TELEVISI BEBAS BIRAHI
Summary rating: 1 stars
1 Tinjauan
Kunjungan:
190
kata:
300
Diterbitkan di: Oktober 13, 2007
The
First Heart-throb yang di tayangkan
stasiun Chongqing TV sudah membuktikannya. Program pemilihan bintang mirip Britain’s Pop Idol itu sebenarnya sukses
besar. Sejak di siarkan tahun lalu sudah menampilkan lebih dari 100,000
kontestan dari berbagai pelosok China. Ratingnya juga tak turun-turun.
Sayang, program itu ada cacatnya.
Misalnya, dandanan para kontestan sangat menor dan model rambutnya amburadul. Lirik
lagunya juga seperti mengumpat, menghasut bahkan cabul. Tak Cuma penampil yang
tak elok. Sebab presenternya juga punya sederet daftar dosa.
Menurut The State Administration of Radio, Film and Television(sarft), The First Heart-Throb sangat vulgar dan
murahan. “Program ini berselera rendah dan bisa menciptakan penyakit sosial.”,
kata juru bicara Sarft. Sebagai ganjarannya, tayangan itu akhirnya di hentikan.
Harian The Independent edisi awal September menulis., pemerintah China
memang ketat mengawasi acara-acara televisi. Misalnya tiada toleransi bagi
program yang mengumbar syahwat, birahi dan menyelipkan gambar-gambar alat
permainan seks dan alat kontrasepsi.
Tiada maaf juga bagi yang
mempertontonkan operasi kelamin dan bedah plastik sekalipun. Beatuiful Makeover, yang menayang di
satu televisi di selatan Guangdong harus di tutup lantaran melanggar aturan
ini.
“Seluruh pelaku industri penyiaran
di larang merencanakan atau memproduksi acara yang isinya tentang operasi
kelamin dan bedah plastik,” pihak sarf menegaskan.
Beruntung tindakan lembaga
pemantau media itu mendapat banyak dukungan. Tak Cuma pemerintah, tapi juga
dari rakyat China kebanyakan. Hampir 95% responden sebuah jajak pendapat
mengatakan, peta persaingan industry televisi telah melahirkan praktik-praktik
persaingan tidak sehat. Salah satunya, membuat program asal laku dan vulgar.
“Pemilik televisi dan produser
mestinya tak melulu berpatokan pada rating. Tapi, pertimbangkan juga soal
kepatutan dan akibat dari program yang mereka buat.”, kata Zhao Yang, seorang
mahasiswa dalam surat elektroniknya. Pendapat: di Cina kebebasan berekspresi di
tekan dan hampir tidak di hargai.