Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Pergerakan Mahasiswa Dalam Pendidikan Kritis

Pergerakan Mahasiswa Dalam Pendidikan Kritis

oleh: ANDIPOSTRA     Pengarang: Andi Sugiharta; S.Pd.I
ª
 
PMII harus memiliki tanggung jawab representative sosial kemasyarakatan yang majemuk, dan dituntut untuk menjadi “agent of transformation” melalui dinamika pergerakan yang konstruktif dan menghindari pergerakan sporadis dengan landasan strategis menuju suatu tatanan masyarakat yang adil dan makmur dalam bingkai kemanusiaan (humanist).
Berawal dari tanggung jawab inilah peran mahasiswa sangat dominan sebagai tokoh sentral episode reformasi yang terjadi pada bulan mei 1998 yang lalu. Gerakan mahasiswa yang bersumbu pada sikap kritis akan ketimpangan sosial pada waktu itu, seakan-akan menjadi peletup untuk bangun dari tidur panjang. Sebuah gerakan nurani untuk membela masyarakat yang termarginalkan dan juga gerakan moral untuk menjadikan bangsa dan Negara yang demokratis, dan PMII menjadi bagian dari episode tersebut.
Kemudian yang menarik untuk dikaji adalah sejauh mana peranan pendidikan kritis tersebut bisa dijadikan legitimasi akan arah gerak PMII. Sebab bagaimanapun juga aspek pendidikan cenderung akan membentuk idiologi yang beragam pada masyarakat, khususnya mahasiswa.
Dilihat dari sejarah perkembangan pendidikan, pendidikan kritis berkembang pesat mulai dekade 70-an, namun demikian pada dekade 20-an telah lahir konsep pendidikan kritis yang berupa pemikiran-pemikiran pendidikan progresif dari George S. Counts. Beliau mengemukakan tiga masalah vital pada masa itu, dan kemudian dari masalah-masalah tersebut lahirlah yang dinamakan pendidikan kritis. Tiga masalah tersebut yaitu mengkritik prinsip pendidikan konservatif, memberikan ruang besar terhadap peranan guru untuk menjadikan pendidikan sebagai agen dari perubahan sosial, dan penataan ekonomi sebagai salah satu syarat untuk perbaikan pendidikan (H.A.R. Tilaar, 2003:44).
Pendidikan kritis dalam pengimplementasiannya tidak akan lepas dari konsep paradigma kritis, dimana paradigma kritis merupakan salah satu aliran pendekatan pendidikan yang telah dipetakan oleh Girouk dan Aronowitz (1985). Menurut mereka dalam dunia pendidikan ada tiga aliran pendidikan yang menjadi landasan fundamental dan mempunyai karakteristik berbeda satu sama lainnya. Aliran tersebut yaitu pendidikan yang berparadigma konservatif, liberal dan kritis.
Perbedaan yang paling mendasar dari ketiga paradigma pendidikan tersebut, yaitu dalam konteks pengkritisan akan sebuah system. Jika dalam peradigma konservatif pendidikan bertujuan untuk melanggengkan dan menjaga status quo, sementara paradigma liberal mengedepankan perubahan yang moderat, maka paradigma kritis menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam politik ekonomi kerakyatan.
Dalam prespektif kritis, urusan pendidikan adalah melakukan refleksi kritis terhadap idiologi dan system yang ada ke arah transformasi sosial. Tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang agar mampu bersikap kritis terhadap system dan struktur ketidakadilan, serta melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju system yang lebih baik. Dengan kata lain, tugas utama pendidikan adalah memanusiakan kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena system dan struktur yang tidak adil (Mansour Fakih, 2001:20).
Maka dari itu peran PMII sebagai penggerak arah transformasi ke tatanan yang lebih “beradaab”, hendaknya dibarengi dengan nilai-nilai paradigma kritis tersebut. Karena bagaimanapun juga image mahasiswa sebagai insan terdidik dan mempunyai daya nalar intelektual yang lebih tinggi dibanding masyarakat lainnya dapat merespons secara aktif melalui interopeksi akan realitas dan pengalaman, juga dengan rasa tanggung jawabnya akan mampu untuk mengadvokasi masyarakat dengan cara dialogis, bukannya monologis.
Disamping paradigma kritis, pergerakan mahasiswa juga tidak akan lepas dari partisispasi rakyat akan arah demokrasi, dimana menurut Mansour Fakih dalam dewasa ini telah terjadi depolitisasi dan penjinakan terhadap konsep partisipasi. Akibatnya, kata partisispasi tidak bermakna bagi rakyat untuk memperjuangkan nasib mereka. Dalam hal ini, menurut beliau partisispasi yang tepat adalah partisispasi transformatif, yaitu partisispasi yang bermakna memberikan ruang kepada rakyat untuk menjadi subjek terhadap proses perubahan sosial, pengambilan keputusan, dan aksi melawan ketidakadilan untuk transformasi sosial mereka sendiri ( Dadang Juliantara, 1998:12)
Selain pemahaman akan paradigma dan partisispasi yang telah dipaparkan diatas, pergerakan mahasiswa dalam pendidikan kritis juga tidak terlepas dari prinsip-prinsip pengembangan opini publik, dalam hal ini diantaranya yaitu kritis objectif, independent, berpihak pada rakyat, dialogis humanis dan tepat momentum.
Dalam pemahaman pendidikan kritis, PMII sebagai elemen intelektual akademik yang diharapkan terus menerus memelihara idealismenya, akan membaca melalui sisi kekritisannya yang terus dipelihara dengan kemampuan-kemampuannya menganalisis masalah-masalah sosial secara objectif.
Pendidikan kritis dalam PMII tidak harus dipahami sebagai bentuk radikalisme akan sebuah perubahan tatanan social, ekonomi, politik dan budaya. PMII dalam perananya sebagai bagian dari oposisi moral tidak akan bisa begitu saja merubah system dan struktur yang tidak adil, karena kekuatan moral harus dibarengi dengan kekuatan dalam “akar praksis”. Maka diperlukan adanya kerjasama yang serius dan sinergis dari seluruh komponen masyarakat, melalui alur “chek and balanc”.
Dari analis tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa PMII dalam melakukan pentransformasian sosial bermuara dari implementasi pendidikan kritis, yang tidak lain bertujuan untuk menciptakan tatanan hidup masyarakat yang demokratis, humanis dan terbebaskan.
Sebagai bagian akhir dari tulisan ini, penulis menganalogikan peranan mahasiswa sebagai seorang anak yang menggelitik bapaknya, jangan sampai sang bapak tertidur pulas dan lengah ketika mengendari mobil bermerk “Negara”. Dan semuanya harus yakin jika anak tersebut tidak bermaksud menyakiti dan mencelakai bapaknya. Namun sebaliknya, perbuatan anak tersebut dikarenakan cintanya kepada sang papak. Agar jangan sampai bapak yang dikasihaninya tersebut mati “demokrasi” karena kelengahannya…
Wallahua’lam Bish=showab Wa Bi Murodih!
Diterbitkan di: 02 Agustus, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.