Ada dua cerita menarik dari teman lama, Felicita. Ia dari Meksiko, beragama Katholik. Ia beruntung ketika belajar di London
pada 1980. Saat itu ia menemukan teman wanita dari Malaysia. Dari dialah Felicita belajar Islam dan akhirnya menjadi Muslim. Setelah lulus, ia menetap di Los Angeles. Pada 1985 ia menikah dengan seorang mahasiswa UCLA yang pernah menjadi President MSA (Muslim Student Association). Namanya Ali Galedary, lahir di Amerika, keturunan Iran. Setelah menikah, Felicita mengganti namanya menjadi Khadija.
Khadija Galedary sekarang menjadi ketua
Latino Muslim Association. Latar belakang pendidikannya di bidang kesehatan mendorongnya untuk mendirikan sebuah klinik bersama teman-temannya di Los Angeles untuk tujuan dakwah. Ia aktif berdakwah dan memperjuangkan posisi masyarakat Islam dalam pusaran politik AS.
Dalam serangkaian diskusi melalui email, dia membandingkan nasib dua minoritas. Dia bersyukur atas kemajuan dakwah di AS. Minoritas Muslim di AS bisa menjadi model bagi minoritas Muslim di negara-negara Barat lainnya. Meski ada kendala, tetapi Islam menjadi agama yang berkembang terpesat di AS. Sebagai minoritas, katanya, masyarakat Muslim memiliki kebebasan.
Tetapi, dia merasa sedih ketika melihat saudara-saudaranya yang mengalami nasib berbeda. Pada musim semi tahun lalu (2008) dia bersama teman-temannya berkunjung ke Austria. Dia merasakan kesedihan yang luar biasa. Hak-hak sipil masyarakat Islam masih terabaikan. Mereka mengalami diskriminasi di sebuah negara demokrasi.
Di jaman sebelum demokrasi, kondisi masyarakat Muslim lebih bagus. Pada tahun 1867, ada undang-undang yang menjamin hak bagi semua agama di seluruh Kerajaan Austria. Masjid pertama dibangun di Wina pada 1878, dengan bantuan pemerintah untuk kepentingan orang-orang Bosnia yang berada di Angkatan Darat Austria. Gelobang baru imigran Muslim memasuki Austria setelah Perang Dunia II, yang sebagian besar berasal dari Turki.
Ledakan ekonomi Eropa Barat selama 1970-an dan pecahnya Yugoslavia pada awal 1990-an menyebabkan lebih banyak lagi imigran ke Austria. Tetapi setelah 11 September 2001, kondisi masyarakat Muslim memburuk. Negara Bagian Vorarlberg menjadi contoh. Ada perbedaan gaji antara penduduk asli Austria dan imigran. Tidak ada layanan pendidikan Bahasa Jerman untuk anak-anak imigran. Di Wina ada pemisahan keturunan Turki dengan penduduk asli.
Anak-anak keturunan Turki sangat sulit masuk perguruan tinggi. Mereka hanya berhak masuk sekolah menengah kejuruan. Sebabnya ialah kelemahan dalam Bahasa Jerman. Secara sistemik, anak-anak imigran sulit menguasai Bahasa Jerman.
Pada 1960-an Austria mengundang pekerja dari Turki dan Yugoslavia (dulu). Umumnya pekerja itu tidak terdidik bahkan sebagian buta huruf. Elisabeth Doeler, pengamat sosial di Austria, menyatakan, “Semua orang berpandangan bahwa pekerja tamu itu akan kembali lagi ke negaranya, maka tak seorang pun berupaya untuk berintegrasi. Problem itu dirasakan oleh anak-anak mereka yang sudah menjadi warga negara Austria. Anak-anak Muslim keturunan Turki merasa hidup tanpa harapan, tanpa identitas, tanpa budaya, tanpa suara yang bisa didengar. Tak seorang pun mampu bicara tentang hak-hak sipil mereka. Mereka kehilangan harga diri sebagai Muslim. Merka sulit mecari pekerjaan dan perumahan karena namanya berbau Turki.”
Kemalangan kondisi masyarakat Muslim itu juga disebabkan oleh sikap masyarakat Katholik. Di Vorarlberg ada dua kelompok kaum Katholik. Pertama,
mayoritas yang mengikuti fatwa Paus John Paul II, yang mengakui al-Qur’an adalah firman Tuhan. Mereka ini lebih toleran. Kedua, orang-orang Katholik penganut ideologi ‘mempertahankan agama Kristen menghadapi Islam’. Begitu fanatiknya, mereka sampai sekarang menolak pendirian menara untuk masjid. Mereka mengatakan, “masjid dengan menara adalah provokasi.” Karena itu, orang-orang Muslim keturunan Turki sampai sekarang masih berjuang untuk mendirikan menara masjid Atib di kota Dornbim.
Apa yang dirasakan oleh Khadija Galedary memberikan pesan, “Berikan sepenuhnya hak-hak minoritas agama sebagai warga negara yang sah. Jangan ada stigma dan kebencian terhadap minoritas.”
Wina, Austria, 26 Mei 2009
Syafiq A. Mughni*)
*)Ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur