Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Ilmu Ekonomi>Tinjauan Hukum Islam Terhadap Transaksi Jual Beli Sistem Online (Ecomm

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Transaksi Jual Beli Sistem Online (Ecomm

oleh: rajauntung     Pengarang : mochammad
ª
 
Fenomena internet telah membuka peluang pengembangan sistem
transaksi bisnis elektronik dalam bentuk yang lebih inovatif (modern). Pada
dasarnya e-commerce menggunakan internet sebagai alat, media, sarana,
(wasilah), yang mana dalam kaidah syariah bersifat fleksibel dan dinamis. Hal ini
termasuk persoalan teknis keduniawian, yang Rasulullah pasrahkan sepenuhnya
selama dalam bidang muamalah kepada umat Islam menguasai dan
memanfaatkannya demi kemakmuran bersama. Dalam hadis Rasulullah,
disebutkan sebagai berikut:
عن عبد ا لله بن مسعود, قا ل ما راء المسلمون حسنا فهو عند ا لله حسنا وما رأ نوا سيأ
فهو عندا لله شئ
Artinya: "Dari Abdullah bin mas’ud, dia berkata: “Apa yang dipandang baik
menurut orang islam baik menurut Allah, dan apa yang dipandang jelek
menurut orang islam maka jelek menurut Allah”.2
Walaupun hukum Islam memiliki “concern” yang sangat intensif
terhadap masalah-masalah muamalah, namun memiliki sifat yang fleksibel dalam
penerapan prinsip-prinsip dasarnya. Prinsip paling mendasar dalam masalah
perdagangan atau jual beli misalnya dipresentasikan secara global dalam ayat Al-
Qur’an surat Al-Baqarah, ayat 275:
وََأحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا… (البقراة: 275
Artinya : “...Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba....”
(Q.S. Al-Baqarah: 275).3
Menurut kaidah fiqh, prinsip dasar dalam transaksi muamalah dan
persyaratannya yang terkait dengannya adalah boleh selama tidak dilarang oleh
syariah atau bertentangan dengan dalil (nash) syariah4 sesuai dengan kaidah :
ا لا صل في ا لمعا ملا ت إلابا حة حتى يد ل الد ليل علي التحريم
Artinya: “Pada dasarnya hal yang berkenaan dengan muamalat hukumnya adalah
boleh sampai ada dalil yang menyatakan keharamannya”5
Imam Al-Nawawi berkata : apabila dua orang saling memanggil dari jarak
jauh, kemudian melakukan jual beli itu sah tanpa adanya perselisihan ulama
“sedikitpun”.6
Hukum transaksi jual beli sistem online ataupun dengan media internet
adalah “boleh” hal ini berdasarkan metode maslahah mursalah (atau disebut juga
masalih al-mursalah), yaitu cara menemukan hukum sesuatu hal yang tidak
terdapat ketentuannya baik dalam Al-Qur’an maupun dalam kitab-kitab al-hadis,
berdasarkan pertimbangan kemaslahatan masyarakat atau kepentingan umum.7
Pertama : asas kerelaan dari semua pihak yang terkait (antaradin) yang
sesuai denan surat an-Nisa’ ayat 29 dari sini kata “suka sama suka” mengandung
pengartian sukarela, tanpa adanya paksaan atau tekanan. Surat an-Nisa' ayat 29 :
يَاَأيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا َلا تَأْكُلُوا َأمْوَاَل ُ كمْ بَيْنَ ُ كمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا َأ ْ ن تَ ُ كو َ ن تِجَارًَة عَنْ تَرَاضٍ
( مِنْ ُ كمْ... (النساء: 29
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta
sesamamu dengan jalan bathil, terkecuali dengan jalan perdagangan
yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu....” (Q.S. An-
Nisa': 29).8
Demikian juga menurut al-hadis\ Nabi Muhammad SAW:
عن داود بن صا لح المذ نى, قا ل رسول الله عليه و سلم: ا نما ا لبيع عن ترا ض (رواه ابن
ما جه)
Artinya: “Dari Daud Ibn Sholeh Al-Madani Rasulullah SAW bersabda,
sesungguhnya transaksi jual beli itu harus atas dasar kerelaan”9
Kedua : Larangan praktek penipuan, kecurangan dan pemalsuan yaitu
menyampaikan informasi yang tidak sesuai dengan fakta tersebut, atau berupa
pengelabuhan konsumen dengan memproduksi barang aspal (asli tapi palsu)
dengan mencuri merek dagang produsen lain, Nabi Muhammad SAW melarang
berbagai bentuk penipuan dalam hadits sebagai berikut :
قال رسول الله عليه وسلم تشتروا السمك في ا لماء قاء نه غرر
Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: Jangan kamu membeli ikan dalam air,
