Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Konseling>Peran Budaya Organisasi Dalam Peningkatan Kinerja Organisasi

Peran Budaya Organisasi Dalam Peningkatan Kinerja Organisasi

oleh: RajaHoky     Pengarang : abdul jabbar
ª
 

Bahwa keberhasilan dalam pembentukan budaya organisai yang sesuai
dengan kondisi saat ini tergantung pada peran pemimpin dalam mengkoordinasi,
menggerakkan, dan menyelaraskan semua sumber daya manusia yang ada
dilembaga tersebut. Di samping itu lembaga organisasi yang mampu
meningkatkan kinerja organisasi harus sanggup memperhatikan kepentingan para
anggotanya dan juga iklim yang menunjang serta di barengi dengan
kepemimpinan yang membawa perubahan yang berkelanjutan.
Dan juga perilaku pemimpin yang beroreantasi prestasi. Menurut House
dan Dessler adalah suatu tindakan pemimpin yang mempengaruhi persepsi,
motivasi bawahan dan sebagai bawahan mereka puas terhadap tindakan pemimpin
tersebut.Dengan demikian, pola perilaku kepemimpinan orientasinya bisa
diartikan sebagai bentuk tingkah laku atau merupakan seperangkat tindakan
pemimpin dalam mempengaruhi persepsi, motivasi pengikut (anggota) dalam
melaksanakan tugas organisasi dalam mencapai prestasi kerja pada khususnya dan
tujuan organisasi pada umumnya.Ketika pemimpin menginginkan sutau kondisi yang bagus (peningkatan
kinerja) di suatu organisasi pendidikan, maka untuk mencapai tujuan pemimpin
harus menciptakan budaya yang dirancang untuk pengimplementasikannya.
Budaya organisasi merupakan arah atau landasan untuk berlangsungnya proses
pelaksanaan organisasi secara efektif da efisien. Dengan kata lain budaya
organisasi berperan dalam menentukan struktur dan berbagai sistem operasional
di sebuah lembaga yang membuahkan norma, nilai, keyakinan dalam bersikap
dan berprilaku anggota atau warga organisasi dalam hal ini budaya organisasi
berperan sebagai penggerak dan pengontrol pada kinerja organisasi dalam
menyesuaikan atau beradaptasi terhadap kondisi lingkungan.
Dalam kaitannya dengan hal tersebut di atas perlu di tekankan bahwa disisi
lain suatu organisasi itu harus mempunyai budaya organisasi yang kuat sampai
berakar, sehingga mengakibatkan sulit untuk diubah. Budaya yang kuat dapat di
ketahui apabila:
1. Nilai-niali budaya organisasi di anut secara bersama oleh seluuh pimpinan dan
anggota organisasi.
2. Nilai-nilai budaya mempengaruhi perilaku pemimpin dan anggota organisasi.
3. Membangkitkan semangat perilaku pimpinan dan anggota organisasi.
4. Resisten (kuat) terhadap tantangan eksternal dan internal.
5. Mempuyai sistem peraturan formal dan informal.
6. Mempunyai koordinasi dan kontrol perilaku.
Atas dasar-dasar diatas budaya organisasi yang kuat didefinisikan sebagai
budaya, yang nilai-nilainya baik formal maupun non formal dianut secara
bersama dan berpengaruh positif terhadap perilaku dan kinerja pimpinan dan
anggota orgsnisasi sehingga kuat dalam menghadapi tantangan eksternal dan
internal. Nilai-nilai budaya dapat diterjemahkan sebagai filosofi usaha, asumsi
dasar, slogan/moto organisasi, tujuan umum organisasi dan prinsip-prinsip yang
menjelaskan usaha. Nilai-nilai tersebut apabila di anut dan dilaksanakan secara
bersama oleh pemimpin dan anggota dapat memperkuat budaya organisasi.42
Jadi budaya organisasi yang “baik” harus fleksibel dan adaptable sehingga
dapat mendukung dalam menyesuaikan dengan perubahan lingkungan. Dan perlu
di ketahui bahwa budaya organisasi yang baik tidak timbul dan tumbuh dengan
sendirinya, melainkan dengan sadar di tanamkam dan di tumbuhkan, dan juga
membutuhkan waktu (proses).Seperti yang dikatakan oleh Umar Nimran bahwa
budaya organisasi harus: 1. Dipelajari. 2. Dimiliki bersama. 3. Diwariskan dari
