Note: Please Give Marks By Clicking The Stars Below! Thank You! SDM PRT Semakin Langka
Oleh:
Sunlita Citra T.
Saat menonton berita di televisi menjelang hari raya lebaran, tampak begitu banyak pekerja yang pulang pergi dari kota Jakarta. Seakan dibanjiri penumpang, setiap angkutan umum sesak dipenuhi para pekerja, khususnya PRT (pembantu rumah tangga) yang ingin melewatkan hari raya lebaran sambil silahturahmi dengan keluarga masing-masing. Beberapa persen dari penduduk Jakarta pergi ke berbagai penjuru arah saat menjelang lebaran dan lebih banyak lagi yang akan datang ke kota Jakarta saat lebaran usai. Pertanyaannya, jika begitu banyak orang yang disorot media, kenapa begitu sulit untuk memperkerjakan PRT sekarang ini?
Krisis global yang kerap dipersoalkan menjadi masalah global nampaknya tidak terlalu berpengaruh bagi mereka. Bahkan dengan biaya pengambilan dari yayasan hingga hampir satu juta rupiah, kita belum tentu dapat memperkerjakan seorang PRT yang berkualitas dan benar-benar ingin bekerja.
Ironisnya, dari segi kualitas, pekerja PRT pada zaman sekarang ini sangat jauh berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, ketika kita masih dapat melihat banyak PRT yang menunjukkan loyalitas dan rasa hormat yang teramat besar terhadap majikannya masing-masing. Saat ini, loyalitas itu hampir sepenuhnya tergantikan oleh sifat materialistis. Jangankan membela kepentingan majikannya, sikap acuh tak acuh telah mereka tunjukkan atas segala yang terjadi di luar kepentingan mereka. Hampir tidak ada lagi rasa kekeluargaan di antara pekerja dan majikannya. Tidak jarang saya menemukan perbincangan para PRT yang sedang menjelek-jelekkan majikannya masing-masing, rasa tidak puas ini tampak sama seperti rasa iri terhadap rumput tetangga yang terkesan lebih hijau.
Terdapat banyak kasus di mana PRT ingin suatu keadaan yang bebas dengan diperkenankan berpergian ke mana pun mereka inginkan pada jam-jam tertentu. Masalahnya, dengan begitu banyak kasus kriminalitas, sangat perlu diperhitungkan jika ada suatu hal buruk yang mengancam keselamatan mereka. Kedisiplinan yang dimaksudkan majikan untuk melindungi pekerjanya sendiri sering kali diartikan sebagai sesuatu yang begitu buruk dan akhirnya para pekerja tidak betah untuk bekerja.
Jika di zaman dahulu ada pelayan yang bahkan setia hingga mengabdikan dirinya sendiri, di zaman sekarang pendirian kuat semacam itu sangat sulit ditemukan. Tidak jarang adanya kasus di mana seorang PRT berpindah-pindah pekerjaan hanya karena goyah pendiriannya dan diiming-imingi gaji yang lebih tinggi.
Inilah keadaan PRT yang semakin memperhatinkan dari hari ke hari. Walaupun Anda memiliki uang yang banyak sekali pun, mencari PRT yang berkualitas sangatlah sulit padahal kehadirannya begitu dibutuhkan untuk membantu menuntaskan pekerjaan sehari-hari dalam lingkungan rumah tangga.
Banyak pendapat yang menyatakan bahwa gejala kelangkaan ini kemungkinan besar disebabkan oleh banyaknya PRT yang memutuskan untuk bekerja di luar negeri. Meskipun dihadang risiko yang besar serta gaji yang ternyata jika diakumulasikan tidak jauh berbeda dengan gaji di ibu kota, banyak PRT yang lebih memilih untuk menjadi TKI. Jika dibandingkan, sebenarnya gaji yang besar sebagai seorang TKI akan berimbang dengan pengeluaran hidup di luar negeri, sementara bekerja menjadi PRT di negara sendiri memungkinkan mereka untuk lebih sering mengunjungi keluarga serta keselamatan yang lebih terjamin.