Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Antropologi>Perempuan hebat dalam sejarah

Perempuan hebat dalam sejarah

oleh: ayahenawal     Pengarang : puput
ª
 

Bagiku perempuan telah

membuka jendela mata dan jiwaku.

Andai bukan karena ibu perempuan, saudara perempuan,

dan teman perempuan, aku pasti sedang tertidur

di tengah-tengah mereka yang mencari

ketenangan dunia dengan

dengkuran mereka.


Kalimat indah di atas diungkapkan oleh Kahlil Gibran, seorang sastrawan besar dan penulis legendaris kelahiran Lebanon yang meraih kepopulerannya di Amerika Serikat. Kalimat tersebut mungkin ungkapan jujurnya akan betapa penting peran perempuan dalam kehidupan pribadinya, sehingga wajar saja bila ia selalu memasukkan tema-tema perempuan dalam karya-karyanya. Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, juga memberi perhargaan besar terhadap perempuan yang menjadi pengasuhnya di waktu kecil hingga remaja, yakni Sarinah. Penghargaan yang diberikan tidak tangung-tanggung, Soekarno, ketika masih berkuasa saat itu, mengabadikan nama pengasuhnya itu dengan membangun sebuah monumen besar, yaitu Hotel dan Pasar Raya di Jakarta dengan nama Sarinah. Begitu juga Taj Mahal, “monumen cinta” itu didirikan Syah Jehan, Raja Mogul ke-5 untuk mengenang istrinya yang terkasih Arjuman Banu Bagum atau Mumtaz Mahal.

Begitu besar penghargaan dan perhatian mereka terhadap perempuan. Namun sayang perilaku para pembesar tersebut, tidak atau kurang diteladani oleh masyarakatnya, sehingga wajar saja bila realitas kehidupan perempuan sampai hari ini, sebagian dari mereka masih berada di sudut-sudut dan pinggir-pinggir sosial. Dalam realitas ini, perempuan masih dipandang sebagai makhluk Tuhan kelas dua. Hak-hak mereka dibatasi pada wilayah-wilayah kehidupan yang ekslusif dan marginal. Oleh karena itu kalimat bijak berikut pantas kita renungkan : ``Hanya laki-laki mulia yang memuliakan perempuan, dan hanya laki-laki hina yang menghinakan perempuan``. Dengan kata lain kita tidak termasuk laki-laki yang mulia jika kita tidak memuliakan perempuan.


Thema Abadi

Beberapa kutipan di atas hanyalah sebagian kecil dari contoh sejarah perempuan. Dan sebenarnya membahas perempuan dengan berbagai dinamika sejarahnya, tidak akan pernah usai. Sebab, ia tak ubahnya seperti sebuah buku atau literatur besar yang setiap lembarnya sarat makna sehingga sangat layak dibaca untuk kemudian kita serap hikmah-hikmahnya. Membahas perempuan berarti pula membahas sebuah tema abadi, sebab perempuan merupakan bagian penting dari keabadian itu sendiri. Ia adalah bagian penting dari eksisitensi Tuhan, Manusia, dan alam. Tanpa kehadiran perempuan, eksistensi tri logi Tuhan, Manusia, dan Alam menjadi tidak bermakna.


Dalam konteks sejarah modern, di Barat dan Eropa misalnya, ketika membahas kekuasaan dan politik perempuan, maka kita pantas memberikan apresiasi kepada beberapa tokoh seperti; Ratu Elizabeth (Inggris), Ratu Yuliana (Belanda), Maria Isabella Peron (Argentina), Margaret Theacher (Inggris). Di wilayah Asia, kita bisa menyebutkan, misalnya ; Sonia Gandi (India), Khalida Zia (Pakistan), Corazon Aquino (Philipina). Dalam konteks perjuangan kemerdekaan Indonesia, kita memiliki banyak sekali pejuang-pejuang perempuan yang darma baktinya untuk negeri diabadikan dalam sejarah, misalnya ; Cut Nya Dien, Cut Mutia, Dewi Sartika, R.A. Kartini, dan lain-lain. Bahkan kita juga pernah memiliki presiden perempuan, yakni Megawati Soekarno Putri.

Saba`, Ibunda Isa al Masih, Maria. Khotijah dan Aisyah yang mendampingi perjuangan Muhammad s.a.w. serta Bunda Theresia dengan tarikat cinta kasihnya yang bermarkas di India. Dalam dunia sastra tema-tema perempuan juga mendapat tempat yang terhormat dan sangat laris dan mendatangkan untung besar, misalnya; Laila Majnun, Cleopatra, Romeo & Yuliet, Siti Nurbaya, Perempuan Berkalung Surban, dll. Dengan melihat realitas di atas dalam hubungannya dengan upaya peningkatan peran perempuan, maka adalah tidak adil ketika masyarakat secara sosial membatasi hak-haknya, menempatkan perempuan hanya pada wilayah-wilayah kehidupan yang ekslusif dan marginal. Dengan demikian upaya mengubah kultur masyarakat dari patriarkhi ke kesetaraan gender perlu dipahami sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses peningkatan kualitas peradaban manusia.
Diterbitkan di: 14 Oktober, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.