KARPET atau
tikar (samak, Snd)? Itulah pilihan alas
di lantai. Keduanya memang sudah menjadi kebutuhan saat hendak mengadakan kegiatan berkumpul dalam jumlah banyak. Praktis memang, karena akan lebih banyak memerlukan ruang jika harus duduk di atas kursi.Meski
KARPET sangat praktis dan pilihan motif dan warna bis mempercantik imterior, penggunaan karpet biasanya "menyisakan" sedikit kerepotan. Karpet kerap menyimpan debu, lantas di balik karpet yang lama terpasang terkadang agak lembab. Kelembaban itu akan tertahan pada tenunan karpet yang memang tebal.Karpet memang berasal dari luar Indonesia. Karpet dikenal pada negara-negara beriklim subtropis. Karpet yang tebal selain menjadi alas tidur yang nyaman, bisa menahan suhu dalam ruangan agartetap hangat. Ketika karpet dibawa ke negara tropis, maka ketebalan karpet menjadi persoalan tersendiri. Negara
tropis yang relatif panas dan
lembab menyebabkan karpet menjadi "berkeringat".Lain dengan tikar yang memang cukup dikenal di negara tropis. Biasanya tikar terbuat dari sejenis rumput (mendong, pandan, dan sejenisnya) ataupun dari rotan. Timar yang menggunakan bahan alami dari alam negara tropis lebih mudah beradaptasi dengan suhu dan kelembaban tinggi. Jalinan anyaman tikar memungkinkan udara mengalir bebas, demikian pula ketbalan tikar yang lebih tipis dibandingkan karpet, membuat tikar lebih mudah membuang panas. Nah, sekarang tinggal pilih. Mau karpet atau tikar?
Ringkasan lain tentang Pilih Mana, Karpet atau Tikar??