Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Cultural Studies

oleh: MuhammadHolid     Pengarang : Chris Barker
ª
 
Bagi peminat Antropologi yang mengkhususkan diri untuk mengkaji Budaya dalam relasinya dengan kekuasaan, Buku Chris Barker merupakan buku yang perlu dimiliki dan dikaji. Buku ini mengetengahkan kajian teoritis yang cukup komprehensif. Isinya mengupas berbagai macam pengertian yang mulai dari pengertian apa itu Cultural Studies hingga perkembangan teori kebudayaaan mutakhir saat ini. Definisi yang rinkas, padat menjadi panduan aplikatif bagi para pengkaji kebudayaan dalam relasinya dengan kekuasaan.

Dalam memandang ilmu pengetahuan, Cultural Studies tidak pernah menganggap pengetahuan sebagai sesuatu yang netral. Pengetahuan itu sebetulnya diproduksi untuk suatu tujuan. Memang berbagai macam tujuan produksi pengetahuan. Namun Cultural Studies selalu melihat bahwa produksi pengetahuan tidak lain hanya untuk kekuasaan. Dengan kata lain, Cultural Studies kemudian menjadi praktik politik. Sebagaimana kata nietzhe, jika engkau ditanya tentang moralitas, tanyakanlah olehmu, siapa yang berbicara, atas kepentingan apa dia berbicara demikian? Dengan demikian, pengetahuan kemudian mejadi soal posisionalitas yakni dari mana dia berbicara, kepada siapa dia berbicara, dan atas kepentingan apa dia berbicara.

Lalu apa sebetulnya tujuan dari Cultural Studies itu sendiri? Jawabannya mungkin bisa diberikan oleh beberapa pengalaman yang lain. Yakni semua bentuk teori yang muncul dalam sejarah, tidak lain dan tidak bukan bertujuan untuk membuat perubahan. Dengan kata lain, semua tujuan, entah itu agama, teori sosial, tujuannya adalah untuk merubah sesuatu (emansipasi). Perubahan itu sendiri didasarkan atas kondisi yang tidak memuaskan orang yang hendak merubahnya. Ketidakpuasan ini dalam teori sosial banyak dipengaruhi oleh ketidakadilan. Namanya ketidakadilan maka sifatnya selalu konstruktid. Artinya ketidakadilan dan ketimpangan itu bukan disebabkan oleh alam secara alamiah, namun disebabkan oleh prilaku manusia sendiri atas manusia yang lain.

Kalau kita melihat di masyarakat, ketidakadilan ini banyak disebabkan oleh penindasan dan pembungkaman. Suara yang muncul kemudian dimasyarakat hanyalah suara pihak-pihak yang berkuasa. Tidak banyak dijumpai di maysrakat, suara kelompok yang terpinggirkan. Banyak sekali kelompok terpinggirkan di masyarakat yang tidak cukup tempat yang diberikan untuk menyatakan suaranya. Akhirnya mereka hanya menyuarakan sesuatu namun suara itu hampir tidak bisa didengar. Karena memang suara itu terlalu kecil, atau memang suara itu tidak tersampaikan.

Yang bisa didengar oleh kita di masyarakat hanya suara-suara kelompok-kelompok dominan. Pengetahuan pengetahuan pun banyak diproduksi oleh kelompok dominan. Lalu bagaimana kemudian nasib dari kelompok tertindas atau yang dibungkam suaranya.

Inilah kemudian tugas para pelaku Cultural Studies. Bagaimana mereka bisa menyeimbangkan kekuatan-kekuatan yang ada di masyarakat. Sehingga suara yang muncul kemudian adalah suara keseimbangan sehingga tercipta keadilan antara berbagai kelompok dalam rangka menuju kehidupan yang lebih baik.

Diterbitkan di: 17 Mei, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    saya mau tanya bagaimana perkembangan cultural studies itu sendiri di britain? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa objek kajian culture study Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.