Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Wali Nikah Anak "MBA"

oleh: hepcore     Pengarang: Ust. Abdul Kholiq; Lc
ª
 
Hal ini sering menjadi pembicaraan serius antara saya dengan banyak pihak, banyak yang memberikan pengertian mengenai hal ini menurut dan sesuai dengan ajaran Islam. Artikel ini sedikit banyak memberikan saya jawaban yang paling tidak bisa dijadikan acuan sebaiknya bagaimana. Artikel ini saya dapatkan dari sebuah majalah edaran "bmhnews [Baitul Maal Hidayatullah News] pada rubrik "Ruang Syariah", yang menjelaskan mengenai hal ini dengan diawali pesan konsultasi dari seorang Pria yang akan menikah dengan seorang Wanita dengan latarbelakang orang tua dari si Wanita, sang ibu telah hamil lebih dulu sebelum menikah dengan bapak [suaminya] pada waktu itu..
---
Assalamu'alikum Wr.Wb
Ustaz, saya mempunyai calon istri. Dia bercerita, dulu kedua orang tuanya sebelum menikah, sang ibu telah hamil lebih dulu. Setahu saya wanita yang hamil tidak dapat dinikahkan sampai ia melahirkan. Orang tua calon istri saya setelah melahirkan tidak dinikahkan ulang, sampai mereka mempunyai 2 orang anak lagi. Sekarang mereka telah bercerai dan masing-masing telah menikah lagi. Siapakah yang menjadi wali calon istri saya pada pernikahan nanti?

Jawab :
Wa'alaikumssalam warahmatullohi wabarokatuh, Memang cukup populer bahwa pernikahan yang dilangsungkan saat hamil adalah tidak sah. Begitu pula bila kehamilan itu terjadi karena perzinahan. Kalaupun tetap dilangsungkan, tidak lain adalah sebagai bentuk pertanggung jawaban pria terhadap wanita yang hamil tersebut.

Aspek lainnya adalah demi memberi kejelasan nasab anak, agar tidak terjadi ketidak nyamanan sosial saat dewasa. Selanjutnya kalau pun terlah berlangsung, maka setelah melahirkan anak hasil perzinahan tadi, harus ada pernikahan ulang. Demikian sederet keyakinan yang cukup populer pada masyarakat terkait dengan pernikahan saat kehamilan karena zina.

Kejadian perzinahan bukanlah barang baru, sehingga para ulama masa lalu telah memberikan petunjuk sebagai hasil ijtihad mereka berdasar petunjuk-petunjuk Al-Qur'an dan sunnah Nabi s.a.w. Para ulama membedakan antara dua hal. Pertama, bila yang menikahi adalah pria yang menzinahi, dan Kedua, bila yang menikahi adalah orang lain.

Untuk yang pertama, yaitu yang menzinahinya sendiri, maka semua ulama sepakat bahwa yang demikian adalah boleh dan sah. Kemudian bila janin tersebut lahir lebih dari enam bulan setelah pernikahan, maka anak tersebut dinasabkan secara sah kepada suami tersebut. Namun bila kurang dari enak bulan, maka tidak dinisabkan kepadanya kecuali dia mengklaim bahwa itu adalah anaknya, maka pihak berwenang harus mengakuinya. (Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, VII:148)

Adapun untuk kasus kedua, madzihab Hanbali menyatakan tidak sah kecuali dengan dua syarat, yaitu bertaubat dan pasca melahirkan dinikahkan kembali berdasar pada ayat tiga dari surat an-Nur dan hadis-hadis yang mendukung.

Dari keterangan di atas, maka tidak perlu disangsikan bahwa pernikahan mertua itu tidak masalah, alias sah. Bila demikian, maka yang paling berhak menjadi wali calon istri Anda adalah ayah calon instri tersebut. Apa lagi tidak diragukan lagi bahwa calon istri Anda adalah anak yang terproses dan lahir setelah anak pertama hasil perzinahan itu. Semoga Alloh memberikan kebahagiaan dan perlindungan keluarga kita dari kekhilafan. Amin, Wallahu a'alam

Diterbitkan di: 15 Januari, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.