Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Studi Komunikasi/Media>Studi Semiotika:Film I Not Stupid Too, Representasi Disfungsi Keluarga

Studi Semiotika:Film I Not Stupid Too, Representasi Disfungsi Keluarga

oleh: christyms    
ª
 
Film I Not Stupid Too dibuat tahun 2006 di Singapura tentang komunikasi keluarga. Film ini mengangkat perbedaan hubungan antar generasi dan kesalahpahaman yang muncul. Menurut berita di sebuah situs online, Channel NewsAsia tertanggal 4 Februari 2006, Jack Neo selaku sutradara mengatakan film ini dibuat berdasarkan inspirasi dari buku pendidikan keluarga berjudul Appreciation Education yang ditulis seorang pendidik Cina bernama Zhou Hong. Buku tersebut berorientasi pada pendidikan keluarga berdasarkan potensi anak. Bahwa tidak ada ‘benih’ yang buruk yang tidak dapat ditumbuhkan. Setiap ‘benih’ bisa ditumbuhkan, namun yang banyak adalah ‘para petani’ yang tidak tahu bagaimana menumbuhkannya.
Jack Neo tidak hanya menjadi sutradara, tetapi juga menjadi penulis naskah dan pemeran dalam film ini. Jack Neo mengatakan, pada tahun 2006 ketika film ini dibuat, anak-anak muda di Singapura menyebutkan kata-kata “so lame”, “whatever”, dan “so cool man!”. Sepuluh tahun kemudian, ketika kita menonton film ini lagi, kita akan tahu bahwa inilah bahasa yang digunakan pada saat itu (2006). Sekalipun film ini menyinggung sistem pendidikan di Singapura yang diterapkan oleh pemerintah, Jack Neo mengatakan dia tidak anti pemerintah. Bila dia memiliki sebuah pemikiran yang kuat tentang sesuatu, dia tidak akan berdiam saja. Inilah caranya berkontribusi kepada masyarakat.
Film I Not Stupid Too adalah sekuel dari film I Not Stupid yang dibuat tahun 2002, yang juga ‘meledak’ di pasaran. Film ini menceritakan persaingan luar biasa di bidang pendidikan di Singapura. Menampilkan tiga tokoh anak kecil dari tiga latar belakang keluarga yang berbeda, film ini mengkritik sistem pendidikan dan tingkah laku sosial di Singapura yang sering membeda-bedakan kemampuan anak berdasarkan prestasi pendidikan dalam bidang matematika. Dari sekian banyak filmnya, Jack Neo sering mengangkat keluarga sebagai latar belakang. Lebih khusus lagi tentang disfungsi keluarga, film I Not Stupid dan sekuelnya paling banyak berbicara tentang disfungsi keluarga.
Menampilkan dua keluarga dengan kondisi yang berbeda, Jack Neo selaku sutradara I Not Stupid Too ingin menggambarkan keberadaan keluarga yang mempunyai peran penting dalam kehidupan seseorang. Film ini mendapat sambutan yang besar, khususnya dari masyarakat Singapura. Dibuktikan dengan berkembangnya film I Not Stupid Too menjadi sebuah sitcom (komedi situasi) dengan judul yang sama, ditayangkan sebanyak 13 episode dengan durasi 30 menit di setiap penayangannya. Versi sitkomnya ditayangkan pada tanggal 23 September-16 Desember 2006. Film ini mendapat respon positif dari masyarakat sehingga sebuah televisi swasta di Singapura, yaitu Channel 8 membuat sebuah program talkshow bernama I Not Stupid Forum. Acara ini dikemas untuk keluarga dan membahas permasalahan anak muda. Dipandu langsung oleh Jack Neo, menghadirkan profesor dan ahli psikologi menjadi nara sumber yang memaparkan kondisi anak-anak muda zaman sekarang.
