/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-style-parent:"";
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";}
Salah satu dampak globalisasi yang paling
membahayakan kehidupan suatu negara ialah "the end of Nation
State" , karena adanya perubahan pendekatan yang sering disebut the
four in yaitu industry, invesment, individual:; dan information. Salah satu
cara untuk menghadapi dampak globalisasi tersebut ialah dengan memperkuat
idiologi negara yang mendasarkan pada nilai-nilai budaya itu sendiri. Huruf
Jawa Hanacaraka yang
oleh pendukungnya dianggap
memiliki nilai
"Adiluhung" merupakan salah
satu solusi alternatif dalam mempertahankan kepribadian bangs Indonesia
umumnya dn masyarakat Jawa khususnya. Karakteristik orang jawa yang sopan,
jujur, ramah-tamah, baik hati, rajin, kolot, tradisional dan percaya kepada
tahayul maupun kekuatan gaib memiliki cara unik dalam menghadapi dampak
globalisasi tersebut, yaitu dengan mengkaji pada nilai-nilai luhur yang
tersembunyi di balik hurup Hanacaraka. Hal ini salah satu sebab ialah tidak
transparannya nenekfhoyang orang Jawa dalam menyampaikan nasehat, petunjuk
tentang nilai-nilai luhur kepada generasi penerus .
Secara acak penulis mengajak pembaca untuk
menafsirkan tentang misteri yang ada di balik hurup Hanacaraka.
Aji Saka pembawa hurup Hanacaraka ke Jawa
Kisah Aji saka ketanah Jawa dapat dibaca pada buku
beraksara Jawa "Layang Hanacaraka
1 & //" yang ditulis oleh Darmabrata 1939. Dalam buku itu secara
kronologis/ berturutan diceritakan : 1. Dongenge Aji Saka Angejawa 2. Aji Saka
ana ing negara Mendangkamolafi 3. Aji Saka jumeneng Ratu 4. Sang Prabu Jika iya
Sang Prabu Widayaka nimbali si Dora lan si Sembada 5. Sang Prabu Widayaka
nganggit aksara Jawa. Uraian carakan itu dikelompokkan menjadi 4(empat) baris.
Makna Hanacaraka
Kebiasaan orang Jawa yang gemar menggunakan bahasa
simbolis, maka dalam menelusuri dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam
hurup Hanacaraka melalui brbagai aspek antara lain : segi kebahasaan, kerata
basa maupun menggali kedalam makna fllosofis yang terdapat di dalam hurup
Hanacaraka tersebut.
Tanda-tanda baca yang di sebut " sandhangan"
Jawa ternyata bahsa Jawa lebih bervariasi bila dibandingkan dengan tanda
baca yang dipergunakan oleh hurup Arab. Adapun tanda-tanda baca yang
dipergunakan dalam tulisan Jawa ialah : wulu ( O
) untuk bunyi vokal I - ad/; suku (
jj ) untuk bunyi vokal u
– bwkw; pepet ( \/ ) untuk bunyi vokal
e – beja; taling (*?•• ) untuk
bunyi vokal e – tela; taling tarung (^ .... z) untuk bunyi vokal o – solo;
layar ( / ) untuk hurup mati r – layar; cakra ( . * ) untuk hurup r ditengah dua hurup – petra;
pangku ( _/ ) untuk kata-kata
mati-rata/?.
Bahkan sering
kita dapati tanda baca mati yang lain seperti dipasangi dan dipanggul. Dan
tanda-tanda baca yang dipergunakan dalam bahasa Jawa dapat ditarik kesimpulan
bahkan pelajaran yang berharga yaitu :"Bahwa orang Jawa jika tidak
berhali-hati ia akan mati atau celaka dipasangi jebakan ,dipangku/nina bubuk,
dipjinggul-panggul (disanjung) ,di puji-puji dan dijunjung secara
bcrlebilvlebihan . Dan untuk itu semua orang Jawa perlu waspada.