Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Studi Komunikasi/Media>Beberapa METHODOLOGI STUDY ISLAM

Beberapa METHODOLOGI STUDY ISLAM

oleh: Pamoengkas    
ª
 
1. Muhammad Arkoun (dalam Islam Autentik)

Arkoun, sebagaimana dikatakan Robert D. Lee, menawarkan beberapa metodologi terpilih dari paham-paham kontemporer. Yaitu metodologi semiotika (semiologi ilmu tentang “tanda”) linguistik (kebahasaan), antropologi, sosiologi, ekonomi, filsafat, dan sebagainya. Termasuk fenomenologi (pendirinya: Edmund Husserl).

Tujuannya dari pendekatan fenomenologis adalah untuk melihat ide-ide agama, amalan-amlannya, dan lembaga-lembaganya dengan mempertimbangkan “tujuannya”, tanpa menghubungkannya dengan teori-teori filosofis, teologis, metafisis, atau psikologis.

2. Fazlur Rahman

Rahman, menawarkan dua metodologi pembaharuan hukum Islam, yaitu:

a. Historico – critical methode (metodologi kritik sejarah)

Bertujuan menemukan fakta-fakta obyektif secara utuh dan sekaligus mencari nilai-nilai (values) yang terkandung di dalamnya. Rahman, membuat kategorisasi Islam menjadi dua bagian “Islam Normatif” dan “Islam Historis”.

b. Hermeneutic methode

Menurut EDE. Schleir Macher, ada dua tugas hermeneutik, yaitu:

1). Intepretasi grametikal

2). Isterpretasi psikologis

3. Amin Abdullah

Amin Abdullah, menawarkan perlunya pendekatan ganda

a. Pendekatan teologis normatif, partikularistik

b. Pendekatan historis kritis

Di sisi yang lain, ia juga menekankan perlunya pendekatan yang bersifat komprehensif, multidisipliner dengan menggunakan metodologi yang bersifat historis kritis melengkapi penggunaan metodologi yang bersifat doktriner normatif.

4. Aly Syari`ati (dalam metodologi studi Islam)

Islam harus dilihat dari “beberapa dimensi”, menurut Aly Syari`ati, ada beberapa metodologi memahami Islam:

1). Mengenal Allah dan membandingkannya dengan Allah pada agama-agama lain.

2). Mempelajari al-Qur’an dan membandingkannya dengan kitab-kitab samawi lainnya.

3). Mempelajari kepribadian rasul dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembaharuan, yang hidup dalam sejarah Islam.

4). Mempelajari tokoh-tokoh Islam dan pemikiran untuk kemudian dibandingkan dengan tokoh-tokoh dan pemikirannya di luar Islam.

Alhasil, Ali Syari`ati, menawarkan metodologi “Komperatif/komparasi”.

5. Nasruddin Razak (dalam dienul Islam)

Islam harus dipahami secara komprehensif dan menyeluruh tidak parsial, sepotong-sepotong.

Nasruddin Razak, mengajukan empat metodologi memahami Islam.

a. Isla harus dipelajari dari sumber yang asli, al-Qur'an dan al-Sunnah.

b. Islam harus dipelajari secara "integral" tidak dengan parsial, artinya Islam harus dipelajari secara menyeluruh.

c. Islam harus dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh ulama besar, dan sarjana-sarjana muslim.

d. Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis, yang ada dalam al-Qur'an untuk kemudian dipersambungkan dengan kenyataan historis, empiris, sosiologis yang ada di masyarakat.

6. Mufti Aly (dalam Ilmu Perbandingan Agam di Indonesia)

Mufti Aly, menawarkan "metode sintesis". Artinya, perpaduan antara pendekatan ilmiah – Cum Doktriner – dan pendekatan scientific – Cum Sul Generis – tidak bisa dihubungkan dengan pendekatan dalam bidang-bidang yang lain. Mufti Aly, juga menekankan penting memahami Islam secara menyeluruh, bulat dan komprehensif.

Mufti Aly, juga menawarkan metode tripologi dengan mengenali spek dan ciri agama, yaitu aspek ketuhanan, aspek kitab suci, dan aspek kondisi ketika munculnya nabi dan seterusnya.

7. Abudin Nata

Menurut kesimpulan Abuddin Nata, setidakny ada dua metode/pendekatan, untuk memahami Islam, yaitu: metode komparasi dan metode sintesis. Yaitu pemaduan antara antara metode ilmiah yang bercirikan empiris, rasional dan obyektif, kritis dan seterusnya dengan metode teologis-normatif.

Metode ilmiah (bercorak rasional, obyektif dan kritis) untuk memahami Islam yang nampak dalam realita sejarah, empiris dan sosiologis. Sedangkan metode teologis normatif untuk memahami Islam dalam kitab suci.

8. Imam Nakha’i

Islam harus dipahami secara menyeluruh (komprehensif) dan terpadu dari keseluruhan sumber-sumber otoritatif Islam. Yaitu: al-Qur'an, al-Sunnah, dan ayat-ayat kauniyyah (ayat-ayat yang terbentang dalam kehidupan nyata umat manusia dan tidak tersabdakan) dengan menggunakan pendekatan/metode-metode filosofis sosiologis, antropologis, teologis, fenomenologis, psikologis, budaya, ekonomi, dan politik. Islam tidak boleh dipahami secara parsila dan tidak utuh

Diterbitkan di: 04 Mei, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    contoh dari cara memahami islam secara benar? Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.