I Not Stupid Too menceritakan kehidupan tiga keluarga Singapura dengan latar belakang yang berbeda. Keluarga pertama adalah keluarga Tuan Yeo dengan istrinya yang mempunyai dua anak laki-laki bernama Tom Yeo dan Jerry Yeo. Keluarga ini tinggal bersama ibu dari Tuan Yeo dan seorang pembantu rumah tangga bernama Yati yang berasal dari Indonesia. Tuan Yeo dan istrinya sama-sama sibuk bekerja dan jarang sekali melewatkan waktu bersama kedua anak mereka karena mereka selalu pulang larut malam. Keluarga ini hidup dengan perekonomian yang cukup baik. Keluarga ini merepresentasikan kehidupan keluarga yang sangat sibuk dengan pendapatan menengah ke atas.
Keluarga Yeo menggambarkan kehidupan keluarga kelas menengah dan atas (middle and upper class) di Singapura yang terdiri dari suami dan istri yang bekerja, yang bahkan bisa saja memiliki rekening keuangan yang terpisah. Keluarga seperti ini adalah keluarga yang tidak terlalu tergantung pada sanak saudara, sekalipun mereka mempunyai hubungan yang baik. Keluarga dari kelas ini menghabiskan waktu luang mereka lebih banyak dengan orang di luar lingkaran keluarga dan mencari dukungan sosial dari relasi berdasarkan teman sekolah, teman di kantor, atau sesama anggota sebuah komunitas.
Keluarga kedua adalah keluarga Tuan Lim yang merupakan orangtua tunggal dari Chengcai, satu-satunya anak di keluarga itu. Ibu dari Chengcai telah meninggal dunia. Tuan Lim adalah seorang mantan narapidana yang sangat menyayangi Chengcai namun tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Satu-satunya cara yang dia tahu tentang cara mendidik anak adalah dengan memukul. Keluarga ini merepresentasikan keluarga dengan orangtua tunggal yang tingkat pendidikan dan ekonominya rendah.
Keluarga ketiga adalah keluarga pembanding dengan orangtua tunggal juga. Perbedaannya adalah, dalam keluarga ini sang ibu masih hidup dan bekerja membuka restoran. Ibu tersebut memiliki satu anak laki-laki dan satu anak perempuan yang semuanya masih kecil. Anak laki-lakinya menjadi atlit tolak peluru, yang perempuan masih belajar di Sekolah Dasar. Perbedaannya adalah, sang ibu tahu bagaimana caranya menghargai potensi anak-anaknya dan terus mendukung hingga menuai prestasi. Sang ibu adalah teman dari Tuan Lim, ayah Chengcai. Meski menampilkan tiga keluarga, yang menjadi sorotan dan banyak diceritakan dalam film ini adalah dua keluarga pertama, keluarga Tuan Yeo dan
keluarga Tuan Lim.
Seorang kritikus film MovieXclusive.com, Richard Lim Jr mengatakan meski dua keluarga ini berasal dari latar belakang finansial dan status sosial berbeda, mereka menghadapi masalah yang sama: kurangnya komunikasi dan saling pengertian dalam keluarga. Bila I Not Stupid mengkritik sistem pendidikan dan budaya sosial di Singapura, maka I Not Stupid Too banyak menampilkan kompleksitas permasalahan dalam keluarga zaman ini. Seperti pendidikan seks pada anak, perkelahian antar geng, budaya blog yang dinilai efektif sebagai tempat anak berpendapat, kenakalan remaja, populernya bahasa Inggris lebih dari bahasa Mandarin di Singapura, hingga peraturan pendidikan di Singapura dalam menertibkan pelajar.
Film ini saya rekomendasikan bagi yang ingin belajar lebih tentang komunikasi keluarga, terutama  orangtua kepada anak. Sekaligus menjadi alat refleksi yang baik bagi seluruh anggota keluarga, tidak hanya orangtua. Baca lebih jauh tentang film ini,representasi, disfungsi keluarga, melalui metode Semiotika John Fiske: http://dewey.petra.ac.id/dts_search_s imple.php?keyword=I+not+stupid+too&sour ce=title&Submit2=Search+!&mode=display&result_per_page=10&npage=1
Diterbitkan di: 10 September, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.