Bagiku perempuan telah
membuka jendela mata dan jiwaku.
Andai bukan karena ibu perempuan, saudara perempuan,
dan teman perempuan, aku pasti sedang tertidur
di tengah-tengah mereka yang mencari
ketenangan dunia dengan
dengkuran mereka.
Kalimat indah di atas diungkapkan
oleh Kahlil Gibran, seorang sastrawan besar dan penulis legendaris kelahiran
Lebanon yang meraih kepopulerannya di Amerika Serikat. Kalimat tersebut mungkin ungkapan jujurnya akan betapa
penting peran perempuan dalam kehidupan pribadinya, sehingga wajar saja bila ia
selalu memasukkan tema-tema perempuan dalam karya-karyanya. Presiden pertama
RI, Ir. Soekarno, juga memberi perhargaan besar terhadap perempuan yang menjadi
pengasuhnya di waktu kecil hingga remaja, yakni Sarinah. Penghargaan yang
diberikan tidak tangung-tanggung, Soekarno, ketika masih berkuasa saat itu, mengabadikan
nama pengasuhnya itu dengan membangun sebuah monumen besar, yaitu Hotel dan
Pasar Raya di Jakarta dengan nama Sarinah. Begitu juga Taj Mahal, “monumen
cinta” itu didirikan Syah Jehan, Raja Mogul ke-5 untuk mengenang istrinya
yang terkasih Arjuman Banu Bagum atau Mumtaz Mahal.
Begitu besar penghargaan dan perhatian mereka terhadap
perempuan. Namun sayang perilaku para pembesar tersebut, tidak atau kurang
diteladani oleh masyarakatnya, sehingga wajar saja bila realitas kehidupan
perempuan sampai hari ini, sebagian dari mereka masih berada di sudut-sudut dan
pinggir-pinggir sosial. Dalam realitas ini, perempuan masih dipandang sebagai
makhluk Tuhan kelas dua. Hak-hak mereka dibatasi pada wilayah-wilayah kehidupan
yang ekslusif dan marginal. Oleh karena itu kalimat bijak berikut pantas kita renungkan
: ``Hanya laki-laki mulia yang memuliakan perempuan, dan hanya laki-laki
hina yang menghinakan perempuan``. Dengan kata lain kita tidak
termasuk laki-laki yang mulia jika kita tidak memuliakan perempuan.
Thema Abadi
Beberapa kutipan di atas hanyalah sebagian kecil dari
contoh sejarah perempuan. Dan sebenarnya membahas perempuan dengan berbagai
dinamika sejarahnya, tidak akan pernah usai. Sebab, ia tak ubahnya seperti
sebuah buku atau literatur besar yang setiap lembarnya sarat makna sehingga sangat
layak dibaca untuk kemudian kita serap hikmah-hikmahnya. Membahas perempuan
berarti pula membahas sebuah tema abadi, sebab perempuan merupakan bagian
penting dari keabadian itu sendiri. Ia adalah bagian penting dari eksisitensi
Tuhan, Manusia, dan alam. Tanpa kehadiran perempuan, eksistensi tri logi Tuhan,
Manusia, dan Alam menjadi tidak bermakna.
Dalam konteks sejarah modern, di Barat dan Eropa
misalnya, ketika membahas kekuasaan dan politik perempuan, maka kita pantas
memberikan apresiasi kepada beberapa tokoh seperti; Ratu Elizabeth (Inggris),
Ratu Yuliana (Belanda), Maria Isabella Peron (Argentina), Margaret Theacher
(Inggris). Di wilayah Asia, kita bisa menyebutkan, misalnya ; Sonia Gandi (India), Khalida Zia (Pakistan), Corazon Aquino (Philipina).
Dalam konteks perjuangan kemerdekaan Indonesia, kita memiliki banyak sekali
pejuang-pejuang perempuan yang darma baktinya untuk negeri diabadikan dalam
sejarah, misalnya ; Cut Nya Dien, Cut Mutia, Dewi Sartika, R.A. Kartini, dan
lain-lain. Bahkan kita juga pernah memiliki presiden perempuan, yakni Megawati
Soekarno Putri.
Saba`, Ibunda Isa al Masih,
Maria. Khotijah dan Aisyah yang mendampingi perjuangan Muhammad s.a.w. serta
Bunda Theresia dengan tarikat cinta kasihnya yang bermarkas di India. Dalam
dunia sastra tema-tema perempuan juga mendapat tempat yang terhormat dan sangat
laris dan mendatangkan untung besar, misalnya; Laila Majnun, Cleopatra, Romeo
& Yuliet, Siti Nurbaya, Perempuan Berkalung Surban, dll. Dengan melihat
realitas di atas dalam hubungannya dengan upaya peningkatan peran perempuan,
maka adalah tidak adil ketika masyarakat secara sosial membatasi hak-haknya,
menempatkan perempuan hanya pada wilayah-wilayah kehidupan yang ekslusif dan
marginal. Dengan demikian upaya mengubah kultur masyarakat dari patriarkhi
ke kesetaraan gender perlu dipahami sebagai bagian yang tak terpisahkan
dari proses peningkatan kualitas peradaban manusia.