Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Antropologi>Huruf jawa sejarah dan maknanya (jilid 1)

Huruf jawa sejarah dan maknanya (jilid 1)

oleh: ayahenawal     Pengarang : slamet r
ª
 
/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-style-parent:""; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman";}

Salah satu dampak globalisasi yang paling membahayakan kehidupan suatu negara ialah "the end of Nation State" , karena adanya perubahan pendekatan yang sering disebut the four in yaitu industry, invesment, individual:; dan information. Salah satu cara untuk menghadapi dampak globalisasi tersebut ialah dengan memperkuat idiologi negara yang mendasarkan pada nilai-nilai budaya itu sendiri. Huruf Jawa Hanacaraka yang oleh pendukungnya dianggap memiliki nilai "Adiluhung" merupakan salah satu solusi alternatif dalam mempertahankan kepribadian bangs Indonesia umumnya dn masyarakat Jawa khususnya. Karakteristik orang jawa yang sopan, jujur, ramah-tamah, baik hati, rajin, kolot, tradisional dan percaya kepada tahayul maupun kekuatan gaib memiliki cara unik dalam menghadapi dampak globalisasi tersebut, yaitu dengan mengkaji pada nilai-nilai luhur yang tersembunyi di balik hurup Hanacaraka. Hal ini salah satu sebab ialah tidak transparannya nenekfhoyang orang Jawa dalam menyampaikan nasehat, petunjuk tentang nilai-nilai luhur kepada generasi penerus .

Secara acak penulis mengajak pembaca untuk menafsirkan tentang misteri yang ada di balik hurup Hanacaraka.


Aji Saka pembawa hurup Hanacaraka ke Jawa

Kisah Aji saka ketanah Jawa dapat dibaca pada buku beraksara Jawa "Layang Hanacaraka 1 & //" yang ditulis oleh Darmabrata 1939. Dalam buku itu secara kronologis/ berturutan diceritakan : 1. Dongenge Aji Saka Angejawa 2. Aji Saka ana ing negara Mendangkamolafi 3. Aji Saka jumeneng Ratu 4. Sang Prabu Jika iya Sang Prabu Widayaka nimbali si Dora lan si Sembada 5. Sang Prabu Widayaka nganggit aksara Jawa. Uraian carakan itu dikelompokkan menjadi 4(empat) baris.


Makna Hanacaraka

Kebiasaan orang Jawa yang gemar menggunakan bahasa simbolis, maka dalam menelusuri dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam hurup Hanacaraka melalui brbagai aspek antara lain : segi kebahasaan, kerata basa maupun menggali kedalam makna fllosofis yang terdapat di dalam hurup Hanacaraka tersebut.

Tanda-tanda baca yang di sebut " sandhangan" Jawa ternyata bahsa Jawa lebih bervariasi bila dibandingkan dengan tanda baca yang dipergunakan oleh hurup Arab. Adapun tanda-tanda baca yang dipergunakan dalam tulisan Jawa ialah : wulu ( O ) untuk bunyi vokal I - ad/; suku ( jj ) untuk bunyi vokal u – bwkw; pepet ( \/ ) untuk bunyi vokal e – beja; taling (*?•• ) untuk bunyi vokal e – tela; taling tarung (^ .... z) untuk bunyi vokal o – solo; layar ( / ) untuk hurup mati r – layar; cakra ( . * ) untuk hurup r ditengah dua hurup – petra; pangku ( _/ ) untuk kata-kata mati-rata/?.

Bahkan sering kita dapati tanda baca mati yang lain seperti dipasangi dan dipanggul. Dan tanda-tanda baca yang dipergunakan dalam bahasa Jawa dapat ditarik kesimpulan bahkan pelajaran yang berharga yaitu :"Bahwa orang Jawa jika tidak berhali-hati ia akan mati atau celaka dipasangi jebakan ,dipangku/nina bubuk, dipjinggul-panggul (disanjung) ,di puji-puji dan dijunjung secara bcrlebilvlebihan . Dan untuk itu semua orang Jawa perlu waspada.

Diterbitkan di: 25 Oktober, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.