Halaman Utama Shvoong > Bisnis & Ekonomi > Manajemen & Kepemimpinan > Birokrat Jangan Mau Untung Duluan

.

Birokrat Jangan Mau Untung Duluan

Summary rating: 3 stars 7 Tinjauan
Pengarang : Dikdo
Summary by : McDeeck
Kunjungan : 536  kata: 900   Diterbitkan di: Nopember 08, 2007
DALAM menghadapi tujuh prioritas Kota Bandung Tahun 2008 yang dicanangkan Pemkot Bandung, antara lain dalam hal kemakmuran dengan pencapaian laju pertumbuhan ekonomi (LPE) 11%, lalu Bandung Kota Seni dan Budaya 2008, masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang perlu dilakukan. Apalagi jika mengejar predikat sebagai kota jasa dan tujuan wisata, masih banyak waktu untuk dikerjakan sebelum tiba HUT ke-198 Kota Bandung pada tahun 2008.Tak dapat dipungkiri, warga Bandung adalah sumber daya manusia kreatif yang bisa mengisi berbagai relung kehidupan. di bidang seni, tak terhitung sederet nama seniman yang berkiprah di tingkat nasional. Untuk seni pertunjukan, ada banyak nama grup musik yang menancapkan nama besarnya di pentas musik nasional, hingga ke negeri tetangga. Pun demikian dengan penari, penyanyi solo, pelawak, dan grup lawak. Padahal, Kota Bandung tidak atau belum memiliki gedung pertunjukan yang representatif.Selama ini, tempaan jiwa seni yang menggelora dari warga Bandung berasal dari pertunjukan yang memanfaatkan gedung olah raga (GOR) Saparua, Jln. Saparua, Bandung. Jelas kondisi gedung tersebut sangat jauh dari kualitas memadai untuk sisi tata suara dan tata cahaya pertunjukan. Namun, jiwa kreatif warga Bandung bisa mengatasi persoalan tersebut.Banyaknya tempat hiburan semacam diskotik, kafe, dan lain-lain menjadi panggung penempa jam terbang para musisi Bandung. Dahulu, pada ahun 1970 - 1980-an, panggung-panggung hiburan di tanah air selalu diisi Home Band asal Filipina. Kini, banyak pendatang baru dari warga setempat yang mengukir nama dan prestasi sebelum akhirnya masuk ke peta industri pertunjukan nasional.Di bidang busana, Kota Bandung seakan identik dengan gairah fashionista yang tak lekang dalam rotasi waktu. Gang Tamim yang dahulu dikenal sebagai daerah kulakan kain, sempat berkibar sebagai pusat penjulan busana jeans, katun, dan korduroy bersama-sama toko-toko sejenis di Jln. Pajajaran. Meski akhirnya kembali ke khittah-nya sebagai pusat kulakan kain, menyusul munculnya pusat jeans di ruas Jln. Cihampelas.Industri pembuatan kaos (T-shirt) juga berkembang, yang terpusat di penggalan ruas Jln. Suci (Surapati-Cicaheum). Belum lagi produsen kaos di luar kawasan Jln. Suci yang memiliki pasar nasional hingga mancanegara. Industri pernak-pernik atau aksesori busana hingga rumah tangga juga banyak dihasilkan warga Bandung.Lantas industri peralatan kegiatan di alam terbuka/bebas. Banyak merek peralatan berkemah atau kegiatan di alam bebas yang tumbuh dan berkembang dari basis Kota Bandung. Belum lagi industri modifikasi kendaraan roda dua dan roda empat yang cukup punya nama di berbagai ajang perlombaan.Beralih ke jasa boga, aneka jenis makanan cemilan hingga makanan pokok dan aneka jenis minuman bisa ditemui di Bandung. Inovasi-inovasi produk pangan sangat beragam dan memancing minat para pencinta kuliner untuk datang dan menyantap aneka produk yang tersebar di berbagai penjuru kota.Masih banyak potensi-potensi kreatif warga Bandung yang belum terkuak. Sementara yang sudah berjalan, baik berkiprah di Bandung, di luar Bandung, hingga di luar negeri terus berdenyut dan mengalirkan pendapatan bagi pajak dan retribusi kota, langsung ataupun tidak langsung.