Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Studi Komunikasi/Media > Senirupa Indonesia Tahun Delapanpuluhan

.

Senirupa Indonesia Tahun Delapanpuluhan

Pengarang : A.Kohar Ibrahim
Review by : akibr
Kunjungan : 30  kata: 900   Diterbitkan di: Mei 07, 2008



 


Senirupa Indonesia Tahun 80-an


 


(A. Kohar Ibrahim)


 


 


 


DALAM catatan budaya berkenaan dengan "Pameran Besar Pelukis Nasional" yang diselenggarakan oleh Bentara Budaya Jakarta bulan Nopember-Desember 1988 itu, ada beberapa point yang layak disimak ulang. Pertama-tama akan ambisinya, yakni, untuk mendapat gambaran yang lebih mendalam yang lebih mendalam tentang harapan dan cita-cita bangsa Indonesia lewat seni lukis.  Dengan menampilkan karya 26 pelukis senior yang mewakili empat pusat seni lukis modern yang hidup di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Yogya dan Surabaya. Mereka adalah: Affandi, Abas, Pirous, Agus Djaja, Amang, Bagong K., Barli, But Muchtar, Dullah, Sidik, Handrio, Harjadi, M. Apin, Nashar, Nasyah Djamin, OH Supono, Otto Djaja, Popo Iskandar, Rudyat, Rustamaji, Sudarso, Sudjana Kerton, Suparto, Srihadi S, Widayat, Wahdi.


 


Yang cukup signifikan iyalah adanya serangkai opini dari para pelukis itu sendiri tentang sikon seni rupa Indonesia pada zamannya. Seperti dari pelukis Sudarmaji, sehubungan dengan ambisi dari penyelenggaraan pameran, dalam kata pengantarnya antara lain mengkonstatasi, bahwa: "Sayangnya kita kurang sering, atau hampir nol malah mengikuti aktivitas seni rupa antar bangsa... Mobilitas para pelukis dari daerah satu ke daerah yang lain; dari negeri yang satu ke negeri yang lain kurang tinggi. Efeknya, kita jadi kurang menghayati (dus bukan hanya melihat) perkembangan antar negara itu. Kurang bisa memanfaatkan apa yang bisa dimanfaatkan dari perbenturan nilai-nilai. Dari sejarah kita mengetahui, bahwa Manet, Picasso, Vincent van Gogh, Paul Gauguin, Kandinsky, Vasarely dan banyak lagi, tercatat sebagai 'Penemu', sedikit banyaknya karena perbenturan nilai-nilai yang mendorong ke proses inovatif bahkan inventif."


 


"Rendahnya mobilitas dan hampir nol-nya konfrontasi nilai-nilai di gelanggang aktivitas-kreativitas seni rupa, baik di dalam maupun di luarnegeri, teriring pula kelangkaan sarana bagi pertumbuhan penulis seni rupa Indonesia.  Dalam masalah inipun kurang menggembirakan, kata Sudarmadji. Alternatifnya banyak. Buku hampir tidak ada untuk menambah pengetahuan. Media yang khusus untuk seni rupa tidak ada. Apresiasi masyarakat mengenai seni rupa dan penulisan amat lemah. Penghargaan secara materiil untuk penulisan rendah sekali sehingga tidak bisa diharapkan untuk hidup. Kesempatan untuk 'melanglang buana' hampir nol."


 


Begitulah realitas bidang seni rupa Indonesia mutakhir, yang tercatat masa itu. Tak kurang menariknya pula opini Popo Iskandar, mengenai seorang seniman. Pelukis kelahiran Garut 1927 itu antara lain menyatakan bahwa "Seorang seniman harus memegang teguh keyakinan seninya, sebagaimana ia tidak boleh goyah mempertahankan sikap hidupnya apapun terjadi."


 


Melukis? Srihadi Sudarsono salah seorang pelukis Indonesia yang tak seberapa jumlahnya yang sempat melakukan banyak kali pameran, baik di dalam maupun di luar negeri, lahir di Solo 1931, bilang: "Melukis adalah semacam dialog yang abadi antara batin dan impian-impian yang disertai mobilitas fikiran. Lalu gagasan-gagasan terbentuk dari dorongan-dorongan dalam yang paling intens sebagai reaksi keterlibatan dengan seluruh ruang lingkup dalam arti yang sangat luas ini adalah semacam semangat meditatif, suatu proses kristalisasi."


 


"Melukis itu sama dengan bekerja," kata Affandi. "Tidak melukis atau tidak bekerja sama dengan tidak makan." Pelukis kelahiran Cirebon 1907 ini, dari aktivitas-kreativitasnya yang luarbiasa selama setengah abad memang patut menerima julukan pelukis raksasa Indonesia. Kekayaan yang diperoleh dari hasil kerjanya juga memang patut pula. Harga lukisannya kini antara  20 sampai 50 juta rupiah. Kalipun kini ia kaya berkat kreasinya, tapi tetap hidup sederhana dan tidak boros. Kerna dia tidak melupakan masa kanak dan mudanya yang dilewati dengan penuh  penderitaan.


 


Dalam hubungan penderitaan dan perasaan serta kreativitasnya, Affandi bilang: "Kalau melihat barang aneh yang menderita, yang menyentuh hati, keluarlah sentuhannya. Kalau saya keluar sentuhan, itu mungkin jadi obyek, jadi motif untuk dilukis. Jadi tugas saya sebagai pelukis adalah mengeluarkan yang isi hati. Yang isinya saya katakan perasaan. Hanya itu. Toh bagus perasaannya. Kalau dikeluarkan pasti bagus. Kalau yang dikeluarkan yang jelek, bukan berarti menyuruh jelek. Misalnya saya senang menonton dan melukis adu ayam. Ini demi memperingatkan umum, janganlah menjalankan

Resensi lain tentang Senirupa Indonesia Tahun Delapanpuluhan

Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------