Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Ilmu Ekonomi > Tingginya Belanja Konsumtif Dimanfaatkan Industri Otomotif

.

Tingginya Belanja Konsumtif Dimanfaatkan Industri Otomotif

Summary rating: 2 stars 1 Tinjauan
Pengarang : dikdo m.
Summary by : McDeeck
Kunjungan: 149
kata: 600
Diterbitkan di: Nopember 30, 2007
SEKTOR otomotif di tanah air cukup aneh. Kalau boleh dikatakan terjadi
anomali. Ketika Krismon dianggap sudah lewat, meski penyebab ambruknya ekonomi nasional
belum banyak yang terjerat jaring hukum, belanja konsumtif turut "membantu"
mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Memang, Menko Kesra M. Jusuf Kalla (kini wapres) ketika ditemui "Otokir" pernah mengakui
pertumbuhan ekonomi pascakrismon ditunjang oleh belanja konsumtif masyarakat. Namun, pada
akhirnya akan menggairahkan kembali sektor produksi guna memenuhi kebutuhan masyarakat
yang meningkat itu.
Mungkin, itu pula yang menjadi dasar sejumlah agen tunggal pemegang merek (ATPM)
semakin bergairah menggarap pasar otomotif belakangan ini. Bahkan, deru persaingan sangat
terasa memasuki semester II 2003. Hingga ada ATPM yang berani meluncurkan tiga jenis sedan
dari kelas yang berbeda dalam tenggang waktu tiga bulan. Padahal, segmentasi sedan cukup
sempit.
Mereka saling berkejaran mengeluarkan model semakin kerap apalagi menjelang tibanya
pameran otomotif bertajuk "Gaikindo Auto Expo 12th" di Pusat Konvensi Jakarta
(JCC) Senayan, 19-27 Juli mendatang. Bahkan, dalam tiga hari berturut-turut, tiga model
dari tiga merek diluncurkan.
Semacam Hyundai yang merilis Trajet GL8 yang masuk kategori kendaraan multiguna (MPV)
di pabriknya Bekasi, Selasa (8/7). Keesokan harinya giliran BMW meluncurkan roadster dua
penumpang tipe Z4 dengan mengambil tempat di sebuah lapangan golf di dekat Bandara
Sukarno-Hatta Tangerang Banten.
Honda pun seakan tak mau kalah dengan mengenalkan sedan premium All New Accord di
sebuah hotel berbintang di Jakarta, Kamis (10/7). Tampaknya, sekarang ini para ATPM lebih
berusaha melengkapi jajaran modelnya untuk meraih angka penjualan yang lebih besar.
ATPM cenderung tidak lagi berkonsentrasi pada pengembangan industri otomotif, tetapi
pada penjualan alias dagang. Kalaupun ada yang membuat atau merakit, model yang bisa
digarap sudah ditentukan prinsipal (pemegang merek).
Contohnya, antara BMW Indonesia dan Thailand saling mengimpor jenis yang dibuat di
negara masing-masing. Indonesia mengekspor seri 3, sedangkan Thailand mengekspor seri 5.
Demikian pula dengan Honda Indonesia yang mengekpor MPV tujuh penumpang yaitu Stream 2.0L
ke Thailand. Sementara Thailand memasukkan SUV Honda CR-V ke Indonesia.
**
DENGAN masuknya model ke kelas yang sebelumnya tidak diproduksi, membuat persaingan
cukup marak. Misalnya, Mitsubishi membuat model minibus Kuda yang meramaikan pasar kelas
tersebut yang selama ini dikuasai Toyota Kijang.
Kemudian, Isuzu Panther, Honda Stream, Hyundai Trajet, KIA New Carens, dan Chevrolet
Tavera.
Padahal, Mitsubishi selama ini lebih dikenal sebagai pemain di kelas truk menengah.
Namun, pasar truk yang dikuasai Mitsubisi dimasuki juga pemain lain semacam Toyota Dyna,
Hino Dutro, dan Isuzu Elf. Demikian pula dengan sedan di kelas subkompak berkapasitas
mesin 1.500 cc. Sementara itu, sejumlah pemain di kelas tersebut ditempati Suzuki Baleno
Next-G, Toyota Vios, All New Honda City, dan Hyundai Accent.
Lantas, di kelas menengah sedan ada pilihan Toyota Corolla Altis dan All New Honda
Civic. Untuk kelas premium, Honda yang mengandalkan Accord generasi ketujuh berhadapan
dengan Toyota Camry dan BMW seri 3.
ATPM juga mencoba mengenalkan kategori baru kendaraan sport utility (SUV) yang
dahulu lebih dikenal sebagai jip. Oleh karena itu, sejumlah merek dan model bertebaran di
kelas tersebut, mulai dari Honda CR-V, Nissan X-Trail, Chevrolet Blazer, Ford Escape,
Subaru Forester, Mazda Tribute, dan Hyundai Santa Fe.
Pada kelas mobil kota (city car) yang biasanya memakai mesin hingga 1.000 cc,
ada banyak pemain semacam Kia Visto, Hyundai AtoZ, Daewoo Matiz yang belakangan berubah
menjadi Chevrolet Spark, Daihatsu New Ceria, dan Suzuki Karimun.
Dengan adanya sejumlah pilihan model pada masing-masing kelas, konsumen bisa memilih
sesuai dengan anggaran yang dimilikinya. Hanya, penambahan jumlah kendaraan tidak seimbang
dengan infrastruktur jalan. Oleh karena itu, tak perlu heran jika kemacetan semakin
menjadi-jadi di sejumlah kota di tanah air.
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • amibroker
  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie

.