Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Antropologi>Legenda Serabi Kalibeluk Batang

Legenda Serabi Kalibeluk Batang

oleh: kasam     Pengarang : Kawe Shamudra
ª
 
ADA sisi menarik dari Serabi Kalibeluk. Kudapan empuk dari Desa Kalibeluk, kecamatan Warungasem, Batang ini memiliki nilai sejarah dan legenda yang unik. Bagi warga Kalibeluk, membuat serabi merupakan usaha tradisional warisan nenek moyang. Kesan tradisionalnya sangat kelihatan, terutama dari proses pengolahannya.

Yang membedakan antara serabi Kalibeluk dengan serabi-serabi lainnya barangkali hanya pada unsur kesejarahan dan trade mark yang sudah kelewat melekat di benak masyarakat sehingga menimbulkan kesan istimewa. Semacam “legitimasi” dalam budaya kuliner yang menimbulkan fanatisme masyarakat dalam memilih jajanan.

Serabi Kalibeluk digemari dan jadi legenda bukan karena kelezatannya saja, tetapi ada cerita unik di belakangnya. Tidak jelas sejak kapan masyarakat Kalibeluk menekuni usaha pembuatan serabi, tetapi berdasarkan legenda, tradisi membuat serabi ini sudah ada sejak jaman Mataram.

Dikisahkan, dahulu di desa Kalisalak ada seorang gadis cantik bernama Dewi Rantansai yang hendak dipersunting Sultan Mataram. Maka diutuslah orang kepercayaan Sultan bernama Bahureksa untuk menemui Dewi Rantansari untuk melamarnya. Namun setelah bertemu Dewi Rantansari, ternyata Bahureksa berubah pikiran. Dirinya justru jatuh cinta pada Dewi Rantansari dan berniat mempersuntingnya untuk diri sendiri.

Untuk mengelabuhi Sultan, maka Bahureksa membuat rekayasa dengan menyuruh gadis lain yang kecantikannya setara dengan Dewi Rantansari. Dipilihlah Endang Wiranti, anak penjual serabi dari desa Kalibeluk. Gadis cantik itu disuruh menemui Sultan Mataram dengan menyamar sebagai Dewi Rantansari.

Sultan Mataram menerima Endang Wiranti dengan senang hati, tetapi Endang Wiranti tidak kuasa membohongi hati nuraninya sampai akhirnya pingsan. Setelah siuman Endang Wiranti mengakui jati diri yang sebenarnya. Lantaran kejujurannya, maka Sultan Mataram menyuruh Endang Wiranti pulang ke desanya dan menghadiahi sejumlah uang agar bisa meneruskan usaha orang tuanya berjualan serabi di desa Kalibeluk.

Legenda tersebut sudah terpatri kuat dalam ingatan kolektif masyarakat Batang. Tokoh legenda Endang Wiranti diyakini benar-benar pernah ada dan menjadi representasi pedagang serabi di desa Kalibeluk.

Pesan moral yang didapat dari tokoh Endang Wiranti adalah kejujuran dan kesederhanaan, yang merupakan mutiara sangat berharga dari hidup. Lantaran kejujuran inilah Endang Wiranti mendapatkan hadiah dan bisa meneruskan usaha orang tuanya berjualan serabi.
Kisah sentimentil itu mungkin tidak terlalu penting. Persoalan saat ini adalah bagaimana mengupayakan agar usaha serabi di desa Kalibeluk bisa berkembang dan mampu mensejahterakan masyarakatnya. Tidak hanya hebat dalam hal promosi dan reputasi.

Selama ini serabi Kalibeluk sudah kondang di mana-mana karena telah dipromosikan lewat berbagai event. Pemkab Batang lewat Kantor Pariwisata pernah mengajak para penjual serabi menggelar dagangannya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada saat kontingen kesenian Batang tampil di Anjungan Jateng.
Diterbitkan di: 13 April, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.