• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

.

Muslim yang Aneh

oleh : Harist     

Pengarang : M. Ashari
Kualitas iman seorang muslim dapat ditentukan dengan tingkat ketaqwaan mereka, dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi
semua larangan-Nya niscaya hal tersebut mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas keimanan seorang muslim. Dalam menjalankan ajaran Islam hendaknya seorang muslim melaksanakannya dengan sepenuh hati, dalam alquran terdapat kalimat udkhulu fis silmi kaffah—masuklah dan kerjakan ajaran Islam secara menyeluruh, tidak hanya memilah dan memilih syariat/ajaran yang kiranya mudah dan menguntungkan mereka, karena ajaran Islam bukanlah matematika yang mempunyai bentuk-bentuk empiris dalam pelaksanaannya, akan tetapi membutuhkan satu yang tidak dapat diukur dengan mata dan perasaan manusia yaitu dengan keikhlasan, ikhlas mengerjakan al-islam hanya semata-mata ingin mencari keridlaan Allah SWT.
Belakangan ini muncul tren ibadah di masyarakat kita yang sangat signifikan sekaligus mencengangkan, ghirrah orang muslim meningkat dalam melaksanakan ajaran Islam. Akan tetapi ketika kita mau memperhatikan fenomena tersebut, sebenarnya terdapat hal yang aneh, yaitu ternyata hanya pada ibadah yang berhubungan dengan manusia saja yang sangat ramai peminatnya. Ketika ibadah mereka hanya bersifat God oriented, maka ibadah itu sangat sepi penggemarnya, kita bisa melihat sepinya masjid ketika saat jamaah shalat lima waktu, ketika bulan ramadhan tiba, kita bisa menyaksikan di mana-mana banyak orang yang tidak mengerjakan puasa. Akan tetapi hal ini berbanding terbalik ketika kita mengamati pada ibadah-ibadah yang berhubungan dengan manusia banyak dan yang bersifat human oriented, mereka akan berduyun-duyun dan beramai-ramai untuk mengerjakannya.
Hal ini terbukti dengan fenomena meningkatnya jumlah peminat ibadah haji, berapapun harga dan biaya yang harus dikeluarkan maka tetap saja sangat banyak peminatnya, padahal pada ibadah haji selain diperlukan kesiapan materiil juga diperlukan penataan mental yang kiranya tidak mudah, karena hal ini menyangkut dengan keikhlasan dan juga konsekuensi sosial seorang muslim setelah menjalankan ibadah haji terhadap masyarakat. Ketika hari raya idul adha tiba, maka kita dapat menjumpai ribuan hewan qurban yang disembelih, dan seseorang mampu mengeluarkan sampai beberapa hewan qurban. Kita juga tidak bisa melupakan kejadian di Pasuruan beberapa waktu lalu ketika seorang saudagar kaya raya mengeluarkan zakat yang pada akhirnya malah terjadi tragedi kemanusiaan yang menewaskan beberapa penerima zakat karena berdesakan hanya karena ingin mendapatkan uang zakat berupa Rp. 30.000,-. Kita juga dapat menjumpai fenomena begitu ramainya peminat TPA/TPQ dan pembelajaran Alquran lainnya, sampai orang tua rela kehilangan banyak biaya dengan mem-privatkan anaknya hanya karena menginginkan anaknya mahir dan fasih membaca Alquran, akan tetapi peminat madrasah diniah sangatlah memprihatinkan, padahal ilmu fiqh, tauhid, dan ilmu-ilmu agama lainnya hanya terdapat di madrasah diniah yang tentunya tidak didapatkan di TPA/TPQ, meraka lebih bangga anaknya fasih membaca alQuran ketimbang rajin menjalankan shalat.
Tentunya kita secara eksplisit tidak mampu menilai yang menjadi orientasi mereka dalam melaksanakan ibadahnya, karena itu memang bukan kapasitas kita sebagai manusia untuk menilainya dan merupakan wilayah privat mereka, boleh jadi tujuannya memang betul-betul ikhlas dan ridha hanya karena Allah ataupun juga bisa sebaliknya, akan tetapi dari tanda dan fenomena yang dimunculkan, tentunya kita bisa mendapatkan suatu konklusi bahwa memang terjadi pergeseran makna dan tujuan mereka dalam menjalankan ibadah itu sendiri, ketika ibadah itu mampu mendongkrak populeritas mereka di mata masyarakat maka akan sangat ramai peminatnya akan tetapi tidak memperhatikan populeritasnya di mata Allah SWT, walaupun secara sosial ibadah semacam ini memang sangat membantu, karena memang salah satu tujuan dari ibadah ini adalah ikut membantu dalam mensejahterakan masyarakat banyak, akan tetapi tentunya kita seharusnya tidak melupakan tujuan yang lebih utama yaitu Allah SWT. Mungkin dalam istilah jawa kita sering mendengar “mburu uceng kilangan delek” (mencari ikan “uceng” tapi malah kehilangan tempat ikan itu sendiri), dan ternyata faktanya itulah masyarakat muslim kita. (Harry-08/12/08)
Diterbitkan di: Mei 11, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.