Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Perencanaan PEMBANGUNAN PEMKOT TASIKMALAYA (1) Apa dulu yang harus dib

Perencanaan PEMBANGUNAN PEMKOT TASIKMALAYA (1) Apa dulu yang harus dib

oleh: AsepChahyanto     Pengarang : Asep Chahyanto
ª
 
PERENCANAAN PEMBANGUNAN PEMKOT TASIKMALAYA (1)

Apa dulu yang harus dibangun? *

Oleh: Asep Chahyanto **

Beberapa hari yang lalu dalam acara Daurah Marhalah yang diselenggarakan oleh KAMMI, penulis mendapat pertanyaan dari peserta. Inti pertanyaan: “Sejak merdeka sampai sekarang, Indonesia, rakyatnya masih tergolong miskin dan bahkan masih banyak balita yang menderita kekurangan gizi –artinya kita belum sejahtera, kenapa ini bisa terjadi?” kata penanya dengan antusias.
Untuk menjawab pertanyaan itu, penulis bercerita panjang lebar secara teoritis. Mengapa ada negara atau masyarakat yang terlebih dahulu maju dan sejahtera, dan adapula yang tergolong negera terbelakang atau negara sedang berkembang, seperti halnya Indonesia?
Dalam ilmu-ilmu sosial, dikenal dua aliran pemikiran yang menjelaskan persoalan tersebut di atas, meskipun saat ini tentu saja sudah memiliki varian-varian, dan lebih banyak lagi aliran pemikiran yang ada.
Pertama, adalah aliran Fungsional dengan tokoh-tokohnya seperti, Durkheim, Weber, Talcot Parson dan sebagainya. Menurut Talcot Parson, kebudayaan adalah faktor yang menentukan maju atau terbelakangnya suatu masyarakat. Kalau suatu masyarakat memiliki nilai sosial dan budaya yang memiliki mentalitet pembangunan, maka masyarakat tersebut akan lebih maju dibandingkan dengan masyarakat yang tidak memiliki mentalitet pembangunan.
Sedangkan aliran pemikiran yang kedua, disebut aliran Struktural, dengan tokoh-tokohnya Barrington Moore, Paul Baran, Peter Berger, dan masih banyak lainnya. Menurut aliran ini, maju atau terbelakangnya suatu masyarakat lebih ditentukan oleh Struktur Sosial bukan oleh kebudayaan yang tidak cocok dengan nilai-nilai pembangunan.
Artinya, masih terbelakangnya Indonesia, lebih disebabkan oleh karena struktur yang ada sekarang –globalisasi, menguntungkan negara-negara yang lebih dahulu maju dibandingkan dengan Indonesia. Demikian, juga hubungan ekonomi yang terjadi di internal masyarakat Indonesia, akan selalu menguntungkan kelas atas dari pada kelas bawah.

