sekaligus
menghilangkan keburukan (S.3:110) dengan segala tanggung jawab (S.75:36).
Keistimewaan lain manusia adalah memiliki kebebasan luas untuk mengembangkan diri setinggi-tingginya atau serendah-rendahnya (S.91:7-10), bahkan agama pun tidak
dipaksakan kepadanya (S.2:256). Namun manusia pun dilengkapi dengan banyak
kelemahan seperti ketergesah-gesahan (S.17:11), pembantah (S.18:54), melampaui batas
(S.10:12), Kikir (S.70:19), mudah putus asa (S.41:49), selalu berkeluh kesah (S.70:20),
ingkar (S.80:17), tidak mau bersyukur (S.100:6), mudah lalai setelah mendapat nikmat
(S.17:83).
Walaupun demikian fitrah manusia adalah suci dan beriman (S.7:72). Kecenderungan
terhadap agama adalah sikap dasarnya (S.30:30), Dalam keadaan sadar ataupun tak sadar
manusia selalu merindukan Allah (S.39:8; S.39:49), taat, khusuk, tawakal dan tidak
ingkar (S. 17:66-69), terutama bila sedang mengalami malapetaka dan kesulitan hebat
(S.31:32, S.17:66).
Al-Quran juga menggolongkan manusia . yaitu: Golongan manusia yang mendapat
petunjuk yang lurus (S. 1:7) seperti para nabi (S.22:52;S.6:87), Shiddiqin (S.49
:14-18), para syuhada (S. 3:169-171), Shalihin (S.29:9), muklisin (S.23:57-61; S 29:64-
66; S.3:123), muttaqin (S.3:31), mukminin (S.3:139), dan orang-orang yang sabar
(S.3:146; S.8:46). Yang kedua golongan manusia yang tidak mendapat petunjuk, seperti
orang yang dimurkai Allah dan sesat hidupnya (S.6:144; S.9:37) seperti orang-orang
fasik (S. 5:108; S.9:80), zalim (S.6:144 ; S .9:37), kafir (S. 5:67; S.9:37) , musyrik
(S.4:48-52; S.4:226-121) dan orang munafik (S.2: 8 – 16).
Beberapa ayat al-Qur’an dan al-Hadits yang menjadi landasan utama bagi para
psikolog Islam telah memberikan informasi tentang telah dimulainya kehidupan manusia
sejak janin berada dalam kandungan ibunya. Mujib dan Muzakir, berpendapat bahwa
sejumlah ayat dan hadits secara tidak langsung telah disebutkan bahwa selama periode
prenatal individu tidak hanya mengalami perkembangan fisik melainkan sekaligus
mengalami perkembangan psikologi.
QS 22: 5. Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari
kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah,
kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal
daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan
kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai
waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi,kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di
antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan
umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya
telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami
turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai
macam tumbuh-tumbuhan yang indah.
Dari Ayat diatas terlihat bahwa manusia tersusun dari unsur materi dan imateri,
jasmani dan Rohani, Tubuh manusia yang berasal dari tanah dan ruh atau jiwa berasal
dari substansi imateri di alam gaib. Tubuh pada akhirnya akan kembali menjadi tanah
atau jiwa akan pulang ke alam Gaib. 3
Tubuh kita yang mempunyai daya fisik atau jasmani, yang terdiri dari indra
penglihatan, penciuman, perasa, perabaan, pendengaran, daya gerak. Semuanya
berhubungan dengan unsur-unsur materi. Manusia adalah mahluk somato-psiko-sosialspiritual,
yang terdiri dari fisik, jiwa , spiritual, dan mahluk yang harus berinteraksi
secara sosial dengan orang lain yang keempatnya saling berinteraksi karena unsur-unsur
tersebut saling berkait, dan saling mempengaruhi sejak saat pembuahan sampai akhir
hayatnya. Semua permasalahan yang timbul harus dicari keterkaitannya dengan melihat
keempat unsur tersebut, agar pemecahannya masalah manusia lebih optimal
Menurut Nasution dalam Ruh atau jiwa ada yang disebut al-Nafs mempunyai dua
daya, daya pikir yang disebut akal yang berpusat di kepala dan daya rasa yang berpusat
dikalbu yang berpusat di dada. Daya rasa yang berpusat didada dipertajam dengan ibadah
(shalat, puasa, haji, zakat), karena intisari dari semua ibadah dalam islam adalah
mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha Suci. Yang maha Suci hanya dapat
didekatkan oleh ruh yang suci. Ibadah adalah latihan menyucikan ruh atau jiwa. Makin
banyak seseorang beribadah secara iklash, makin suci pula jiwa dan ruhnya. Daya pikir
atau akal berpusat dikepala dalam sejarah islam diperkuat oleh dorongan ayat-ayat
kauniah. Nasution menambahkan jadi manusia menurut ajaran Islam, tersusun dari unsur
materi , yaitu tubuh yang mempunyai hayat dan unsur imateri yaitu roh yang mempunyai
dua daya, daya rasa di dada dan daya pikir dikepala. Daya rasa, jika diasah dengan baik,mempertajam hari nurani dan daya pikir , jika dilatih, mempertajam penalaran.(Nasution,
1996:38)
Diterbitkan di: 09 Maret, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.