Apakah Bunda Theresa yang selama hidupnya mengabdi untuk peduli terhadap orang miskin harus masuk neraka? Apakah Paulus II
yang ikhlas menjamu tamunya yang seorang pembunuh, sehingga sang pembunuh membatalkan niat membunuh terhadap Paulus, harus masuk neraka? Begitu pula dengan milyaran manusia non Islam yang syarat akan berbuat baik, harus masuk neraka pula dibandingkan manusia beragama Islam tapi berprilaku buruk.
Apakah Akhlak Sebagai Penentu Untuk Masuk Surga?
Jawabannya sebagai berikut:
"kalau Akhlak memang dijadikan patokan Tuhan untuk masuk Surga, maka tidak diperlukan lagi agama di muka bumi ini" Ya, karena tanpa agama saja orang sudah bisa berbuat baik, buat apa ada agama. Tetapi, bukan masalah seseorang harus beragama atau tidak. Di sini ditekankan, bahwa jika kita melakukan amal kebaikan saja belum lah cukup untuk syarat masuk surga. Untuk membalas budi pekerti orang tua saja kita belum mampu dan belum cukup. Apalagi membalas kebaikan Allah SWT yang begitu besar dan tidak terbatas. Karunia tubuh yang lengkap, ada telinga, dua buah mata, mulut, tangan dan kaki, dan bumi untuk tempat hidup yang kesemua itu kita dapat secara gratis.
Tidak semua orang bisa masuk surga, tidak semua orang mendapat ampunan dari Allah. Karena itulah Allah menentukan syarat utamanya, beriman kepada Nya dan rosul Nya(dengan kalimat syahadat). Ia harus mempunyai akidah yang benar, paham kepada siapa ia menyembah (mengenal Allah), apa yang dimaui-Nya, apa yang dicintai-Nya. Inilah cara agar rahmat dan ampunan kita diterima disisi-Nya.
Doa dan ampunan yang kita haturkan kepada Allah, bisa diterima jika pengenalan kita terhadap Allah benar-benar baik secara makrifatullah dan perenungan. Apa yang diinginkan Allah, apa yang diharapkan Allah dari hambaNya. Inilah yang harus kita pahami. Memahami Allah tidak bisa dan tidak akan sampai jika manusia menggunakan akalnya. Hanya satu organ manusia yang bisa sebagai jalan memahami Allah, yaitu Hati. Di hati, tersimpat perasaan cinta kepada Rabb yang sangat mulia. Tetapi, kenyataan hati tidak lah bersih seperti yang diharapkan. Karena di hati pula, bersemayam berbagai macam penyakit hati (sombong, iri, kikir, pelit, dsbnya). Dibutuhkan kesabaran dan banyak-banyak merenung untuk Allah, karena hati ini begitu lemah. Semoga kita bisa memperbaiki diri dan menjaga hati kembali kepada-Nya.