Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Kriteria Penilaian Dalam Pembelajaran Menulis Teks Drama

Kriteria Penilaian Dalam Pembelajaran Menulis Teks Drama

oleh: Aamprogresif     Pengarang : Zulfah Muyassaroh
ª
 

Sistem penilaian yang digunakan dalam pembelajaran menulis teks drama
ini adalah penilaian proses dan hasil. Hal ini, diharapkan dapat menciptakan
pembelajaran dengan hasil yang memuaskan atau berkualitas. Sesuai dengan
pendapat Mulyasa (2002:102) yang menyatakan bahwa kualitas pembelajaran
dapat dilihat dari segi proses dan hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan
berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar
(75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental atau sosial dalam
proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan yang tinggi semangat
yang besar, dan rasa percaya diri sendiri. Dari segi hasil, proses pembelajaran
dikatakan berhasil jika terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri pserta
didik seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) lebih lanjut
pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas jika masukan merata,
menghasilkan output yang banyak dan bermutu tinggi, sesuai dengan
kebutuhan/perkembangan masyarakat dan pembangunan.
Penilaian proses dilakukan dengan menilai perilaku siswa pada saat
pembelajaran berlangsung, yang dapat diambil melalui data observasi, jurnal, dan
wawancara. Penilaian hasil dilakukan dengan menilai teks drama yang ditulis oleh
siswa dengan menitikberatkan pada aspek tema, aspek setting atau latar, aspek
konflik, aspek penokohan, dan aspek bahasa. Berikut ini adalah kriteria yang
digunakan dalam penilain teks drama siswa.
35
1) Tema
Tema merupakan ide dasar yang melandasi pemaparan suatu cerita. Dalam
hal ini, tema yang diangkat harus selaras dengan pengembangan dari berbagai
pokok permasalahan yeng terdapat di dalam cerita tersebut.
2) Setting
Termasuk dalam setting atau latar adalah latar berupa peristiwa, benda,
objek, suasana, maupun situasi tertentu. Untuk setting atau lattar kriteria penilaian
menitikberatkan pada penggambaran setting secara ringkas, jelas, dan hidup.
Karena setting dalam drama selain berfungsi untuk menghidupkan cerita, juga
dimanfaatkan untuk menggambarkan gagasan tertentu secara tidak langsung.
3) Konflik
Dasar teks drama adalah konflik manusia yang digali dari kehidupan.
Konflik manusia biasanya muncul akibat dari adanya pertentangan antara tokoh
yang satu dengan yang lainnya. Untuk itu kriteria penilaian konflik
menitikberatkan pada terciptanya konflik yang tajam dan jelas. Konflik dikatakan
tajam dan jelas apabila konflik yang diciptakan semakin lama semakin meningkat
sampai klimaks. Jadi di dalam cerita tersebut konflik diciptakan tahap demi tahap
mulai dari tahap pengenalan kemudian muncul peristiwa awal, kemudian ditengah
cerita terjadi kerumitan sampai klimaks. Dengan munculnya klimaks tersebut
konflik yang terjadi akan mulai reda dengan adanya peleraian yang akhirnya
sampai pada penyelesaian.
36
4) Penokohan atau perwatakan
Unsur utama dalam karya drama adalah pelaku yang berfungsi untuk (1)
menggambarkan peristiwa melalui lakuan, dialog, dan monolog, (2) menampilkan
gagasan penulis naskah secara tidak langsung, (3) membentuk rangkaian cerita
sejalan dengan peristiwa yang ditampilkan, dan (4) menggambarkan tema yang
dipaparkan penulis naskah melalui cerita yang ditampilkan. Fungsi tersebut dapat
memberikan gambaran bahwa untuk memahami peristiwa, gagasan pengarang,
rangkaian cerita, dan tema dalam suatu naskah drama, maupun karya pementas
drama terlebih dahulu memahami lakuan, dialog, pikiran, suasana batin, dan hal
lain yang berhubungan dengan pelaku.
Berdasarkan fungsi tersebut kriteria penilaian untuk penokohan atau
perwatakan difokuskan pada karakter tokoh yang digambarkan secara jelas agar
pelaku yang ditampilkan dapat memberikan efek yang nyata dan menarik.
Penggambaran pelaku dapat dilakukan melalui penggambaran pikiran, sikap,
suasana batin, perilaku, cara berhubungan dengan orang lain, dialog, monolog,
komentar atau penjelasan langsung dengan bahasa yang sesuai dengan karakter
masing-masing tokoh.
5) Bahasa
Dalam karya drama penggunaan gaya bahasa berfungsi untuk (1)
memaparkan gagasan secara lebih hidup dan menarik, (2) menggambarkan
suasana lebih hidup dan menarik, (3) untuk menekankan suatu gagasan, (4) untuk
menyampaikan gagasan secara tidak langsung. Oleh karena itu, kriteria penilaian
untuk penggunaan gaya bahasa menitikberatkan pada pengguaan gaya bahasa
37
yang dapat menggambarkan setiap karakter tokoh yang berbeda. Karena melalui
gaya bahasa yang digunakan oleh masing-masing karakter tokoh yang berbeda
dapat menggambarkan suasana maupun peristiwa yang sedang terjadi dalam cerita
tersebut sehingga pembaca atau penonton dapat merasakan situasi tersebut.
Drama berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat,
berlaku, bertindak, atau beraksi. Drama berarti perbutan, tindakan atau action.
Drama naskah merupakan salah satu genre sastra yang disejajarkan dengan puisi
dan prosa. Drama naskah dapat diberi batasan sebagai salah satu jenis karya sastra
yang ditulis dalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik batin dan
mempunyai kemungkinan dipentaskan (Waluyo 2001:2).
Dalam penyusunan naskah, pembabakan plot itu biasanya diwujudkan
dalam babak dan adegan. Perbedaan babak berarti perbedaan setting, baik berarti
waktu, tempat, maupun ruang. Perbedaan itu cukup beralasan karena setting
berubah secara fundamental. Babak-babak itu dibagi-bagi menjadi adegan-adegan.
Pergantian adegan yang satu dengan dengan yang lain mungkin karena masuknya
tokoh lain dalam pentas, kejadian dalam waktu yang sama, tetapi peristiwanya
lain, ataupun karena kelanjutan satu peristiwa yang tidak memerlukan pergantian
setting (Wluyo 2001:12).
Dengan demikian, drama sebagai karya sastra hamper sama dengan karya
sastra dalam prosa. Keduanya sama-sama menceritakan tentang tokoh, konflik,
setting, dan amanat yang ingin disampaikan. Perbedaanya prosa disampaikan
secara naratif sedangkan drama disajikan dalam bentuk dialog.
38
Drama juga disajikan dalam bentuk babak dan adegan. Babak sama
dengan bagian, setiap babak terdiri atas beberapa adegan. Dan cirri adegan
biasanya ditandai dengan adanya pergantian pelaku dan peristiwa.
Berdasarkan uraian di atas criteria penilaian dalam kaidah penulisan teks
drama yang sesuai difokuskan pada:
1. Teks drama yang disajikan dalam bentuk babak
2. Ada kemungkinan untuk dipentaskan.
Diterbitkan di: 21 Februari, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    format penilaiannya seperti apa? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    saya mw nanya.. apakah di SMP kelas VIII itu Sdah dpat meNulis naskah drama???? ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    SUDAH, DIKARENAKAN SUDAH DAPAT MENULIS + MEMBACA...:D 26 Januari 2013
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    Fungsi teks utama dalam naskah drama Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    cara mengapresiasi drama Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    sebutkan contoh teks drama ? Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.