• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Legenda Inen Mayak Pukes

.

Legenda Inen Mayak Pukes

oleh : baskoro    

Pengarang : Yusra Habib AG

MAAF Aman Mayak (Pengantin lelaki), karena tanganku telah lancang menyentuh isterimu dalam keadaan tidak berpakaian
“Upoh Ulen-ulen”, kusandarkan tangan ke bahunya yang dingin, kusentuh tubuhnya yang sedang ’berbadan dua‘ (hamil) dengan telapak tangan, yang telah turut mengotori nilai-nilai legenda ini. Ada sumber mengatakan bahwa, patung “Inen Mayak Pukes” yang asli, nampak tetesan air matanya yang sedang mengepit kendi. Fakta tersebut musnah sudah. Sosok tubuhnya yang tegak sekarang, tak ubahnya seperti bentuk Labu manis panjang. Walau begitu, saya sudah telanjur percaya dan meyakini legenda ini. Ketika menyentuh “Inen Mayak Pukes”, terbayang lukisan terkenal “Monalisa” di Mesium Paris, yang dipajang dalam satu ruang, dilengkapi alat security modern, untuk mengelak tangan-tangan jahil menyentuh, mencederai atau mencurinya. Pengunjung hanya bisa melihat jelas dari jarak 4-5.m dengan bantuan sorotan sinar yang terfokus ke Monalisa. Pemda Paris, menyediakan dana khusus untuk memelihara Mesium ini agar terjaga rapi dan aman. Selain itu teringat juga kepada patung sepasang manusia telanjang bulat dalam sebuah kolam kecil buatan dilengkapi air mancur dengan campuran sabun berbusa putih menggelembung, terletak di samping Kantor Gubernur di Århus, Denmark. Orang lalu-lalang bebas melihatnya, tapi tidak merapat, menyentuh dan mencederainya. Walau patung ini hanya sebagai hiasan yang tidak memiliki nilai historis, namun Pemda (Kommune) membiayai perawatannya.
Pengisah legenda sengaja memisahkan antara mereka berdua sejauh 200 meter. Pengunjung bebas merapat dan menyentuh “Aman/Inen Mayak Pukes”, tanpa ada upaya Pemda membangun pagar pelindung untuk merawatnya. Saat saya tanya kepada penjaga: “Apakah Pemda membantu membiayai perawatan kawasan ini?”. “Sepecer pun tidak pernah dibayar oleh Pemda. Bahkan saya mesti menyetor pajak dalam jumlah tertentu kepada Pemda.” Tuturnya singkat. Untuk melihat “Inen Mayak Pukes”, pengunjung mesti membayar Rp. 3000/orang dewasa dan 1000/anak-anak. Kemudian qadam menyalakan lampu petromak tua, mengajak masuk kawah sempit dan meriwayatkan selintas kisah patung “Inen Mayak Pukes”.
Saya tanya: “adakah brosur yang mengisahkan legenda ini kepada pengunjung?.” “Tidak ada” jawab penjaga. Inilah cara Pemda Aceh Tengah menghargai legenda “Aman/Inen Mayak Pukes”, khazanah budaya (benda archeology) yang memiliki nilai legenda tersendiri, terletak di Pukes, kira-kira 1,5 km dari kampung Kebayakan ke arah Bintang, di bibir Danau Laut Tawar Takengon Aceh Tengah.
Sampai hati memungut jatah, membiarkan telanjang tanpa berpakaian “Upoh Ulen-ulen”, tidak memberi biaya untuk membeli sabun, shampo, bedak dan alat kosmetik lainnya agar “Aman/Inen Mayak Pukes” nampak lebih gagah dan “mampat-belangi” (“cantik”). Entahlah!
Tentang jarak 200.m antara “Inen dan Aman Mayak Pukes”, mengandung missi khusus tentang nilai kultural dan moral. Siapa saja, tidak terkecuali: pasangan suami/isteri sekali pun, tetap dipandang tabu bergandèng tangan, apalagi dalam perjalanan jarak-jauh atau memasuki kawasan kampung lain. Sebab, status mereka belum diketahui secara meluas oleh masyarakat.
Aktualisasi dari jiwa legenda ini nampak dalam interaksi sosial masyarakat sehari-hari. Dalam acara kenduri (jamuan makan), kematian atau perkawinan misalnya; kaum lelaki dipisahkan tempat duduknya dari kaum wanita, walau suami/isteri sekali pun. Dalam masyarakat Gayo (Aceh), hampir tidak dijumpai pasangan suami/isteri berjalan bergandeng tangan di tempat umum, sebab dipandang memalukan umat!. Mereka menjaga jarak sebagai simbol moral/aurat umum. Inilah refleksi penjiwaan terhadap makna jarak antara “Aman dan Inen Mayak Pukes”.
Bertuturlah sopan santun.” Tapi, ini kenyataan: “Aman/Inen Mayak Pukes” menjadi batu. Terus terang, kalau diamati dengan teliti, posisi “Aman/Inen Mayak Pukes”, ternyata tidak menoleh ke belakang, tetapi memandang dan melangkah ke depan. Berarti, tidak cukup alasan menuduh -tidak memegang amanah- dan karenanya tidak patut menjadi batu. Jadi, dimana letak pelanggaran moralnya? Dalam konteks ini, kita tidak perlu mengusut.Benar kemaren adalah milik pribadi, tetapi esok lusa adalah milik bersama, yang menuntut keberanian bersabung dan bertarung untuk merebut pelbagai peluang. Si penakut akan hanyut dibawa arus hidup itu sendiri dan yang ragu-ragu akan kehilangan kesempatan. Ayunkan langkah dengan pasti ke depan, jangan menoleh lagi ke belakang. “Walal akhiratu chairullaka minal ula” (Surat Dhuha, ayat 4). Dua perkara inilah sebenarnya milikmu. Jadi, jangan heran kalau satu saat, sesuatu yang sudah digenggam akan hilang disambar elang.
Anda mungkin sampai ke puncak kebahagiaan atau terjungkal ke dalam lembah yang dalamnya tanpa batas. Kedua, kita adalah sosok lain dari “Aman/Inen Mayak Pukes” yang tidak memegang amanah -tidak bisa dipercayai- karena melakukan “wan prestasi”: artinya: kita tidak melakukan sama sekali apa yang sudah diamanahkan; ... kita melakukan, tetapi tidak melakukan sebagaimana yang diamanahkan; ... kita melakukan, tapi hanya melakukan sebagian dari yang diamanahkan; ... kita melakukan, tapi terlambat dari masa yang diamanahkan.
Tegasnya, jika tokoh legenda ini menjadi batu karena tidak amanah; kita yang terang-terangan “wan prestasi”; ternyata diam, bisu, sombong, keras kepala dan “membatu”, bukan? Qadam mengajakku mendaki menjumpai “Aman Mayak Pukes”. Tapi, kaki terasa lelah melangkah dan nyeri sendi mendaki. Terus terang, ini hanya satu dari beberapa dalih, bahwa saya sebenarnya mengelak, kalau nanti “Aman Mayak Pukes” bertanya: “Sana keber ton numah ku?” (Apa kabar isteri saya?)”. Ini pesan dan saya tidak sanggup menjawab, walau dialog imaginasi terus dilakukan. Kulambaikan tangan sebagai isyarat perkenalan, bukan perpisahan. Karena perpisahan hanya terjadi, ketika seseorang merasakan bahwa pesan legenda ini tidak memiliki hubungan emosional dengan dirinya.
Wallahu‘aklam bissawab!
Diterbitkan di: Mei 06, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.