• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Antropologi>Supriyadi Hidup Kembali?

.

Supriyadi Hidup Kembali?

oleh : abduhradar     

Pengarang : Dr Asvi Warman Adam



Beberapa hari lalu, Andaryoko Wisnuprabu (tinggal di Semarang) mengaku sebagai Supriyadi,

sang pemimpin pemberontakan Peta. Anda percayakah?
Dr Asvi Warman Adam (sejarawan LIPI) dalam opininya yang dimuat Jawa Pos dengan judul Supriyadi Hidup Kembali? menyebutkan, Andaryoko Wisnuprabu merupakan tokoh historis sekaligus mistis. Penuturan Andaryoko diselingi berbagai istilah Jawa, tetapi tidak terdapat ungkapan Belanda dan Jepang. Dia dikisahkan sebagai tokoh historis yang bersifat omnipresent (hadir di mana-mana).
Dia memimpin pemberontakan di Blitar pada Februari 1945. Setelah menyembunyikan diri di hutan, dia dengan berganti-ganti kendaraan berhasil mencapai ibu kota dan menemui Soekarno. Oleh Soekarno, dia diminta membantu membawa tas ketika berlangsung sidang-sidang BPUPKI. Dia ikut ke Rengasdenglok dan pada 17 Agustus 1945 dia menjadi anak muda bercelana pendek yang ikut memegang bendara Merah Putih yang dikibarkan pertama setelah merdeka.
Ketika moncong meriam ditujukan ke Istana pada 17 Oktober 1952, dia kebetulan juga berada di Istana Merdeka. Tatkala terjadi penyerahan Supersemar (Surat Perintah 11 Maret) 1966, dia juga ada di Istana Bogor. Bukan saja bisa berada di mana-mana, tetapi Andaryoko juga sanggup menembus waktu. Dia adalah tokoh mistis. Pada 1945, dia menyampaikan keinginan mundur dari kancah politik kepada Presiden Soekarno karena sudah memprediksi bahwa dua puluh tahun kemudian akan terjadi prahara nasional. Ketika itu, pengikut Bung Karno akan dibunuh atau disingkirkan. Untuk mengantisipasi hal itu, Andaryoko mundur dari dunia politik. Namun, Bung Karno memintanya menjadi pembantu utama bersama dengan Winoto Danu Asmoro.
Nama Winoto Danu Asmoro muncul di surat kabar belakangan ini karena rencana penjualan rumah keluarga Soekarno di Blitar. Winoto bertindak sebagai juru bicara keluarga. Winoto adalah seorang tokoh Partindo.
Ada beberapa hal yang menjadi tanda tanya dalam jawaban yang diberikan oleh Adaryoko Wisnuprabu. Mungkin saja dia lupa atau ada keterangannya yang tidak akurat. Tetapi kalau ketidaktepatan faktual itu cukup banyak, masihkah dapat dipercaya pengakuannya bahwa dia adalah Supriyadi yang memimpin pemberontakan Peta pada 1945.
Andaryoko mengatakan, persiapan penyusunan naskah proklamasi dilakukan di rumah Soekarno. Tetapi, semua sumber menyebutkan bahwa itu dilakukan di rumah Maeda yang kini terletak di Jalan Imam Bonjol Jakarta.
Andaryoko mengakui dia ikut menaikkan bendera Merah Putih pada 17 Agustus. Selama ini diketahui bahwa pengibar bendera itu adalah Abdul Latief Hendraningrat. Latief mengatakan dibantu seorang pemuda bercelana pendek yang kemudian diketahui bernama Suhud. Apakah Suhud itu kemudian berganti nama menjadi Andaryoko?
Supriyadi diangkat sebagai menteri keamanan rakyat berdasar Maklumat Pemerintah tanggal 6 Oktober 1945. Apakah itu dilakukan Presiden Soekarno karena dia yakin Supriyadi masih hidup? Tentu tidak. Pengangkatan seorang menteri tanpa setahu yang bersangkutan tidak aneh pada masa itu karena kesulitan komunikasi.
Ir Setiadi Reksodiprojo, 87, menuturkan kepada saya (Dr Asvi) bahwa dia mengetahui pengangkatannya sebagai menteri penerangan pada Kabinet Amir Sjarifuddin 1947 hanya melalui siaran radio. Tetapi, dia segera mempersiapkan diri dan langsung berangkat ke Jogja untuk mengemban tugasnya. Karena tidak ada kabar berita dari Supriyadi setelah dua pekan, maka pada 20 Oktober 1945 Muhammad Soeljoadikusuma diangkat sebagai menteri keamanan rakyat ad interim.
Andaryoko mengakui bahwa dia berada di Istana Bogor ketika terjadi penyerahan Surat Perintah 11 Maret 1966. Dia bisa masuk ke Istana Bogor karena sudah kenal dengan Hartini, bahkan berjasa memperkenalkan Hartini kepada Soekarno pada 1952. Karena hadir di Istana Bogor (di ruang lain bersama Tukimin, pembantu rumah tangga Bung Karno), maka Andaryoko mengatakan bahwa Supersemar itu tidak ada.
Memang tiga orang jenderal ke Istana membawa map, tetapi Soekarno tidak mau membubuhkan tanda tangannya sehingga mereka pulang ke Jakarta dengan tangan hampa. Andaryoko menampilkan versi baru kasus Supersemar, yakni surat itu tidak pernah ada. Ada-ada saja.


Lalu percayakah Anda, bila Andaryoko Wisnuprabu itu Supriyadi?


Diterbitkan di: Agustus 15, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.