Hadis Tentang Muhammad Penutup Para Nabi Dalam artikel kali ini akan mengutip beberapa Hadis
yang mengatakan bahwa Muhammad bin Abdullah Saw. adalah penutup para nabi.
Ibnu Katsir ra. berkata, “Ayat ini merupakan nash bahwa tidak ada nabi setelah beliau. Jika tidak ada nabi setelah beliau maka lebih utama dan lebih patut untuk tidak ada rasul setelahnya. Sebab kedudukan rasul lebih khusus dari kedudukan nabi dan setiap Rasul adalah nabi dan tidak sebaliknya. Tentang hal ini telah datang hadis-hadis yang mutawatir dari Muhammad saw. dari sekelompok sahabat.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Dari Hadis Abu Hurairah ra. bahwa Muhammad saw. bersabda, “Permisalanku dan permisalan para nabi adalah seperti sebuah istana yang bangunannya indah dan ditinggalkan satu tempat batu bata. Maka orang-orang pun berkeliling melihatnya, lalu mereka kagum terhadap keindahan bangunannya kecuali tempat batu bata tersebut. Mereka tidak mencela selain itu. Maka aku adalah tempat batu bata tersebut, telah ditutup para rasul dengan diutusnya aku.” (HR. Ibnu Hibban no. 6406 dengan sanad yang sahih. Juga diriwayatkan dari hadis Ubay bin Kaab ra., diriwayatkan oleh Ahmad, 5/136, At-Tirmidzi: 3613, Adh-Dhiya’ al-Maqdisi dalam al-Mukhtarah: 1191)
Dari Hadis Anas bin Malik ra. bahwa Muhammad Saw. bersabda, “Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada Rasul setelahku dan tidak pula nabi.” (HR. at-Tirmidzi no. 2272, Ahmad, 3/267, Al-Hakim dalam al-Mustadrak. Disahihkan oleh al-Albani rahimahullahu dalam Sahih at-Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Muhammad Saw. bersabda, “Aku lebih diutamakan atas para nabi dengan enam perkara: 1) Aku diberi jawami’ul kalim (kalimat ringkas namun mengandung faedah yang banyak), 2) aku ditolong dengan rasa takut musuh (dari jarak perjalanan sebulan), 3) dihalalkan bagiku harta rampasan perang, 4) dijadikan bumi ini bagiku sebagai alat bersuci dan tempat salat, 5) aku diutus kepada seluruh makhluk, 6) dan telah ditutup para nabi dengan diutusnya aku.” (HR. Muslim no. 523)
Dari Jubair bin Muth’im ra. bahwa Muhammad Saw. bersabda, “Aku adalah Muhammad, dan aku adalah Ahmad, aku adalah al-Mahi (yang menghapus) yang kekafiran dihapuskan melalui (perantaraan) aku, aku adalah al-Hasyir yang mana manusia dikumpulkan (setelah tegaknya hari kiamat) setelah diutusnya aku, dan aku adalah al-‘Aqib (penutup) yang tidak ada nabi setelahnya.” (HR. Al-Bukhari no. 3339 dan Muslim no. 2354)
Nash-nash ini menunjukkan bahwa siapa saja yang mengaku sebagai nabi setelah diutusnya Muhammad saw. maka dipastikan dia adalah seorang pendusta dan Dajjal yang menyesatkan umat ini. Walaupun dia berusaha menipu umat dengan mendatangkan sesuatu yang luar biasa, seperti terbang di udara atau berjalan di atas air. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadis Abu Hurairah ra.:
“Tidak tegak hari kiamat hingga dimunculkan para Dajjal dan pendusta yang berjumlah kurang lebih tiga puluh yang seluruhnya mengaku bahwa dia adalah utusan Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 3413, Muslim no. 2923)
Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullahu menjelaskan ucapan Abu Ja'far tersebut: “Berdasarkan (hadis) yang sahih bahwa beliau adalah penutup para nabi, diketahuilah bahwa siapa saja yang mengaku nabi setelahnya maka dia pendusta. Jika ada yang mengatakan: ‘Jika ada seseorang mengaku sebagai nabi dengan mendatangkan berbagai mukjizat yang luar biasa dan hujjah yang benar, maka bagaimana mungkin didustakan?’ Kami kemudian mengatakan, ‘Ini tidak bisa terbayangkan wujudnya. Dan ini termasuk memberi anggapan tentang sesuatu yang mustahil. Sebab Allah SWT telah mengabarkan bahwa beliau adalah penutup para nabi. Adalah hal yang mustahil bila ada seseorang datang dan mengaku sebagai nabi lalu tidak tampak padanya tanda-tanda pendustaan pada pengakuannya.’” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, 1/167)
Surabaya, 26 Februari 2009
Dozi Swandana, S.S.
e-mail: mas.zie@yahoo.com