Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Sindrom terbakar, burn out syndrome

Sindrom terbakar, burn out syndrome

oleh: supermaster    
ª
 
Ada sebuah cerita mengenai seorang anak-anak yang sejak muda berprestasi namun ketika menanjak remaja dia malah justru kehilangan semangat sama sekali dan prestasinya menghilang. Kondisi inilah yang sering kita sebut dengna Burn Out Syndrome atau Sindrom terbakar.

Pertanyaannya kok bisa begiti? Penyebab sebenarnya kebanyakan adalah masalah dalam lingkungan keluarganya sendiri. Ketika kecil, ketika ia mencapai prestasi ia mendapatkan pujian dan sebaliknya ia malah di marahi. Banyak sekali orang-orang di sekitar kita yang di besarkan dengan cara seperti itu.

Ketika masih kecil, orang tua sering menggunakan paksaan agar mereka mengikuti apa yang di inginkan oleh orang tua. Lalu ketika dia menginjak dewasa, dia berpikiran, "ketika saya masih kecil, saya sekolah karena senang, tetapi kenapa lama kelamaan jadi tidak menyenangkan lagi ya. Malah sebaliknya, jadi sengsara karena selalu di tuntut selalu menang. Saya ingin cepat segera terbebaskan dari tuntutan orang tua seperti itu."

Lalu bagaimana dengan mereka yang berhasil berkembang bahkan menjadi seorang profesor di dewasanya. Hal ini di karenakan orang tua mereka tidak pernah menunjukkan kekecewaan ataupun kegembiraan yang berlebihan atas apapun hasil pembelajarannya.

"kedua orang tua saya tidak pernah mengkritik saya mengenai hasil ujian saya. Mereka hanya marah dan mengkritik kalau perlu belajar lebih banyak lagi. Karena itu, saya tidak pernah merasakan tekanan apapun saat bertanding"

Hal ini berlaku buat mereka yang sejak kecil yang terus di puji jika mendapatkan nilai bagus sementara akan di marahi jika mendapatkan nilai buruk, suatu saat nanti burn out Syndrome dapat menjangkitinya.

Sebaiknya orangtua harus banyak memabacakan buku, mengakui, memuji, sabar menunggu dan tidak terburu-buru dan juga tidak marah-marah. hal ini akan sangat berpengaruh pada perkembangan anak itu sendiri di masa depan. Sebuah kata-kata bijak, "tersenyumlah, beri pujian dan dukung anak Anda selalu."
Diterbitkan di: 30 Oktober, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.