Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Mempertautkan Dua Hati

oleh: elha     Pengarang: Prof. Dr. H.M. Amin Syukur; M.A.
ª
 
Berawal dari sebuah khutbah nikah untuk putri sulungnya, tahun 2005, buku mungil nan cantik ini terkemas dengan sempurna. Hijau, sejuk terpancar dari sampulnya, yang melambangkan keteduhan hati dalam kehidupan rumah tangga. Tertulis kata "Mempertautkan Dua Hati", sebagai judul yang di-icon-kan kepadanya. Meski belum ber-ISBN (International Standard Book Number), buku ini telah tercetak, puluhan, bahkan ribuan eksemplar, terutama sebagai souvenir pesta perkawinan.
Buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Amin Syukur, M.A. dan diedit oleh Elmansyah Al-Haramain ini berisi tentang Ubo Rampe (Bhs. Jawa), yang artinya segala perlengkapan yang harus ada, dalam sebuah proses dan prosesi pernikahan Islami. Isinya, berkisar tentang persiapan pernikahan, mulai dari perkenanlan antara si Gadis dan Si Bujang, Pendekatan, Pencarian Informasi mendalam, sampai ke Khitbah (lamaran). Setelah itu, persiapan pernikahan, lalu prosesi pernikahan. Banyak hal yang ditawarkan, secara Islami oleh penulisnya, agar tidak menyimpang dari akal sehat dan tradisi keislaman. Kemudian, diakhiri dengan Khutbah Nikah, yang semestinya disampaikan oleh orang tua mempelai.
Hal yang paling menarik dari sajian buku ini adalah ketika ia berbicara tentang perencanaan. Seseorang harus tahu betul tentang untuk apa ia menikah? Lalu apa yang dilakukan setelah menikah? Ada pepatah mengatakan, The Most Importance is, not about the wedding, but what and how about after the wedding?
Selain itu, kita tidak terjebak oleh ramalan-ramalan yang tidak rasional untuk diikuti, misalnya penentuan hari, ketika hendak merencanakan hari H untuk menyelenggarakan peristiwa bersejarah itu. Kebanyakan orang jawa, sering terjebak dalam masalah ini. Ada hari nahas, adan hari baik, dan seterusnya, dan ini semua begitu dipercayai secara turun temurun. Padahal, dalam konsepsi Islam, tidak ada ketentuan semacam itu? Sudah jelas rukun dan syaratnya dalam al-Qur'an maupun al-Sunnah. Dalam hal ini, penulisnya menegaskan bahwa, yang penting hari yang dimaksud adalah hari yang di mana kemungkinan lebih banyak orang yang sempat untuk bisa hadir. Lebih lanjut, dapat dibaca sendiri penjelasannya.
Diterbitkan di: 15 Oktober, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.