Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Manajemen usaha sepatu

oleh: ayahenawal     Pengarang : ibnu dalhar
ª
 

Inilah usaha yang ditekuni Sumardjo, membuat dan mereparasi sepatu serta sendal. Profesi yang tergolong jarang di Salatiga ini telah dilakoninya sejak tahun 1975. Pilihan kerja jatuh pada perajin sepatu karena cita-citanya masuk menjadi TNI tidak pernah tercapai.

”Lulus SMP saya mendaftar TNI dua kali tapi tidak pernah lulus. Kemudian saya meneruskan sekolah ke SMA, baru dua tahun atau kelas dua, kok lama banget tidak lulus-lulus. Saya bosan sekolah dan keluar ikut membantu orang tua membuat sepatu” papar Sumardjo sambil tersenyum.

Dalam menekuni dunia alas kaki ini Sumardjo dapat menghidupi seorang istri dan ketiga anaknya. Suryani begitu nama sang istri mendampingi pekerjaannya. Ketiga anaknya telah lulus SMA, semua juga sudah kerja yang laki-laki ikut bekerja membantu membuat sepatu.

Warga yang beralamatkan di jalan kalisombo No 38, Rt 6/5 Kelurahan Salatiga ini awal mulanya hanya membantu orang tuanya yang juga seprofesi. Redjo begitu nama sang ayah adalah pembuat sepatu di jaman Kolonial Jepang. Redjo dipercaya oleh tentara Jepang untuk membuat sepatu dan memperbaikinya bila ada kerusakan.

Mulanya Sumardjo pada tahun 1975 mendapatkan pinjaman lunak dari BRI sebanyak 1 juta dengan jangka waktu 2 tahun. Modal tersebut ia gunakan untuk mengembangkan usaha bersama sang ayah, samapai sang ayah meninggal.

Di tahun 1990, Sumardjo bersama 9 rekannya dari Salatiga pernah dikirim pemerintah ke Bandung untuk disekolahkan pembuatan sepatu sendal. ”Dulu pemda pernah mengirim saya ke Bandung untuk ditatar bagaimana membuat septu dan sendal. Kami juga diberi uang saku. Namun sekarang perhatian Pemkot saya rasakan kurang” keluh Sumardjo.

Nama sang ayah ini juga yang menjadi inspirasi sebagai lebel buah karyanya sekarang ”REDJO”. hasil produksi Sumardjo adalah mulai dari sepatu resmi, TNI, Mayoret, Olah raga, artis. Sedangkan sendal mulai dari sendal sepatu, slop dan hag tinggi. Apapun produk kulit yang berkaitan dengan alas kaki Sumardjo bisa melayani. Untuk model Sumardjo berkiblat pada model yang berlaku tiap tahunnya. Pemesan akan mudak karena disediakan katalog model yang sedang trend.

Pernah dulu sekolah dasar se-Bawen memesan sepatu kepadanya. Telkom Semarang juga peranah memberikan kepercayaan tersebut. Dia juga pernah mendapat pesanan untuk dibuatkan 50 pasang sepatu mayoret. ”Meskipun tenaga yang membantu saya sekarang cuma dua orang, tapi kalau pesanana ratusan saya sanggup. Selama ini jika pesanan banyak saya mengundang teman-teman untuk membantu menyelesaikan” imbuh bapak tiga anak ini.

Sepatu dan sendal hasil karyanya selain di Salatiga juga telah menyebar ke beberapa daerah separti Jakarta, Bali, dan Papua. Keunggulan sepatu buatan Sumardjo adalah menggunakan kulit asli dan kuat serta tahan lama. ”Sepatu buatan saya bisa diadu kekuatannya dengan sepatu di toko-toko. Harga juga milik saya lebih murah” tekan Sumardjo dengan mimik meyakinkan.

Mengenai bahan baku mudah didapatkan, untuk kulit biasanya dibelinya dari Yokyakarta da Bandung. Kemudian spon dan alas bisa dari Semarang atau Solo dan untuk tali, lem, motik lobang tali di Salatiga sudah ada.

Setiap hari Sumardjo bisa menghasilkan 4 pasang sepatu. Bila ada yang pesan dalam waktu satu minggu sepatu bisa diambil. Sekarang ini usaha yang ditekuninya mampu merekrut dua orang tenaga pengrajin dan beberapa orang pemasaran termasuk sang istri.

Dalam sehari tenaga diberi upah sebesar Rp. 30.000,-. Untuk omset perbulannya Sumardjo mendapatkan rata-rata Rp. 750.000,- bersih. Kendala sampai sekarang adalah permasalahan modal.

Untuk modal membuat sepatu sekarang ini mulai dari Rp. 100.000,- belum termasuk upah pekerja. Sedangkan produk sepatu buatannya dibandrol berfariasi dimulai dari Rp. 150.000,- sampai Rp. 200.000,-an.Sedangkan sendal mulai Rp. 40.000. semua dijamin awet.

Kendala yang di hadapi Sumardjo sampai sekarang adalah persoalan kurangnya modal. Selain itu kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap usaha jenis tersebut. Kemudian membanjirnya produk dari Bandung. ”Banyaknya barang yang datang dari Bandung adalah menjadi permasalahan pengrajin seperti kami. Namun jangan dibandingkan, buatan sayalebih kuat, kalau produk dari sana yang banyak dijajakan itu imitasi makannya bisa murah. Sedangkan awet atau tidaknya jangan ditanya” imbuh Sumardjo.

Diterbitkan di: 27 September, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.