Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Apresiasi Sastra

oleh: Aamprogresif     Pengarang : Farida Nugrahani
ª
 

Apabila sastra dilihat sebagai sistem tanda karya seni yang pada umumnya
bermediakan bahasa, dan hadir untuk dibaca, dinikmati, dan dimanfaatkan, maka
pembelajaran sastra seharusnya ditekankan pada apresiasi. Menurut Hornby (dalam
Suminto A. Sayuti, 2000: 2), secara leksikal istilah apresiasi (appreciation) mengacu pada
pengertian pemahaman dan pengenalan yang tepat, pertimbangan, penilaian, dan
pernyataan, yang memberikan penilaian.
Istilah apresiasi dapat dimaknai dengan pernyataan seseorang yang secara sadar
merasa tertarik dan senang kepada sesuatu, serta mampu menghargai dan memandang hal
yang dipilihnya itu mengandung nilai-nilai yang bermanfaat dalam kehidupannya.
Menurut Suminto A. Sayuti (2000: 4), apabila sastra dipandang sebagai penjelmaan
pengalaman sastrawan ke dalam medium bahasa sehingga membentuk struktur yang
rumit, apresiasi sastra dapat diartikan sebagai kegiatan mengenali, memahami, dan
menikmati pengalaman dan bahasa yang menjadi jelmaan pengalaman tersebut, serta
hubungan antara keduanya dalam stuktur keseluruhan yang terbentuk. Boen S.
Oemarjati (2005: 3) menjelaskan, bahwa apresiasi berarti merespon dengan kemampuan
afektif, memahami nilai-nilai, sekaligus berupaya memetakan pola dan tata nilai yang
diperoleh dari karya sastra yang diapresiasi ke dalam proporsi yang sesuai dengan
konteks persoalannya.
Berdasarkan batasan-batasan apresiasi yang telah diuraikan tersebut, dapat
disampaikan bahwa apresiasi sastra dapat dimaknai dengan kegiatan memahami karya
sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, pikiran kritis,
dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra.
Adapun langkah-langkah dalam apresiasi sastra menurut Suminto A. Sayuti
(2000: 5-7), meliputi: (1) interpretasi atau penafsiran, yaitu upaya memahami karya sastra
dengan memberi tafsiran berdasarkan sifat karya itu; (2) analisis, yaitu
penguraian karya sastra atas bagian-bagian atau norma-normanya; dan (3) penilaian,
yaitu menentukan kadar keberhasilan atau keindahan karya sastra yang diapresiasi.
Kurikulum berbasis kompetensi menuntut pembelajaran sastra yang apresiatif,
agar wawasan dan kepekaan perasaan siswa dapat dikembangkan. Melalui pembelajaran
sastra yang apresiatif, diharapkan siswa memiliki rasa cinta terhadap sastra, dan sampai
pada kesadaran yang lebih baik terhadap diri dan masyarakat sekitarnya.
Maman Suryaman dan Felicia Nuradi (2005: 15) menjelaskan, bahwa dalam
kurikulum berbasis kompetensi, pembelajaran apresiasi sastra memiliki target
penguasaan tiga kompetensi, yaitu: (1) kompetensi penghayatan atau apresiasi; (2)
kompetensi ekspresi; dan (3) kompetensi kreasi (produktif). Adapun proses
pembelajarannya dapat disampaikan melalui empat keterampilan berbahasa, meliputi
keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan
keterampilan menulis.
Melalui pembelajaran keterampilan menyimak dan membaca, siswa dapat
mengembangkan kemampuannya dalam menikmati, menghayati dan memberikan
penilaian terhadap karya sastra. Sementara itu, melalui pembelajaran keterampilan
berbicara dan keterampilan menulis, siswa dapat mengekspresikan kemampuannya dalam
bersastra melalui kegiatan mencipta berbagai macam karya sastra, bagaimanapun bentuk
dan kualitas hasilnya.
Kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sastra diharapkan dapat terwujud
dalam berbagai bentuk, antara lain kegemarannya dalam membaca karya sastra,
kemampuannya dalam membaca dan menulis puisi, keterampilannya dalam memerankan
karakter tokoh dalam drama, kegemarannya dalam menonton pentas drama, dan
keterampilannya dalam menganalisis atau menilai karya sastra. Kemampuan apresiasi
tersebut dapat dicapai oleh siswa apabila dirinya terlibat langsung dan bergaul dengan
karya sastra, melalui pengalaman belajar nyata, dengan membaca dan menikmati karya
sastra secara utuh, bukan hanya melalui sinopsisnya atau teori-teori yang disampaikan
dalam buku-buku pelajaran saja.
Kurikulum berbasis kompetensi menyarankan agar pembelajaran sastra yang
diselenggarakan di sekolah bersifat responsif dan kolaboratif. Pembelajaran yang
responsif dan kolaboratif itu, antara lain dapat terlaksana apabila dimulai dengan kegiatan
membaca karya sastra secara intensif. Namun ditegaskan oleh Teeuw (1991: 12-15),
bahwa membaca dan menilai karya sastra itu bukan pekerjaan yang mudah, sebab
diperlukan pengetahuan yang cukup tentang sistem kode yang rumit, kompleks, dan
beraneka ragam.
Berbagai kode yang harus dipahami oleh para pembaca sastra, adalah kode bahasa,
kode budaya, dan kode sastra. Kode bahasa perlu dikuasai oleh pembaca, agar dirinya
berhasil dalam mengapresiasi karya sastra tersebut, sebab pada dasarnya setiap karya
sastra itu memiliki keunikan yang sebagian di antaranya diungkapkan melalui bahasa.
Bahasa dalam karya sastra telah dieksploitasi melalui proses kreatif untuk mendukung
fungsi tertentu. Untuk dapat memahami maknanya, seseorang perlu memahami dahulu
konvensi bahasa yang umum, yang dimungkinkan oleh kaidah tersebut.
Kode budaya adalah pemahaman terhadap latar kehidupan, konteks, dan sistem
sosial budaya. Menurut Chapman (1980: 26), kelahiran karya sastra diprakondisikan oleh
kehidupan sosial budaya pengarangnya. Karena itu, sikap dan pandangan pengarang dalam
karyanya mencerminkan kehidupan sosial budaya masyarakatnya. Sejalan dengan itu,
Rachmat Djoko Pradopo (2001: 55- 56), menyatakan bahwa karya sastra sebagai tanda
terikat pada konvensi masyarakatnya, karena merupakan cermin realitas budaya
masyarakat yang menjadi modelnya.
Adapun kode sastra adalah kode yang berkenaan dengan hakikat, fungsi sastra,
karakteristik sastra, kebenaran imajinatif dalam sastra, sastra sebagai sistem semiotik,
sastra sebagai dokumen sosal budaya, dan sebagainya. Menurut Teeuw (1991: 14),
sesungguhnya kode sastra itu tidak mudah dibedakan dengan kode budaya, meskipun
begitu, pada prinsipnya keduanya tetap harus dibedakan dalam kegiatan membaca dan
memahami teks sastra.
Diterbitkan di: 21 Februari, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    Suminto A. Sayuti (2000: 4) Boen S. Oemarjati (2005: 3) Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    daftar pustakanya donkk... plissss... Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    kok ga ada daftar pustakanya??????????????? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    BAGAIMANA CARA MENGAPRESIASI SUATU PUISI? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    bagaimana cara menulis dalam mengapresiasi suatu drama??? kalau bisa tolong kasik contoh ya.... terima kasih. Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    bagaimana cara menulis dalam mengapresiasi suatu drama? Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.