Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Judi Dalam Perpektif Hukum dan Agama

Judi Dalam Perpektif Hukum dan Agama

oleh: langkir     Pengarang : Purwiyanto
ª
 
Berjudi dalam Perspektif Hukum dan Agama
Oleh: Purwiyanto
Dosen STIE INDOÇAKTI Malang

Soal berjudi sudah banyak yang tahu, jika nilai-nilai sosial menabukan, normatif hukum mengatagorikan sebagai perbuatan melawan, dan ajaran agama mengharamkan.
Masyarakat umum menganggap tindak judi sebagai tingkah laku asusila, karena dampak buruk yang ditimbulkannya. Selain merugikan diri sendiri, berjudi juga merugikan keluarga, karena segenap harta kekayaan, bahkan kadangkala juga anak dan istri habis dipertaruhkan di meja judi. Juga, karena nafsu berjudi, orang berani menipu, mencuri, korupsi, merampok, dan membunuh orang lain untuk mendapatkan uang guna bermain judi. Itu sebabnya, banyak pakar mengatagorikan judi sebagai patologi sosial, dan bagi pelakunya dikatagorikan sebagai individu dengan perilaku menyimpang.
Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 303 ayat 3, menyatakan berjudi sebagai berikut.
“Main judi berarti tiap-tiap permainan yang kemungkinannya akan menang, pada umumnya tergantung pada untung-untungan saja, juga kalau mungkin bertambah besar, karena pemain lebih pandai atau lebih cakap. Main judi mengandung segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lain yang tidak diadakan oleh mereka yang turut berlomba atau main itu, demikian juga segala pertaruhan lainnya”. Atas perbuatan judi tersebut, KUHP pasal 303 juga menyebutkan:
(1) Dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya enam ribu rupiah, barang siapa dengan tidak berhak:
1. berpencarian dengan sengaja memajukan atau memberi kesempatan berjudi atau dengan sengaja turut campur dalam perusahaan main judi;
2. dengan sengaja memajukan atau memberi kesempatan berjudi kepada umum atau dengan sengaja turut dalam perjudian itu, biarpun diadakan atau tidak diadakan suatu syarat atau cara dalam hal memakai kesempatan itu;
3. berpencaharian turut main judi.
(2) Jika yang bersalah dalam melakukan itu dalam pekerjaannya, maka boleh dicabut haknya melakukan pekerjaan itu.
Berdasar kutipan KUHP di atas, dapat disimpulkan, bahwa berjudi secara resmi atau secara hukum dianggap sebagai tindak pidana atau dianggap sebagai kejahatan. Dan jika ada individu yang bekerja kemudian dianggap “bersalah” karena melakukan perjudian, maka hak melakukan pekerjaan tadi bisa dicabut (dikeluarkan dari pekerjaannya).
Dari perspektif agama, QS, Al-Maidah: 90-91 menyebutkan, bahwa judi sebagai salah satu perbuatan syaitan. Oleh karenanya wajib dijauhi, karena termasuk perbuatan yang najis.
Berdasar norma sosial, hukum, dan ajaran agama sebagaimana dipaparkan di muka, berjudi memang harus dijauhi, karena merupakan perilaku menyimpang, tindak kejahatan, dan perbuatan syaitan.
Berjudi dalam Perspektif Hukum dan Agama
Oleh: Purwiyanto
Dosen STIE INDOÇAKTI Malang

Soal berjudi sudah banyak yang tahu, jika nilai-nilai sosial menabukan, normatif hukum mengatagorikan sebagai perbuatan  melawan, dan ajaran agama mengharamkan.
Masyarakat umum menganggap tindak judi sebagai tingkah laku asusila, karena dampak buruk yang ditimbulkannya. Selain merugikan diri sendiri, berjudi juga merugikan keluarga, karena segenap harta kekayaan, bahkan kadangkala juga anak dan istri habis dipertaruhkan di meja judi. Juga, karena nafsu berjudi, orang berani menipu, mencuri, korupsi, merampok, dan membunuh orang lain untuk mendapatkan uang guna bermain judi. Itu sebabnya, banyak pakar mengatagorikan judi sebagai patologi sosial, dan   bagi  pelakunya dikatagorikan sebagai individu dengan perilaku menyimpang.
Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 303 ayat 3, menyatakan berjudi sebagai berikut.
“Main judi berarti tiap-tiap permainan yang kemungkinannya akan menang, pada umumnya tergantung pada untung-untungan saja, juga kalau mungkin bertambah besar, karena pemain lebih pandai atau lebih cakap. Main judi mengandung segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lain yang tidak diadakan oleh mereka yang turut berlomba atau main itu, demikian juga segala pertaruhan lainnya”. Atas perbuatan judi tersebut, KUHP pasal 303 juga menyebutkan:
(1)     Dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya enam ribu rupiah, barang siapa dengan tidak berhak:
1.     berpencarian dengan sengaja memajukan atau memberi kesempatan berjudi atau dengan sengaja turut campur dalam perusahaan main judi;
2.     dengan sengaja memajukan atau memberi kesempatan berjudi kepada umum atau dengan sengaja turut dalam perjudian itu, biarpun diadakan atau tidak diadakan suatu syarat atau cara dalam hal memakai kesempatan itu;
3.     berpencaharian turut main judi.
(2)   Jika yang bersalah dalam melakukan itu dalam pekerjaannya, maka boleh dicabut haknya melakukan pekerjaan itu.
Berdasar kutipan KUHP di atas, dapat disimpulkan, bahwa berjudi secara resmi atau secara hukum dianggap sebagai tindak pidana atau dianggap sebagai kejahatan. Dan jika ada individu yang bekerja kemudian dianggap “bersalah” karena melakukan perjudian, maka hak melakukan pekerjaan tadi bisa dicabut (dikeluarkan dari pekerjaannya).
Dari perspektif agama, QS, Al-Maidah: 90-91 menyebutkan, bahwa judi sebagai salah satu perbuatan syaitan. Oleh karenanya wajib dijauhi, karena termasuk perbuatan yang najis.
Berdasar norma sosial, hukum, dan ajaran agama sebagaimana dipaparkan di muka, berjudi memang harus dijauhi, karena merupakan perilaku menyimpang, tindak kejahatan, dan perbuatan syaitan.
Diterbitkan di: 29 Juli, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    bagai mana pendapat anda jika upacara keagamaan yang di barengi dengan judi?????? ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    beri saya contoh, upacara keagamaan apa? 08 April 2014
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    dalam pasal uud berapakah judi itu di haramkan ?? ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    buka di UUD. tapi KUHP pasal 303 08 April 2014
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    jadi kalalulah seperti di time zone, beli koin, kemudian dapat tiket setelah itu di tukar,...apa tidak judi? ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    sebenarnya itu adalah judi, namun ada surat ijinnya dari pemerintah maka diperbolehkan...tapi dari segi agama pastilah tidak dibenarkan. 07 Oktober 2011
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.