Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Antropologi>Kebudayaan Bersifat Dinamis dan Adaptif

Kebudayaan Bersifat Dinamis dan Adaptif

oleh: Rajasukses     Pengarang : Leonard Siregar
ª
 

Pada umumnya kebudayaan itu dikatakan bersifat adaptif, karena
kebudayaan melengkapi manusia dengan cara -cara penyesuaian diri pada
kebutuhan-kebutuhan fisiologis dari badan mereka, dan penyesuaian pada
lingkungan yang bersifat fisik-geografis maupun pada lingkungan sosialnya.
Banyak cara yang wajar dalam hubungan tertentu pada suatu kelompok
masyarakat memberi kesan janggal pada kelompok masyarakat yang lain,
tetapi jika dipandang dari hubungan masyaraka t tersebut dengan
lingkungannya, baru hubungan tersebut bisa dipahami.
Misalnya, orang akan heran kenapa ada pantangan -pantangan pergaulan seks pada
masyarakat tertentu pada kaum ibu sesudah melahirkan anaknya sampai
anak tersebut mencapai usia tertentu. B agi orang di luar kebudayaan
tersebut, pantangan tersebut susah dimengerti, tetapi bagi masrakat
pendukung kebudayaan yang melakukan pantangan -pantangan seperti itu,
hal tersebut mungkin suatu cara menyesuaikan diri pada lingkungan fisik
dimana mereka berada. Mungkin daerah dimana mereka tinggal tidak terlalu
mudah memenuhi kebutuhan makan mereka, sehingga sebagai strategi
memberikan gizi yang cukup bagi anak bayi dibuatlah pantangan -pantangan
tersebut.
Hal ini nampaknya merupakan hal yang sepele tetapi seb enarnya
merupakan suatu pencapaian luar biasa dari kelompok masyarakat tersebut
untuk memahami lingkungannya dan berinteraksi dengan cara melakukan
pantangan-pantangan tersebut. Pemahaman akan lingkungan seperti ini dan
penyesuaian yang dilakukan oleh kebu dayaan tersebut membutuhkan suatu
pengamatan yang seksama dan dilakukan oleh beberapa generasi untuk
sampai pada suatu kebijakan yaitu melakukan pantangan tadi. Begitu juga
dengan penyesuaian kepada lingkungan sosial suatu masyarakat; bagi orang
awam mungkin akan merasa adalah suatu hal yang tidak perlu untuk
membangun kampung jauh diatas bukit atau kampung di atas air dan
sebagainya, karena akan banyak sekali kesulitan -kesulitan praktis dalam
memilih tempat-tempat seperti itu. Tetapi bila kita melihat mung kin pada
hubungan-hubungan sosial yang terjadi di daerah itu, akan didapat sejumlah
alasan mengapa pilihan tersebut harus dilakukan. Mungkin mereka
mendapat tekanan-tekanan sosial dari kelompok-kelompok masyarakat
disekitarnya dalam bentuk yang ekstrim sehingga mereka harus
mempertahankan diri dan salah satu cara terbaik dalam pilihan mereka
adalah membangun kampung di puncak bukit.
Kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat tertentu merupakan cara
penyesuaian masyarakat itu terhadap lingkungannya, akan tetapi cara
penyesuaian tidak akan selalu sama. Kelompok masyarakat yang berlainan
mungkin saja akan memilih cara -cara yang berbeda terhadap keadaan yang
sama. Alasan mengapa masyarakat tersebut mengembangkan suatu jawaban
terhadap suatu masalah dan bukan jawaban yang lain yang dapat dipilih
tentu mempunyai sejumlah alasan dan argumen. Alasan –alasan ini sangat
banyak dan bervariasi dan ini memerlukan suatu penelitian untuk menjelaskannya.
Tetapi harus diingat juga bahwa masyarakat itu tidak harus selalu
menyesuaikan diri pada suatu keadaan yang khusus. Sebab walaupun pada
umumnya orang akan mengubah tingkah -laku mereka sebagai jawaban atau
penyesuaian atas suatu keadaan yang baru sejalan dengan perkiraan hal itu
akan berguna bagi mereka, hal itu tidak selalu terjadi.
Malahan ada masyarakat yang dengan mengembangkan nilai budaya tertentu untuk
menyesuaikan diri mereka malah mengurangi ketahanan masyarakatnya sendiri. Banyak
kebudayaan yang punah karena hal -hal seperti ini. Mereka memakai kebiasaan-kebiasaan
baru sebagai bentuk penyesuaian terhadap keadaan-keadaan baru yang masuk kedalam
atau dihadapi kebudayaannya tetapi mereka tidak sadar bahwa kebiasaan -kebiasaan yang
baru yang dibuat sebagai penyesuaian terhadap unsur -unsur baru yang masuk dari luar
kebudayaannya malah merugikan mereka sendiri.
Disinilah pentingnya filter atau penyaring budaya dalam suatu kelompok masyarakat.
Karena sekian banyak aturan, norma atau adat istiadat yang ada dan berlaku pada suatu
kebudayaan bukanlah suatu hal yang baru saja dibuat atau dibuat dalam satu
dua hari saja. Kebudayaan dengan sejumlah normanya itu merupakan suatu
akumulasi dari hasil pengamatan, hasil belajar dari pendukung kebudayaan
tersebut terhadap lingkungannya selama beratus-ratus tahun dan dijalankan
hingga sekarang karena terbukti telah dapat mempertahankan kehidupan
masyarakat tersebut.
Siapa saja dalam masyakarat yang melakukan filterasi atau penyaringan ini
tergantung dari masyarakat itu sendiri. Kesadaran akan melakukan
penyaringan ini juga tidak selalu sama pada setiap masyarakat dan hasilnya
juga berbeda pada setiap masyarakat. Akan terjadi pro -kontra antara
berbagai elemen dalam masyarakat, perbedaan persepsi antara generasi tua
dan muda, terpelajar dan yang kolot dan banyak lagi lainnya.
Diterbitkan di: 10 Maret, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    mengapa perkembangan kebudayaan itu bersifat dinamis jelaskan Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    contoh2 kebudayaan dinamis Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    kenapa kebudayaan dinamis ? Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.