generasi ke ganerasi.
Hal tersebut juga di perkuat oleh hasil penelitian yang di lakukan oleh
Amerika Serikat. Menyatakan bahwa budaya organisasi yang “sehat” korelasi
yang tinggi dengan: 1. sikap dan motivasi kerja anggota. 2. produktifitas dan
kepuasan kerja. 3. Prestasi dan motivasi anggota untuk berprestasi. Namun
analisis budaya organisasi harus dilihat sebagai bagian suatu kesatuan organisasi
yang utuh, artinya sesuatu yang ada pada suatu budaya organisasi hanya dapat
dilihat dan dijelaskan dalam kaitannya dengan aspek yang lain seperti: 1.
Rangsangan untuk berprestasi. 2. Penghargaan yang tinggi terhadap prestasi. 3.
Komunitas orgnisasi yang tertib. 4. Pemahaman tujuan organisasi. 5. Ideologi
organisasi yang kluat. 6. Kepemimpinan pimpinan organisasi dan 7. Hubungan
antara anggota.
Perlu di ketahui bahwa budaya organisasi dapat berupa kekuatan, akan tetapi
dapat pula menjadi kelemahan bagi suatu organisasi. Budaya organisasi
merupakan suatu kekuatan kalau mempermudah dan memperlancar proses
komunikasi, mendorong berlangsungnya proses pengambilan keputusan yang
efektif, memperlancar jalannya pengawasan dan menumbuhkan suburkan
semangat kerjasama dan memperbesar komitmen kepada organisasi. Pada
gilirannya budaya organisasi sebagai kekuatan meningkatkan efisiensi organisasi.
Bahkan dapat dinyatakan swcara aksiomatik bahwa semakin kuat budaya
organisasi, semakin tinggi pula tingkat efisiensi kerjanya, sebaliknya budaya
organisasi dapat menjadi sumber kelemahan bagi organisasi apabila keyakinan
dan sistem nilai yang dianut tidak seirama dengan tuntutan strategi organisasi.
Agar budaya budaya organisasi menjadi kekuatan bagi organisasi, lima aspek
kehidupan organisasional penting mendapat sorotan pehatian, lima aspek itu
adalah kerja sama, pengambilan keputusan, pengawasan, komunikasi dan
komitmen.
Perihal kerja sama. Kerja sama yang ikhlas tidak mungkin terwujud dengan
mengeluarkan berbagaiperaturan formal.Manajemen mungkin dan pada umumnya
menyatakan dengan jelas hal-hal yang di harapkan dari para anggota bawahannya.
Sistem imbalan yang mempunyai daya tarik bagi anggota baru memasuki
organisasi dan bagi anggota lama untuk tetap berada dalam organisasi bisa saja
diciptakan, kesemuanya itu penting dalam kehidupan organisasional. Akan tetapi
tidak adanya manajemen yang memiliki kemampuan untuk mengantisipasi semua
kemungkinan yang akan terjadi dim A depan. Jika terjadi hal-hal yang tidak
diperhitungkan sbelumnya, manajemen hanya bisa berharap bahwa berbagai
pihak dalam organisasibersedia bekerja sama sehingga roda organisasi
tetap”berputar” dengan lancar. Berarti niat, iktikad dan iklim saling mempercayai
sangat diperlukan. Hal-hal tersebut perlu mendapat perhatian dalam
pengembangan dan pemeliharaan budaya organisasi.
Perihal pengambilan keputusan. Setiap organsasi mendambakan
berlangsungnya pengambilan keputusan yang tidak hanya efisien, akan tetapi
sekaligus efektif. Kelancaran Kelancaran pengambilan keputusan lebih terjamin
apabila berkat adanya budaya sebagai kekuatan mengandung keyakinan dan siste
nilai yang dapat digunakan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam proses
pengambilan keputusan itu sendiri sebagai “rujukan” dalam menentukan langkahlangkah
yang diperlukan. Dengan perkataan lain, proses pengambilan keputusan
akan lancar apabila dan karena berbagai pihak yang terlibat menggunakan
asumsi-asumsi dasar dan pemise yang sama yang pada gilirannya mencegah
timbulnya salah pengertian tentang apa yang menjadi sasaran keputusan yang
diambil dan hasil yang diharap.

Diterbitkan di: 14 Juni, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.