Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Konseling>Contoh Kasus Dalam Teori Psikoanalisis & Teori Analisis Transaksional

Contoh Kasus Dalam Teori Psikoanalisis & Teori Analisis Transaksional

oleh: maklum    
ª
 
Kasus Psikoanalisis

Pada suatu ketika, Wagiman berjalan-jalan disekitar lingkungan sekolah. Tiba-tiba, ia melihat pacarnya sedang berduaan dengan lelaki lain. Melihat kejadian itu, ia langsung murka. Tidak sengaja, ia melihat sebuah botol didekat kakinya. Dengan refleknya, ia menyambar botol dan langsung dilempar kearah lelaki yang sedang berduaan dengan pacarnya. Lemparan yang tiba-tiba itu membuat lelaki tersebut jatuh tak sadarkan diri. Setelah kejadian itu, diketahui bahwa Wagiman sering sekali melempar benda-benda disekitarnya saat merasa marah. Selain itu, tidak hanya saat marah, Wagiman juga seperti itu saat ia melihat orang-orang asing. Ia selalu mudah curiga terhadap orang-orang tak dikenal yang berlalu lalang didepan kosnya. Tidak segan ia melempar orang yang dianggap berbahaya tanpa melihat terlebih dahulu.

Sejak kecil, Wagiman sering kali mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan oleh teman-temannya. Teman-temannya sering mengejek dengan sangat menyakitkan karena kebetulan Wagiman berasal dari keluarga yang pas-pasan. Awalnya Wagiman bisa bersabar. Ia tetap bisa berkepala dingin saat menghadapi teman-temannya. Namun akhirnya, ejekan yang bertubi-tubi itu bisa membuat Wagiman lepas kendali. Ia memukuli orang yang mengejeknya hingga tak sadarkan diri. Setelah kejadian itu, tidak ada lagi orang-orang yang berani mengganggunya.

Wagiman juga pernah mengalami kejadian yang tak mengenakkan lainnya. Suatu hari, ada dua orang lelaki yang sedang jongkok disamping rumahnya. Kehadiran mereka tidak diperdulikan oleh Wagiman. Keesokan harinya, dua orang lelaki tersebut kembali terlihat sedang mondar-mandir didekat rumahnya. Pada hari berikutnya saat pulang sekolah, ia sangat terkejut. Sesampai dirumah, ia melihat ibunya terkulai bersimbah darah. Ternyata dirumahnya telah terjadi perampokan. Setelah kejadian itu, ia mudah sekali curiga pada orang asing yang sering berlalu lalang didekat tempat tinggalnya.


Kasus Analisis Transaksional
Hasta adalah anak yang patuh dan penurut kepada orangtuanya. Baginya, orangtua adalah orang yang selalu dihormati dan ditaati. Sejak kecil, Hasta memang selalu diarahkan orangtuanya. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Harus yang ini, harus yang itu, dsb. Dia jarang sekali dibiarkan membuat pilihannya sendiri. Hal itu juga terjadi dalam pemilihan arah pendidikan. Dari TK hingga SMA, semua ditentukan oleh orangtua. Tidak ada yang dipilih sendiri oleh Hasta. Dia selalu menurut saja. Orangtuanya ingin Hasta menjadi seorang dokter. Hasta merasa tidak ingin jadi dokter tapi dia tidak mau dan tidak bisa melawan keinginan orangtua. Dia merasa tidak memiliki kekuatan atas jalan hidupnya sendiri.

Hasta menurut saja jika dipersiapkan untuk menjadi seorang dokter dengan les tambahan di bimbingan belajar, baik klasikal maupun privat. Kemudian Hasta berhasil diterima di Jurusan Kedokteran Umum. Orangtuanya senang sekali, merasa telah sukses mengarahkan anaknya. Tapi Hasta tidak nyaman dengan hal tersebut. Sebenarnya dia ingin belajar sastra.

Hasta pernah sekali mengungkapkan keinginannya itu. Tapi orangtua tidak mau tahu dan selalu melarang Hasta belajar sastra. Menurut Hasta, orangtuanya berpikir bahwa pilihan terbaik adalah apa yang diputuskan oleh orangtua, bukan Hasta yang hanya seorang anak.

Hasta menjalani kuliah di kedokteran dengan tidak semangat dan tertekan. Dia merasa bukan ini yang ingin dilakukan. Dia ingin sekali keluar dari jurusan kedokteran. Akibatnya, pada semester pertama, nilainya sudah jeblok. Orangtua hanya bisa marah-marah , menyuruh Hasta serius kuliah, tidak memikirkan hal lain, apalagi sastra. Karena hal itu, Hasta semakin merasa tertekan dan stres. Dia ingin memiliki kekuasaan atas pilihan jalan hidupnya sendiri, tapi tak sanggup melawan ego orangtua.

Diterbitkan di: 08 Juli, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    bagaimana analisis kasus Psikoanalisis tersebut? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    lalu apa solusi yang tepat untuk kasus psikoanalisa? terimakasih ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    pemecahan nya dengan membicarakan masa lalu nya, karena penyebab keadaan nya sekarang dari masa lalu nya yang mengalami masalah 12 Oktober 2012
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.