Bayangkan
saja, prestasi apa atau
produktivitas macam apa yang bakal dicapai,
bila terus berperilaku malas semacam itu. Tapi perilaku ini bukanlah
kartu mati yang tidak bisa diubah.
Hampir
setiap orang pernah dihinggapi “penyakit” malas terhadap pekerjaan atau
tugas tertentu. Perilaku ini tumbuh lantaran salah persepsi terhadap
pekerjaan tersebut. Pengaruhnya sangat besar pada produktivitas.
Lantas, apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya?
Motivasi
Seseorang
bisa berperilaku malas terhadap suatu pekerjaan atau kegiatan karena
tidak memliki motivasi untuk melakukan pekerjaan atau kegiatan itu.
Dalam psikologi, seseorang berperilaku tertentu karena adanya energi
yang mendorongnya untuk berperilaku. Energi inilah yang disebut motivasi, yakni yang mendorong seseorang bertingkah laku mencapai suatu tujuan. “Orang jawa sering menyebutnya sebagai niat ingsun.
Motivasi
dipengaruhi oleh suatu sikap yang tedapat dalam diri orang itu. Sikap
itu timbul lantaran adanya persepsi atau pemberian makna terhadap suatu
objek atau peristiwa. Persepsi atau pemberian makna tersebut ditentukan
oleh suatu sistem nilai, yakni suatu patokan untuk berperilaku yang
berlaku pada suatu lingkungan tertentu. Sisitem nilai yang tertanam
dalam diri seseorang ini dipengaruhi oleh budaya, masyarakat, dan orang
tua.
Dalam
hal ini, malas belajar, berdiskusi, atau mencari pekerjaan yang
ditunjukkan terjadi lantaran tidak memiliki motivasi untuk melakukan
tugas. Ini akibat sikap terhadap kegiatan itu negatif atau
positif-negatif. Sikap tersebut muncul karena dibenaknya tertanampersepsi
yang salah terhadap tugas-tugas yang diberikan. Umpanya, belajar atau
berdiskusi itu melelahkan atau tak ada gunaya, dan mencari kerja
buang-buang tenaga saja bila tidak punya koneksi. Persepsi semacam itu
bisa terjadi kalau lingkungan sekitar yang ada kurang tertanam budaya
belajar, berdiskusi, atau hampir semua rekan mereka memperoleh
pekerjaan berkat bantuan orang lain atau uang sogok.
Ada
suatu contoh di masyarakat antara lain. Salah satu etnis di Indonesia
terkenal rajin dan serius dalam bekerja. Perilaku ini muncul lantaran
mereka memiliki suatu sistem nilai bahwa kalau ingin hidup layak,
mereka harus bekerja keras. Sistem nilai itu telah ditanam oleh orang
tua sejak kecil dalam perilaku sehari-hari, baik dalam memarahi,
memberi nasihat, atau memberi suatu contoh. Lingkungan budaya etnis ini
juga memberi teladan. Mereka yang hidup layak ya karena mereka bekerja
keras. Sebaliknya, yang berkekurangan lantaran tidak mau bekerja keras.
Dengan
sistem nilai itu, mereka mempunyai persepsi atau memberi makna bahwa
pintar menjahit, membuat tahu, atau berdagang, bakal bisa menghidupi
mereka. Bukan menyengsarakan. Jadi mereka akan serius dalam melakukan
tugas itu. “Mereka percaya, apa saja bisa menjadi duit, asal dikerjakan
dengan sungguh-sungguh.”
Dengan
begitu, sikap mereka dalam bekerja sangat positif. “Kalau mengerjakan
sesuatu, niat mereka sangat kuat, energinya kuat. Akhirnya, mereka
berperilaku rajin bekerja.”
Bisa diubah
Kalau
seseorang malas terhadap suatu pekerjaan, artinya motivasi dia terhadap
pekerjaan tersebut sangat rendah. Skikapnya terhadap pekerjaan itu
negatif akibat persepesi yang diberikannya terhadap pekerjaan itu
kurang baik. Ini lantaran sistem nilai yang ada dalam dirinya membuat
dia berperilaku malas untuk melakukan pekerjaan itu. Sementara terhadap
pekerjaan lainnya mungkin tidak begitu.
Jadi, perilaku malas adalah hasil suatu bentukan. Artinya, perilaku itu bisa dibentuk kembali menjadi baik atau tidak malas.
Salah
satu bukti bahwa perilaku bisa dibentuk lagi bisa ditemukan pada pelaku
tindak kriminal seperti pembunuh atau perampok. Ada mantan narapidana
kini menjadi tokoh agama atau pengusaha yang baik. Padahal, dulunya
mereka perampok, pembunuh, atau pelaku tindak kriminal lain. Atau
sebaliknya, orang baik-baik berubah jadi berperilaku buruk.
Bagi
orang tua yang mengalami masalah-masalah kemalasan anak, tak perlu
risau. Seseorang yang terlanjur berperilaku malas biasa dibentuk
kembali menjadi tidak malas. Namun, itu tergantung anak atau orangnya.
“Kalau anaknya masih SD, ya masih mudah dibentuk. Tapi kalau anak
remaja umumnya apa yang dikatakan orang tua, masuk telinga kanan keluar
telinga kiri. Jadi, yang harus kita bentuk adalah lingkungan teman. Peer group -nya
kita rangkul dan pemberian makna terhadap suatu pekerjaan atau sekolah
harus kita ubah. Yang tadinya ‘belajar itu suatu kewajiban
Jadi,
perilaku manusia pada dasarnya dapat diubah. “Namun, ada hal yang tidak
dapat diubah, yakni perilaku-perilaku yang erat kaitannnya dengan
fisik. Misalnya, seseorang yang berkaki panjang sebelah. Kalau dia
disuruh berperilaku jalan nomal, dia tidak bakal bisa melakukannya.
Seseorang yang memiliki penyakit tekanan darah tinggi, dia akan mudah
marah atau waswas. Ini juga tidak dapat diubah. Seseorang yang
kecerdasannya rendah karena sel-sel otak tidak berkembang dengan baik
ketika masih kecil, sulit melakukan pekerjaan yang mengandung pemecah
masalah. Jangan beri dia tugas seperti itu.
Solusi dan Teori
Ada
beberapa teori yang bisa digunakan untuk melakukan pembentukan perilaku
seseorang. Teori ini kira-kira senada dengan pepatah “Dia bisa karena
bisa.”
Yang
paling cocok adalah teori belajar. Bagaimana kita memberikan stimulus
(ransangan) supaya terbent