• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Berapa FREKUENSI BERCINTA YANG NORMAL?

.

Berapa FREKUENSI BERCINTA YANG NORMAL?

oleh : RICS    

Pengarang : Petti Lubis, Nerisa
Dalam artikel ini dibahas tentang hubungan seks bagi pasangan yang sudah cukup lama menjalani hidup berumah tangga, dimana
kondisi jangka waktu yang sudah cukup lama berumah tangga adalah saat-saat mengalami rasa hambar didalam melakukan hubungan seksual.
Bagi pasangan yang sudah berada pada tahap ini, ada baiknya supaya memadamkan lampu kamar setiap malam. Bahkan, kadang salah seorang yang cukup realistis di antaranya tidur di sisi kanan dan pasangannya yang cukup frustasi di sisi kiri.
Mantan editor The Erotic Review, Rowan Pelling dalam surat kabar Daily Mail sempat menerima surat pembaca dari seorang wanita yang telah memiliki dua orang anak. Dalam suratnya, wanita itu mengungkapkan, hubungan seks yang diinginkan hanya berjalan sebanyak satu atau dua kali dalam sebulan. Sementara itu, sang suami malah berharap istrinya bisa bersikap “normal” dan bercinta beberapa kali dalam seminggu.
Menanggapi hal itu, Pelling fokus pada kata “normal”, serta bagaimana “normal” bisa diterima dalam suatu hubungan dan seks. Padahal, pengasuh rubrik lain mungkin akan menyarankan sang istri untuk menggunakan lingerie seksi serta lilin wangi untuk meningkatkan nafsunya.
“Hubungan jangka panjang memiliki keunikan masing-masing dan cenderung misterius,” jelasnya. “Survey hubungan seks biasanya hanya mengatakan jumlah frekuensi bercinta pasangan dalam seminggu. Tapi, tidak menyentuh penyebab gangguan hubungan percintaan itu.”
Pelling menambahkan, libido atau nafsu seks adalah sesuatu yang mudah berubah. Kaum wanita memiliki waktu penuh hasrat selama seminggu, saat masa suburnya. Pada masa itu, kaum hawa bisa menikmati hubungan seksnya setiap malam dan masa tersebut adalah masa-masa sangat menggairahkan.
Sedangkan, sepuluh hari setelah masa subur menjadi 'masa lapuk', ketika wanita sudah tidak lagi merasa diinginkan. Ini adalah masa ketika hubungan seks menjadi beban. “Terkadang, seks menjadi sesuatu yang harus dilakukan, bukan sesuatu yang akan dirindukan saat tidak melakukannya,” kata Pelling.
Diterbitkan di: Juli 15, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Komentar

Showing 1 out of 1   Tambahkan komentar Anda
  1. 0 Tinjauan 21 Oktober 2009
    1

    bagussekale

    hai

    kunjungi balik ya artikel w ,belom bisa coment soalnya belom pernah nyoba sih wakakkakak.

Bookmark & share this post

.