Bahan Baku
Mortar Karena mortar sangat beragam jenisnya (dari jenis diatas, bisa dibagi lagi menjadi beberapa sub-jenis,
misal tile grout wide, narrow, dll), maka pembahasannya hanya pada beberapa bahan baku penting saja, yaitu antara lain :
1. Semen
Umumnya yang dipakai jenis Portland
2. Sand / Pasir
Umumnya dengan kehalusan seragam, antara 0.1-0.4 mm
3. Calcium Carbonate
Adalah jenis filler khusus berwarna putih dengan kehalusan seragam.
Harap diperhatikan jika menggunakan filler ini karena memiliki oil absorption tinggi, sehingga pemakaian filler ini dapat "mengentalkan" campuran yang dibuat. Biasanya dipakai pada
mortar berwarna (menonjolkan warna) seperti tile grout.
4. Lime / Kapur
Dipakai pada beberapa jenis mortar khusus
5. Asam Tartaric
Dipakai pada beberapa jenis mortar khusus
6. Additif Air Release
Untuk menghilangkan adanya udara yang terperangkap di dalam mortar saat diaplikasi. Dipakai pada beberapa jenis mortar khusus.
7. Additif Anti Foam
Untuk menghilangkan foam / busa pada saat mortar dicampur air dan diaplikasi. Dipakai pada beberapa jenis mortar khusus.
8. Beberapa jenis binder lain
Untuk meningkatkan sifat flexible dan/atau memperkuat ketahanan tekanan, umumnya untuk aplikasi horizontal tile yang berat seperti granit / marmer.
dan bahan baku utama yang membuat mortar menjadi berkualitas lebih baik dari campuran semen adalah :
9. CELLULOSE THICKENER
Ini adalah pengental berbahan dasar selulosa (bisa dari pulp/bubur kayu, bubur kapas, dll), yang memiliki sifat water retention dan juga filler holding. Adanya thickener jenis ini bisa "memperbaiki" sifat campuran mortar yang digunakan sehingga menjadi tidak "meleleh saat diaplikasi vertikal, memiliki sebaran yang rata, memiliki open time yang cukup, dan lain-lain. Jenis cellulose thickener ini sebenarnya bermacam-macam, untuk aplikasi mortar umumnya menggunakan 2 macam jenis, yaitu HPMC (Hyrdoxy Propyl Methyl Cellulose)dan MHEC (Methyl Hydroxy Ethyl Cellulose). Jenis pertama adalah yang paling populer dan banyak digunakan untuk pembuatan berbagai jenis mortar. Jenis kedua bisa memberikan efek water-repellency, sehingga cocok digunakan untuk aplikasi mortar khusus untuk skim-coat.
10. REDISPERSABLE POLYMERS
Inilah polimer utama yang memberikan "kekuatan" tambahan untuk meningkatkan kualitas mortar, sehingga menjadi superior dibandingkan campuran semen biasa. Beberapa jenis redispersable polymer dibuat dari bahan dasar polymer Vinyl Acrylic / Ethylene, dan juga tipe terbaru menggunakan bahan dasar polymer VEOVA. Fungsi dari redispersable polymer ini adalah memberikan sifat yang flexible pada mortar sehingga material yang dihasilkan setelah kering memiliki flexibilitas yang lebih baik dibandingkan dengan material yang terbentuk dari campuran semen biasa.
Fleksibilitas ini akan mampu menghindarkan masalah yang menimpa bangunan di kemudian hari seperti retak (ada kemengkinan susut muai karena pengaruh suhu, gempa ringan, dll), jika bahan baku pembentuk dinding atau lantai cukup flexible, maka kemungkinan retak mikro akan lebih kecil. Begitu pula dengan kasus lantai terangkat, karena bahan digunakan lebih flexible, maka saat terjadi "pergeseran" bangunan karena beberapa faktor, maka mortar yang mengikat keramik lantai dapat "bergerak" flexible, sehingga tidak terjadi kasus lepasnya mortar perekat dari keramik yang menjadikan lantai terangkat.
Proses Produksi Mortar
Pada dasarnya proses produksi mortar adalah relatif cukup sederhana, karena prinsipnya adalah mencampur semua bahan baku yang sesuai (semua dilakukan dalam kondisi kering / tepung / powder) dan mengaduknya dengan rata, kemudian dikemas dan didistribusikan. Tetapi kita perlu ingat, mencampur bahan baku dalam bentuk tepung/powder membutuhkan peralatan khusus (mixer kering) dan juga energi yang relatif besar.
Skala industri dari pabrik pembuatan mortar adalah besar-besar, dan mereka mengaduk dalam jumlah besar juga karena mereka ingin menjaga konsistensi produk mortar yang dihasilkan dengan formulasi yang konstan dan diawasi ketat. Kunci disini adalah soal konsistensi, pembuatan mortar sebenarnya "relatif tidak sulit" dari sisi know-how dan pengadaan bahan bakunya, hanya aplikasinya saja yang sulit karena membutuhkan modal relatif besar untuk pengadaan alat produksinya.
Apakah mortar bisa kadaluarsa ?
1. Semen - kayaknya selama dalam kondisi kering, tidak akan kadaluarsa
2. Pasir - tidak ada kadaluarsa
3. Redispersible Polymers
Bersifat cukup higroskopis (attract water), jadi mesti disimpan dalam kondisi kering, di tempat dengan sirkulasi udara baik dan humidity rendah.
4. HPMC / MHEC
Cellulose thickener bersifat sangat higroskopis (attract water), jadi harus disimpan dalam kondisi kering, di tempat dengan sirkulasi udara baik, dan humidity rendah. Manufacturer standard warranty untuk produk ini umumnya hanya sekitar 6 bulan, dan produsen yang baik selalu menjual produk ini dikemas dalam bag dengan double inner layer. Manufacturer Cellulose additive selalu menyarankan hanya produk cellulose yang fresh yang akan memberikan hasil terbaik, jadi mereka umumnya merekomendasikan agar stock yang diimpor dari mereka harus digunakan dalam jangka waktu 3 bulan, untuk mendapatkan hasil yang maximal.
Dari gambaran diatas, sebaiknya mortar digunakan dalam jangka waktu maximal 3 bulan (direkomendasikan, kita juga tidak tahu kapan mortar itu diproduksi kan). Pastikan bahwa properties mortar yang digunakan memenuhi standard saat dicampur dengan air dan diaplikasikan. Penyimapanan harus dalam tempat kering dan bersirkulasi udara baik, untuk meminalisir adanya excess humidity yang akan mempercepat kerusakan additif pada mortar.
Beberapa produsen mortar menjual produknya dalam kemasan bag double inner layer, harap dicheck. Produsen dengan packaging seperti ini yang benar-benar concern dengan kualitas produk mereka karena mereka mengerti apa yang bisa terjadi kalau humidity berlebih "menyerang" produk mereka selama dalam masa storage (berarti know-how mereka terhadap mortar juga baik).