karena jual beli seperti ini adalah tipuan”10
Ketiga : tidak melanggar tradisi prosedur, sistem, norma, dan kebiasaan
bisnis yang berlaku (urf). Tentunya tradisi bisnis ini yang tidak bertentangan
dengan prinsip syariah seperti praktek tiba dan spekulasi.
Hal ini berdasarkan kaidah fiqh yang artinya, “Tradisi yang berlaku di
kalangan pebisnis diakui sebagai komitmen lazim yang mengikat”11
Dalam transaksi jual beli melalui internet atau online memang masih
ditemukan adanya pelanggaran prinsip-prinsip syariah di atas, misalnya menjual
barang semu, maksudnya barang ditawarkan namun perusahaannya ternyata
tidak eksis lagi atau pura-pura ada perusahaan yang menjual barang tersebut, ini
termasuk penipuan, jika menggunakan credit card akan sulit melacaknya. Namun
hal ini bisa diatasi dengan adanya pemeriksaan lebih teliti oleh perusahaan credit
card. Seperti misalnya Master Card, menyatakan:
“Bahwa perusahaan berusaha sejauh mungkin untuk memeriksa setiap
penjual, maka juga menganjurkan kepada setiap penyelenggara bisnis
online yang serius untuk melakukan hal serupa demi terwujudnya proses
pembelian yang lebih aman bagi semua pihak”12
Berbagai aspek transaksi yang tergolong dalam berbagai proses interaksi
bisnis konvensional berubah dengan cepat ketika perdagangan secara face to face
mulai digantikan dengan perdagangan online Seperti halnya untuk membeli
sesuatu. ada beberapa tahapan yang dijalani, yaitu mencari lokasi si penjual,
memilih suatu produk, menayakan harga, membuat suatu penawaran, sepakat
untuk melakukan pembayaran, mengecek indentitas dan validitas mekanisme
pembayaran, penyerahan barang oleh penjual dan penerimaan oleh pembeli.
Mekanisme pembayaran online juga harus menyertakan semua atau sebagian dari
tahapan-tahapan ini dalam alur pembayaran yang digunakan.
Dalam transaksi e-commerce melalui internet perintah pembayaran
(payment instruction) melibatkan beberapa pihak selain dari pembeli
(cardholder) dan penjual (merchant).13 Para pihak itu adalah payment ghateway,
acquirer dan issuer. Dalam transaksi online merupakan sebuah keharusan adanya
pihak-pihak lain yang terlibat tersebut.
Sistem jual beli sistem online (E-commerce) dalam konteks hukum Islam
sama halnya dengan jual beli Salam dalam konteks muamalah. Definisi salam
dalam terminologi syariat adalah akad yang terjadi pada sesuatu barang yang
telah disebutkan akan ciri-cirinya, ada dalam tanggung jawabnya, dan telah
ditentukan harga yang disepakati pada saat terjadi kesepakatan transaksi di
majlis akad.
Pengertian jual beli salam diatas sebenarnya semua unsurnya ada pada
jual beli dengan sistem online. Jual beli sistem online juga menggunakan kontesk
dan cara yang sama yang dilakukan dengan jual beli salam yaitu barang hanya
dilihat dan disebut ciri-cirinya saja, dan sama ada yang bertanggung jawab atas
barang yang dijual adanya ketentuan harga yang telah disepakati dengan
membayar terlebih dahulu sebelum menerima barang.
Jual beli pesanan ini diperbolehkan dalam islam berdasarkan dalil al-
Qur’an, hadis\ dan ijma’ (kesepakatan para ulama. Karena bai’ salam ini termasuk
salah satu jenis jual beli dalam bentuk khusus, tentu salah tercakup dalam nyata
tentang bolehnya jual beli tersebut. Berikut ini beberapa ayat dan hadis\ tentang
bai’ as-salam.
Diterbitkan di: 13 Desember, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    jual beli di tokobagus.com menurut pandangan islam itu separtai apah,,???? apah bisa di benarkan secara prinsip jual beli dlam islam??? terimakasih Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    HUKUM JUAL BELI ONLINE Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    bentuk tansaksi modern dalam islam Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
  1. 1. suefpriyanto

    umum

    trimakasih tulisannya tentang jual beli sytem online itu sangat membantu kami khususnya umat islam

    0 Nilai 25 Januari 2013
X

.