Audiens Ethnographies : A media Engagement Approach / by Antonio C. PastinaPendekatan
etnografi dalam tuturan Antonio C. La Pastina, hanya dapat memberikan pemaknaan
terhadap suatu komunitas / masyarakat bila dilakukan secara mendalam dan dalam
jangka waktu yang lama. Hal yang sama berlaku untuk ethnography
Audiens,
persoalan pokok yang dikemukakan dalam artikel ini, dan menjadi pilihan
Pendekatan Antonio dalam melihat hubungan komunitas pinggiran Brasil
dengan telenovella.
Pendekatan
etnografi kian diakui memiliki peran sentral yang teoritis dan empiris dalam
studi media beberapa dekade belakangan ini. Dalam paparan Antonio, selain
etnografi audiens atau dalam istilahnya media engagement, dapat memberikan
informasi akan kompleksitas dan dinamila yang terjadi antara konsumen dan
produk budaya, etnografi juga telah mendapatkan fungsi retoris. Secara retoris,
pendekatan etnografi telah menyuarakan pertentangan terhadap praktek-praktek
pengumpulan data empiris atau paradigma pengumpulan data, analisis maupun
hubungan antara
peneliti dan yang diteliti dalam ranah pemikiran positifistik.
Ethnografi telah memberikan ruang yang lebih subjektif terhadap analisis
audiens maupun refleksi diri para
peneliti.
Dalam hal ini,
sebenarnya pendekatan etnografi melahirkan beragam perdebatan. Persoalan
dilematis muncul dalam penggunaan pendekatan etnografi pada studi-studi
penafsiran, yang kerap digunakan oleh sarjana media dalam melihat pertalian
makna. Pendekatan etnografi dalam praktek penelitian semacam ini, akan dibatasi
oleh keterbatasan peneliti, sebagai pihak yang subjektif dan memiliki nilai
ideologi maupun sikap personal. Oleh sebab itu, penuturan penelitian etnografi
senantiasa harus sistematis pada penjelasan intrepretasi dan pemikiran penulis
terhadap informan sehingga pembaca dapat memahami peristiwa yang dideskripsikan
maupun menyadari bahwa informasi yang didapatkannya merupakan persepsi /
gambaran seorang pengamat dengan keterbatasan mereka.
Etnografi pada
dasarnya menceritakan ulang akan kehidupan orang-orang tertentu,
mendeskripsikan tradisi atau tatacara mereka dan memahami praktek-praktek
budayanya. Untuk bisa bercerita ulang, seorang penulis etnografi harus
mendapatkan pengalaman kehidupan orang-orang yang diceritakan, hingga rasa dan
emosi yang muncul pada kehidupan orang tersebut. Hal ini yang menurut Geertz
dapat dilakukan dengan membuat hasil etnografi penuh dengan deskripsi. Namun
meskipun etnografi berfungsi untuk menceritakan ulang, kritik Appadurai
memberikan argumen yang radikal, bahwa sebenarnya etnografi tidak lebih dari
gambaran atau imaginasi peneliti / penulis etnografi terhasdap masyarakat /
komunitas tertentu. Sebagaimana pendapat Scheper-Hughes, semua fakta telah
dipilih dan interpretasi sejak pertama peneliti memutuskan untuk menggunakan
informasi/data tertentu ataupun saat memutuskan tidak menggunakan data
tertentu. Sehingga pemahaman antropologis senantiasa parsial dan hermeneutis.
Pendapat umum
akan budaya seringkali identik dengan ketertiban, norma-norma sosial dan regulasi, sering kali menjebak para
penulis etnografi dalam melihat berbagai fenomena gairah, kesenangan-kesenangan
spontan, kegiatan-kegiatan baru dan berbagai hal dalam masyarakat. Budaya
bukanlah sebuah bentuk struktur yang tertata ataupun kekuatan yang mengontrol.
Dalam proses etnografi maka penulis / peneliti harus senantiasa melihat budaya
sebagai sistem yang dinamis dan bukan sebuah sistem yang tertutup.
Etnografi
audiens, masih merupakan sebuah tantangan, sebab ia memasuki sebuah ranah
dimana tidak ada struktur, demikian uraian Antonio sebagai penutup uraian
sebelum memasuki gambaran kasus penelitiannya pada masyarakat pinggiran Brasil
terhadap telenovela. Namun bukankah memang struktur itu harus dihapus dalam
persepsi terhadap budaya saat melakukan pendekatan etnografi? Pada
penelitiannya, Antonio mencoba untuk melampaui analisis interpretasi dan masuk
pada transisi dimana teks telah menjadi realitas dan realitas menjadi teks.
Antonio memberikan empat tahap proses engagement sebagai kerangka analisis
antara konsumen dengan text, yaitu membaca, menginterpretasikan, mencocokan dan
perubahan.
Ringkasan lain tentang Audiens Ethnographies : A Media Engagement Approach