Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Imam Masbuk

oleh: dablenk    
ª
 
Ini adalah sebuah pengalaman pribadi saya tentang sebuah pertanyaan masalah ibadah. Walaupun sampai saat ini saya belum mendapatkan sebuah jawaban yang pasti dengan dilandasi dalil yang kuat. Tapi saya mendapatkan suatu hikmah ketika saya bertanya kepada teman saya yang sedikit keras kepala, yang sangat tekun dalam menjalankan dan mangamalkan agamanya.

Inilah pengalaman saya ketika bertemu teman saya yang akan saya tulis dengan metode tanya jawab:
saya : "Gimana kabar pak Kyai? sehat saja kan? nich aku mempunyai sebuah pertanyaan tentang tata cara ibadah. Aku udah bertanya kepada beberapa kyai, tapi belum menemukan jawabannya. Aku harap anda dapat menjawab dengan dasar dalil dalil yang akurat "
teman : " Ada apa?"
saya : "apa ada IMAM MASBUK?"
teman : (Sambil tersenyum meledek) "Kamu kok menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu, jelas tidak ada"
saya : "Memang pertanyaan itu kelihatan bodoh pak kyai, tapi aku mempunyai pengalaman begini : Aku seorang bapak dengan dua orang putri yang masih kecil, tujuh tahun dan tiga tahun. Aku sedang mengajarkan bagaimana beribadah yang baik, terutama sholat. Aku juga mengajarkan bahwa sholat berjama'ah itu lebih baik daripada sholat sendirian, karena sholat berjama'ah pahalanya lebih banyak daripada sholat sendirian. Sehingga hampir setiap ada kesempatan aku akan menjadi Imam dalam sholat keluargaku. Aku bekerja setiap hari, pulang sore saat waktu sholat maghrib hampir habis. Suatu saat sewaktu aku pulang kerja aku melihat istriku sedang sholat dan menjadi imam kedua putriku. Istriku terlalu lama menunggu aku pulang kerja sampai waktu magrib hampir habis dan akhirnya meninggalkan aku ketika sholat berjama'ah, sementara karena perjalanan dari tempat kerja jauh, aku juga belum sholat.
Apa yang harus aku lakukan pak kyai, apakah aku harus sholat sendirian sementara aku tahu serta aku juga mengajarkan kepada anak anakku bahwa sholat berjamaah pahalanya lebih besar daripada sholat sendirian sementara haram hukumnya jika aku ma'mum kepada istriku. Apakah aku harus membatalkan sholat keluargaku agar aku bisa jadi imam sementara waktu sholat maghrib hampir habis. Atau apakah aku harus jadi Imam masbuk???"
teman : (sedikit termenung)" Iya...ya, sulit juga pertanyaanmu. Tapi mendingan sholat sendirian"
saya : " Kalau kejadian itu terjadi berkali kali dan aku selalu mengikuti nasihat anda untuk sholat sendirian, apakah pak kyai mau bertanggungjawab mengganti pahala sholatku yang berjamaah??"
tema : " Wallahu alam... mending kamu bertanya kepada orang lain saja... aku belum mendapat jawaban yang pasti."
saya : "Bilang dari tadi...!!! jadi ngga kepanjangan...
kyai : "Tapi kamu dapat mengambil hikmah dari semua tadi, nanti jika suatu saat kamu bertanya kepada orang lain tentang masalah itu, dan orang itu menyepelekan atau bahkan mentertawakan pertanyaanmu yang kelihatan "bodoh" itu, berarti dia orang yang sombong dan berilmu sedikit. itu pesan saya"

Sampai saat ini saya belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dari pertanyaan saya tersebut. tapi saya mempunyai hikmah, yang antara lain jika pembaca secara spontan mentertawakan pertanyaan saya atau bahkan mentertawakan judul tulisan diatas, (bukan menuduh) saya kira anda termasuk satu dari sekian orang yang dimaksudkan oleh teman saya.

dedikated to: my friend in the heaven
Diterbitkan di: 15 April, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

5 Teratas

.