Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Pasar Barang dalam Islam

oleh: irzu     Pengarang : johan wahyu
ª
 
Variabel makro ekonomi Islam yang memiliki perbedaan mendasar dengan
ekonomi konvensional adalah variabel investasi. Seperti telah di bahas sebelumnya,
dalam ekonomi konvensional, variabel investasi adalah fungsi tingkat bunga (rate of
interest). Sedangkan dalam ekonomi Islam fungsi investasi adalah expected rate of
profit. Variabel tabungan dan konsumsi dalam ekonomi Islam secara fundamental
sama dengan ekonomi konvensional karena kedua-duanya adalah fungsi pendapatan
(Y). Jadi diasumsikan variabel tabungan dan konsumsi dalam pendekatan Islam
maupun konvensional adalah sama.
Tidak seperti tabungan dan konsumsi, investasi merupakan sebuah bisnis yang
tidak mudah diprediksi dan beresiko. Fungsi investasi dalam perekonomian Islam
berbeda dengan perekonomian konvensional. Dalam ekonomi Islam, variabel interest
(i) atau suku bunga dihilangkan karena termasuk riba. Sebagai penggantinya,
digunakan variabel expected rate of profit (r). Penggantian variabel ini membawa
perubahan mendasar karena tingkat suku bunga (i) ditentukan oleh pasar kredit
(credit market), dan bukan ditentukan oleh tingkat profitabilitas bisnis pengusaha.
Sedangkan variabel expected rate of profit ( r) ditentukan oleh karakteristik bisnis
pengusaha. Asumsi lain yang digunakan adalah:12
1. Terdapat denda untuk penimbunan aset-aset yang tidak termanfaatkan (iddle
asset).
2. Dilarangnya segala bentuk spekulasi dan tindakan perjudian.
3. Tingkat suku bunga pada semua jenis dana pinjaman adalah nol.
Jadi, para investor atau penabung muslim dapat memilih diantara tiga
alternatif untuk memanfaatkan dananya, yaitu memegang dananya dalam bentuk
tunai, memegang dananya dalam bentuk aset-aset seperti property, perhiasan,
deposito dan menginvestasikan dananya dalam proyek atau bisnis tertentu. Dua
alternatif pertama tidak disarankan dalam perekonomian Islam karena percepatan
perputaran ekonomi akan bergerak relatif lambat dibandingkan apabila dana tersebut
langsung diinvestasikan dalam sektor bisnis atau proyek tertentu. Salah satu hikmah
zakat adalah agar umat Islam terpicu untuk berinvestasi atau memutar hartanya di
sektor produktif atau bisnis. Apabila harta dibiarkan begitu saja atau di tumpuktumpuk
saja tanpa ada upaya yang produktif maka akan dikenakan zakat. Islam
menyertakan biaya dalam bentuk zakat pada dana-dana yang tidak termanfaatkan
(iddle assets). Zakat diaplikasikan pada semua bentuk aset-aset yang tidak
termanfaatkan (uang tunai, pinjaman, deposito bsnk) yang telah memenuhi nisab dan
kebutuhan hidup.
Menurut beberapa pandangan kontemporer, seorang muslim yang
menginvestasikan dana atau tabungannya tidak akan dikenakan pajak pada jumlah
yang telah diinvestasikannya tetapi dikenakan pada keuntungan yang dihasilkan dari
investasinya karena dalam perekonomian Islam semua aset-aset yang tidak
termanfaatkan dikenakan pajak. Investor muslim akan lebih baik memanfaatkan
dananya untuk ivestasi daripada mempertahankan dananya dalam bentuk yang tidak
termanfaatkan.
Islam juga melarang bentuk-bentuk spekulasi yang dalam perekonomian
konvensional tidak terpisahkan. Jenis-jenis spekulasi yang dilarang dalam Islam tidak
hanya mencakup perlombaan, permainan kartu, dan aktivitas perjudian lainnya, tetapi
juga bentuk-bentuk transaksi yang melibatkan hasil yang akan datang (forward
transaction).
Faktor utama lain yang ikut mempengaruhi tingkah laku investasi dalam
perekonomian Islam adalah ketidakberadaan dari suku bunga. Islam melarang
pembayaran bunga pada semua jenis pinjaman (pribadi, komersial, pertanian, industri
dan lainnya) walaupun pinjaman-pinjaman ini dilakukan untuk pribadi atau
perseorangan, perusahaan swasta maupun publik, pemerintah atau entitas lainnya.
Analisis diatas mengindikasikan bahwa dalam perekonomian Islam, tingkat
bunga tidak masuk dalam perhitungan investasi, maka biaya kesempatan (opportunity
cost) dari meminjamkan dana yang digunakan untuk kepentingan investasi adalah
zakat yang dibayarkan pada dana-dana ini. Dengan kata lain, dana ayau tabungan
yang tidak dimanfaatkan pada investasi riil akan dikenakan zakat pada tingkat-tingkat
tertentu.
Diterbitkan di: 15 Desember, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.