Apa dulu yang harus dibangun?
Para teoritisi aliran fungsionalisme, kemudian melahirkan teori-teori modernisasi. Untuk menyebut beberapa contoh di antaranya adalah Teori Etika Protestan dari Max Weber, Teori n-Ach dari David McClelland, Teori Manusia Modern dari Alex Inkeles dan David H. Smith, dan masih banyak lainnya lagi.
Kalau Pemkot mau mengadopsi teori ini. Maka di dalam merencanakan pembangunannya. Baik RPJP Kota Tasikmalaya yang kemudian dijabarkan dalam RPJM, maupun rencana pembangunan jangka pendek, seyogyanya lebih banyak lagi memasukan “proyek-proyek kebudayaan”.
Tujuan akhir dari proyek-proyek ini adalah untuk menciptakan masyarakat Kota Tasikmalaya yang : (1) lebih menilai tinggi orientasi ke masa depan, (2) lebih menilai tinggi hasrat eksplorasi untuk mempertinggi kapasitas berinovasi, (3) lebih menilai tinggi orientasi ke arah achievement dari karya, (4) menilai tinggi mentalitet berusaha atas kemampuan sendiri, (5) percaya kepada diri sendiri, (6) berdisiplin murni dan (7) bertanggungjawab sendiri (Koentjaraningrat,1974), dan lain-lain proyek yang bisa menciptakan masyarakat kota Tasikmalaya terutama generasi mudanya lebih memiliki mentalitet pembangunan.
Namun, sudah benarkah proyek-proyek kebudayaan dahulu yang direncanakan untuk dibangun menjadi agenda rencana pembangunan Pemkot dalam RPJP, RPJM dan dijabarkan dalam rencana jangka pendek per-tahun, agar masyarakatnya memiliki mentalitet pembangunan?
Bagi kaum Strukturalis, sekarang ini --kebudayaan yang cocok dengan pembangunan tidaklah terlalu menentukan keberhasilan pembangunan. Adanya kaum miskin di wilayah Kota Tasikmalaya, menurut aliran ini, bukan karena semata-mata mereka tidak memiliki mentalitet pembangunan, atau tidak mau bekerja keras, mereka tetap miskin karena struktur sosial.
Sebagai contoh, (maaf) apakah para pemulung yang bekerja sehabis sembahyang subuh dan pulang sehabis magrib adalah orang malas? Tentu saja bukan, nyatanya toh dia bekerja dengan keras. Lalu kenapa mereka tetap miskin? Mereka tetap miskin karena ”kemiskinan struktural”.
Dalam jalan kapitalisme yang dipergunakan di banyak negara, termasuk Kota Tasikmalaya (Indonesia). Harga suatu komoditi diserahkan kepada mekanisme pasar. Dengan cara ini, memang terjadi efisiensi dalam produksi, karena harga diserahkan kepada ”permintaan” dan ”penawaran”. Mekanisme pasar, layaknya invisible hand yakni tangan gaib yang menggerakkan orang untuk berusaha dan bekerja dengan keras.
Namun, sistem yang nampaknya adil, berlaku tidak adil. Orang pada dasarnya tidak sama dalam akumulasi awal kepemilikan modal, mereka ada yang telah terlebih dahulu kaya, ada juga yang tidak memiliki apa-apa, kecuali tenaga.
Dalam sistem kapitalisme yang liberal, yang papa dieksploitasi oleh yang kaya. Orang kaya bisa mendirikan pabrik atau perusahaan. Untuk menyebut suatu contoh di Kota Tasikmalaya, Pemilik Asia Plaza misalnya, bila menginginkan untung yang sebesar-besarnya, bisa menugaskan direksi perusahaan untuk membayar gajih karyawan serendah-rendahnya. Hal ini memungkinkan, seandainya tidak ada regulasi Upah Minimum Regional (UMR) yang membatasi.
Kalau si buruh itu tidak suka, buruh bisa keluar dari pekerjaannya. Namun pengusaha tidak akan kesulitan mencari penggantinya, jika ada seorang yang keluar, ada seratus orang yang siap dipanggil untuk bekerja. Dengan demikian, dalam sistem kapitalisme yang liberal, kaum buruh selalu didominasi oleh pengusaha.
Demikian juga dalam konteks hubungan dagang antar negara. Hubungan dagang antara negara-negara maju yang merupakan negara industri dengan negara-negara berkembang yang kebanyakan negara agraris, akan selalu menguntungkan negara industri. Karena nilai tukar komoditi perdagangan hasil industri dengan komoditi hasil pertanian, selalu menguntungkan negara-negara industri.
Dari uraian tersebut di atas, nampak bagi kita bahwa kubu Struktural tidak percaya untuk menjadi maju, harus dengan cara memperbaiki dari internal masyarakatnya agar memiliki budaya yang sesuai dengan pembangunan atau modernisasi.
Dengan demikian, menurut kubu struktural ini, kalau kita mau membangun dengan berhasil, mensejahterakan rakyat. Pemkot harus merencanakan pembangunan untuk memperbaiki struktur sosial terlebih dahulu. Pemkot bisa mengeluarkan berbagai regulasi yang menguntungkan bagi masyarakat yang terpinggirkan, seperti: aturan UMR, tata niaga, RPJP dan RPJM yang dioperasionalkan dalam anggaran tahunan yang pro gender, dan pro rakyat miskin, dan seribu regulasi lainnya lagi yang bisa memperbaiki ketimpangan struktural.
Terjemahkan Kirim Link Cetak
  1. 4. yudi

    tanggapan

    semoga artikel ini dapat dijadikan bahan pemikiran dan kajian oleh seluruh stake holder khususnya pemkot tasikmalaya

    0 Nilai 16 Mei 2011
  2. 3. Ariel Adimahavira

    Perencanaan PEMBANGUNAN

    tulisannya bagus dan menambah wawassan kita

    0 Nilai 15 Mei 2011
  3. 2. Heni Hendrawati

    PERENCANAAN PEMBANGUNAN PEMKOT TASIKMALAYA (1) Apa dulu yang harus dibangun? * Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/2154774-perencanaan-pem

    bagus....

    1 Nilai 13 Mei 2011
  4. 1. Heni Hendrawati

    PERENCANAAN PEMBANGUNAN PEMKOT TASIKMALAYA (1) Apa dulu yang harus dibangun? * Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/2154774-perencanaan-pem

    Bagus...dan bermanfaat

    1 Nilai 13 Mei 2011
X

.