Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Kaidah Teks Drama

oleh: Aamprogresif     Pengarang : Zulfah Muyassaroh
ª
 

Apabila menyebut istilah drama, maka kita berhadapan dengan dua
kemungkinan, yaitu drama naskah dan drama pentas. Keduanya bersumber pada
drama naskah.
Drama berasal dari bahasa Yunani ”draomai” yang berarti berbuat, berlaku,
bertindak, atau beraksi. Drama berarti perbuatan, tindakan atau action. Drama
naskah merupakan salah satu genre sastra yang disejajarkan dengan puisi dan
prosa. Drama naskah dapat diberi batasan sebagai salah satu jenis karya sastra
yang ditulis dalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik batin dan
mempunyai kemungkinan untuk dipentaskan (Waluyo 2001:2).
Drama naskah disebut juga sastra lakon. Sebagai salah satu genre sastra,
drama naskah dibangun oleh struktur fisik (kebahasaan) dan struktur batin
(semantik, makna). Wujud fisik sebuah naskah adalah dialog atau ragam tutur.
Ragam tutur itu adalah ragam sasatra. Oleh karena itu, bahasanya dan maknanya
tunduk pada konfensi sastra, yang menurut Teeuw meliputi hal-hal berikut ini.
1. Teks sastra memiliki unsur atau struktur batin atau intern structure relation,
yang sebagian-bagiannya saling menentukan dan saling berkaitan
2. Naskah sastra juga memiliki struktur luar atau extern structure relation, yang
terikat oleh bahasa pengarangnya
3. Sistem sastra juga merupakan model dunia sekunder, yang sangat kompleks
dan bersusun-susun. Selanjutnya Teeuw juga menyebutkan tiga ciri khas karya
sastra, yaitu 1) teks sastra merupakan keseluruhan yang tertutup, yang
batasannya ditentukan dengan kebulatan makna, 2) dalam teks sastra
24
ungkapan itu sendiri penting, diberi makna, disemantiskan segala aspeknya, 3)
dalam memberi makna itu di satu pihak karya sastra terkait oleh konvensi,
tetapi di lain pihak menyimpang dari konvensi dengan pembaharuan, antara
mitos dengan kontra mitos (Teeuw dalam Waluyo 2001:7).
Dalam penyusunan naskah, pembabakan plot itu biasanya diwujudkan dalam
babak dan adegan. Perbedaan babak berarti perbedaan setting, baik berarti waktu,
tempat, maupun ruang. Perbedaan itu cukup baralasan karena setting berubah
secara fundamental. Babak-babak itu dibagi-bagi menjadi adegan-adegan.
Pergantian adegan yang satu dengan yang lain mungkin karena masuknya tokoh
lain dalam pentas, kejadian dalam waktu yang sama, tetapi peristiwannya lain,
ataupun karena kelanjutan satu peristiwa yang tidak memerlukan pergantian
setting (Waluyo 2001:12).
Dengan demikian, drama sebagai karya sastra hampir sama dengan karya sasta
dalam prosa. Keduanya sama-sama menceritakan tentang tokoh, konflik, setting,
dan amanat yang ingin disampaikan. Perbedaanya prosa disampaikan secara
naratif sedangkan drama disajikan dalam bentuk dialog.
Drama juga disajikan dalam bentuk babak dan adegan. Babak sama dengan
bagian, setiap babak terdiri atas beberapa adegan. Dan ciri adegan biasanya
ditandai dengan adanya pergantian pelaku dan peristiwa.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam penulisan teks
drama harus memperhatikan kaidah teks drama yang meliputi: 1) teks drama
disajikan dalam bentuk babak dan adegan, 2) ada kemungkinan untuk dipentaskan
dalam teks drama yang disajikan.
Diterbitkan di: 21 Februari, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
  1. 1. mustofa

    sumber

    sumbernya mana ini,, jadi bisa baca bukunya

    0 Nilai 11 Oktober 2011
X

.