Sebaliknya tokoh Maharajo Dirajo yang
dikatakan oleh Tambo sebagai salah seorang anak Iskandar Zulkarnain, kemungkinan merupakan
salah seorang Panglima Iskandar Zulkarnain yang ditugaskan menguasai pulau emas
(Sumatera), termasuk di dalamnya daerah Minangkabau. Dialah yang kemudian
menurunkan para penguasa di Minangkabau, jika
kita tafsirkan apa yang dikatakan
Tambo berikutnya. Sayangnya Tambo tidak pernah menyebutkan tentang kapan
peristiwa
itu terjadi selain ”pada masa dahulunya” yang mempunyai banyak
sekali penafsirannya.
Tambo juga mengatakan bahwa
nenek moyang
orang Minangkabau
dari puncak gunung merapi. Hal ini tidak dapat diartikan seperti
yang dikatakan itu, tetapi seperti kebiasaan orang Minangkabau sendiri harus
dicari tafsirannya, karena orang Minangkabau selalu mengatakan sesuatu melalui
kata-kata kiasan, ”tidak tembak langsung”. Tafsirannya kira-kira sebagai
berikut: Sewaktu Maharajo Dirajo sedang berlayar menuju pulau emas dalam
mengemban tugas yang diberikan oleh Iskandar Zulkarnain, pada suatu saat dia
melihat daratan yang sangat kecil karena masih sangat jauh. Setelah sampai ke
daratan tersebut ternyata sebuah gunung, yaitu gunung merapi yang sangat besar.
Tetapi oleh pewaris Tambo kemudian gunung Merapi sangat kecil yang mula-mula
kelihatan itulah yang dikatakan sebagai tanah asal orang Minangkabau.
Selanjutnya cerita Tambo yang demikian, juga masih ada sampai sekarang pada
zaman kita ini.
Ada baiknya kita kutip apa yang dikatakan Tambo itu
sebagai yang dikatakan oleh Sang Guno Dirajo: ”...Dek lamo bakalamoan,
nampaklah gosong dari lauik, yang sagadang talua itiak, sadang dilamun-lamun
ombak...” (sesudah lama berlayar akhirnya kelihatanlah pulau yang sangat
kecil kira-kira sebesar telur itik yang kelihatan hanya timbul tenggelam sesuai
denga turun naiknya ombak).
Selanjutnya dikatakan:”...Dek lamo - bakalamoan aia
lauik basentak turun, nan gosong lah basentak naiak, kok dareklah sarupo paco,
namun kaba nan bak kian, lorong kapado niniak kito, lah mendarek maso itu, iyo
dipuncak gunuang marapi...” (karena sudah lama berlayar dan pasang sudah
mulai surut, gosong yang kecil tadi makin besar, daratan yang kelihatan itu tak
obahnya seperti perca, maka dinamakanlah daratan itu dengan pulau perca yang
akhirnya didarati oleh nenek moyang kita yang mendarat kira-kira di gunung
merapi).
Peristiwa inilah yang digambarkan oleh mamangan adat
Minangkabau berbunyi “dari mano titiak palito, dari telong nan barapi, dari
mano asal niniak kito, dari puncah gunuang marapi” (dari mana titik pelita
dari telong yang berapi, dari mana datang nenek kita, dari puncak gunung
merapi). Mamangan adat ini sampai sekarang masih dipercaya oleh sebagian besar
masyarakat Minangkabau..
Bagi kita yang menarik dari cerita Tambo ini bukanlah
mengenai arti kata-katanya melainkan adalah cerita itu memberikan indikasi
kepada kita tentang nenek moyang orang Minangkabau asalnya datang dari laut,
(dengan berlayar) yang waktunya sangat lama. Kedatangan nenek moyang inilah
yang dapat disamakan dengan masuknya nenek moyang orang Minangkabau. Dengan
demikian masuknya nenek moyang orang Minangkabau dapat diperkirakan waktu
kedatangannya: yaitu antara abad kelima sebelum masehi dengan abad pertama
sebelum masehi, sesuai dengan umur kebudayaan megalit itu sendiri.
Kembali kepada permasalahan pokok pada bagian ini,
maka menurut Soekomo, tradisi Megalit pada mulanya merupakan batu yang
dipergunakan sebagai lambang untuk memperingati seorang kepala suku. Sesudah
kepala suku itu meninggal, akhirnya peringatan itu berubah menjadi penghormatan
yang lambat laun menjadi tanda pemujaan kepada arwah nenek moyang.
Selengkapnya Baca di : http://tb2g.multiply.com/journal/item/41/Sejarah_Minang_Kabau
Ringkasan lain tentang Sejarah Minang Kabau II