**PADA diskusi mengenai industri kreatif beberapa waktu lalu di Kampus ITB Bandung, berkaca pada pengalaman negara maju semacam Inggris dan Skotlandia dalam mengembangkan industri kreatif, diperlukan dukungan dan kejelasan sikap dari pemerintah terhadap industri tersebut.Industri kreatif menjadi magnet penggerak perekonomian dan penyerap angkatan kerja muda.Pembicara Brian McLaren, BA (Hons.), M.Sc. yang didatangkan British Council menuturkan pengalaman industri kreatif di Inggris, khususnya Skotlandia. Disebutkannya, dalam sepuluh tahun terakhir, industri kreatif tumbuh dan tidak hanya pada produk budaya atau kreatif, namun juga meliputi jasa dan lain-lain. ”Industri kreatif berbasis pada kreativitas individu, keahlian, dan bakat yang memiliki potensi menciptakan kesejahteraan lintas generasi dan pengembangan kekayaan intelektual,” ujarnya.Tak heran jika pemerintah setempat memfasilitasi pertumbuhan industri kreatif karena bisa menyerap 1 juta tenaga kerja di 117.500 bisnis kreatif dan memberikan kontribusi pendapatan negara 7,3% atau 57 miliar poundsterling (sekitar Rp 1.054,5 triliun).Bidang-bidang industri kreatif mencakup tiga kelompok besar yaitu produksi, jasa, dan seni dan kerajinan kriya. Secara umum, industri kreatif semacam penerbitan, perancang busana, permainan komputer (games), televisi dan radio, musik, desain, periklanan, arsitektur, seni dan barang antik, seni pertunjukan, kerajinan tangan, dan lain-lain.Sayangnya, untuk membangun industri kreatif di tanah air masih dihadapkan pada kendala keruwetan urusan perizinan di jajaran birokrasi. Ada sejumlah surat izin yang harus dibuat oleh calon pengusaha atau yang akan memulai berusaha. Bukan rahasia pula jika setiap perizinan berarti sekian rupiah untuk biaya pembuatannya, baik resmi ataupun yang tidak resmi.Susahnya membuat perizinan di Indonesia disebutkan Wayah S. Wiroto, Ph.D., Wakil Rektor III Universitas Bina Nusantara yang menjadi pembicara pada diskusi tersebut. Untuk membuat usaha bisa berjalan, diperlukan berbagai macam izin. Terkadang satu izin memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Belum lagi biaya tak resmi yang harus dikeluarkan orang yang mengurus perizinan.”Susah membuat perusahaan di Indoensia. terlalu banyak prosedur pengurusan perizinan yang memakan waktu. Sementara, di Singapura satu hari semua izin bisa selesai. Asalkan dokumen lengkap, hari ini mengurus perizinan, besok sudah bisa mulai usaha,” tuturnya.Itulah, ketika birokrat terpaku pada harapan ingin untung duluan. Prosedur layanan jasa bagi masyarakat menjadi sumber pemasukan. Padahal, jika mau bersabar untuk memetik hasilnya nanti, industri kreatif akan menimbulkan pusaran ”tornado” pertumbuhan ekonomi yang besar dan akan menyedot lebih banyak kalangan untuk menikmatinya. Cobalah bersabar untuk menumbuhkan industri kreatif dan memudahkan birokrasi perizinan usaha. Toh nantinya kan terjadi efek domino perbaikan taraf kehidupan warga. Tirulah Skotlandia dan Singapura.

Ringkasan lain tentang Birokrat Jangan Mau Untung Duluan
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------