Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pendidikan>Karoshi....kerja sampai mati

Karoshi....kerja sampai mati

oleh: saripoelman     Pengarang : saripoelman
ª
 
Karoshi atau mati karena berlebihan dalam bekerja, memang betul-betul nyata di Jepang.

Kasus pertama terjadi tahun 1969 dan berkelanjutan hingga sekarang. Sejak Bubble Economy melanda Jepang, semangat kerja melanda semua perusahaan untuk tetap bertahan dan berjuang untuk menjadi lebih baik.

Kerja yang terlalu "over dosis" memang menimbulkan beragam efek sampingan. Stress dan tekanan secara terus menerus di tempat kerja dapat berakhir dengan serangan jantung, stroke bahkan hingga bunuh diri.
Setiap tahun 1.000 orang yang merasa menjadi korban karoshi mengajukan permohonan ganti rugi, hanya 5 s/d 10% yang berhasil mendapatkannya.

Tahun 1988, dokter dan pengacara yang terlibat dengan kasus karoshi membuat saluran
on line khusus untuk kasus karoshi. Hingga saat ini sudah menerima 2.500 kasus, yang diajukan oleh para janda korban karoshi. Diperkirakan sekitar 10.000 orang menjadi korban setiap tahunnya.

Bagaimana kategori karoshi di tempat kerja?
ayo kita coba belajar dari kasus yang ada :

Mr. Kanameda, bekerja di perusahaan pengolah makanan selama 110 jam/ minggu, dan meninggal karena serangan jantung di usia 34 tahun.
Jika 1 minggu terdiri dari 7 hari kerja tanpa istirahat, maka ----> 110 : 6 = <b>15,7 jam / hari

Mr.Miyazaki, bekerja di perusahaan percetakan di Tokyo selama 4.320 jam setahun, termasuk kerja malam, dan meninggal karena stroke di usia 58 tahun.
Jika 1 tahun terdiri dari 365 hari kerja tanpa istirahat, maka ---> 4.320 : 365 = <b>11.8 jam / hari

Kalau sebanyak itu jam kerjanya, tidak heran korban akan terus berjatuhan gara-gara karoshi.

Jam kerja yang umumnya berlaku di Jepang adalah jam 8:00 pagi s/d jam 5:00, atau 8 jam sehari, hari Senin s/d Jumat. Sabtu dan Minggu adalah hari libur, tetapi pada kenyataanya karena kalender kerja perusahaan berbeda dengan kalender nasional, maka kerap hari Sabtu adalah hari kerja.
Di Jepang, setiap perusahaan mengeluarkan kalender kerja sendiri, dengan hari libur yang sudah disesuaikan dengan produktivitas perusahaan. Jadi hari libur setiap perusahaan berbeda-beda, tergantung kebijaksanaan manajemennya masing-masing.

Dari 2 kasus tadi bisa dilihat berapa kelebihan jam kerja dari pekerja Jepang, yang berakibat dengan kematian. Hingga sekarang kasus overtime sudah menjadi hal biasa di Jepang. Pegawai Fuji Bank Tokyo (bank terbesar di Jepang), melaporkan bahwa pekerja pria bekerja 3.000 jam/ tahun (8,1 jam setiap hari selama setahun), dengan 700 jam kerja tanpa dibayar.

Dengan cara kerja seperti ini, tidak heran kalau pada akhirnya Jepang menduduki peringkat ke 3 dunia, dalam PDB (Produk Domestik Bruto) tahun 2003.

Motivasi kerja seperti ini mungkin patut ditiru oleh tenaga kerja di Indonesia, asal jangan sampai karoshi....

Diterbitkan di: 09 April, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.