Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas model belajar konstruktivis terhadap miskonsepsi siswa ditinjau dari
penalaran formal siswa yang dilakukan di SLTP Negeri 4 Busungbiu semester kedua tahun pelajaran 2002/2003, dengan rancangan pra-tes post-tes kelompok kontrol tanpa diacak dan faktorial 2x2. Pra-tes digunakan untuk menyetarakan pengetahuan awal kedua kelompok sedangkan post-tes digunakan untuk mengukur miskonsepsi siswa.
Cluster random sampling digunakan untuk memilih dua kelas sebagai sampel. Satu kelas dipilih sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas sebagai kelompok kontrol. Pengetahuan awal dan miskonsepsi siswa yang berkaitan dengan konsep tekanan ditelusuri dengan tes diagnostik, peta konsep dan interview klinis. Penalaran siswa diukur dengan tes
penalaran formal dari teori Piaget dan Inhelder.
Hasil penelitian ini adalah: (1) pengetahuan awal dan miskonsepsi siswa berkaitan dengan konsep tekanan antara lain : volume dan berat benda bersifat kekal; semakin besar luas penampang benda yang bersentuhan maka tekanan yang diteruskan juga semakin besar; tenggelam, melayang, dan terapung dipengaruhi oleh berat benda; benda berat pasti akan tenggelam; zat padat pasti akan tenggelam; tekanan zat cair terbesar berada pada permukaan atas karena memiliki energi potensial maksimum; tekanan udara dalam ruang tertutup hanya dipengaruhi oleh kalor/panas yang diterima; semakin besar volume gas maka tekanannya semakin besar; tekanan udara luar bersifat seragam pada setiap tempat, (2) melalui analisis varian dua jalur dan uji Tukey diperoleh bahwa miskonsepsi siswa yang mengikuti model belajar konvensional lebih tinggi daripada siswa yang mengikuti model belajar konstruktivis ditinjau dari penalaran formal siswa, temuan tersebut memberi petunjuk tidak adanya interaksi antara model pembelajaran dengan penalaran formal siswa dalam mengubah miskonsepsi siswa.
Sehubungan dengan temuan penelitian, maka diajukan saran agar guru menggunakan pengetahuan awal dan miskonsepsi siswa sebagai pertimbangan merancang dan mengimplementasikan program pembelajaran, serta menyiapkan strategi pengubahan konsepsi dalam upaya mengubah miskonsepsi siswa menuju konsepsi ilmiah. Model belajar konstruktivis perlu dikembangkan sebagai salah satu inovasi penting dalam pembelajaran fisika.