• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Kapan Rakyat Jadi Idola?

.

Kapan Rakyat Jadi Idola?

oleh : ishak_zainal    


    KAPAN rakyat menjadi idola? Ia hanya menjadi idola di tengah semaraknya partai, disaat

diadakan pemilihan, saat mereka dibutuhkan kerja bakti. Setelah tenaga mereka dimanfaatkan, kemudian dilupakan selanjutnya dicampakkan. 
    Di masa-masa itulah, namanya dipopulerkan. Di lapangan rerumputan, setiap kanpanye, rakyat berjubel berpeluh keringat di sengat teriknya matahari. Mereka dengan bangga nama rakyat diagung-agungkan. Mereka menyaksikan wajah-wajah calon mereka, berdiri di panggung, meskipun panggung itu hanya diisi tong-tong kosong yang nyaring bunyinya. 
    Hari ini, seperti biasa, rakyat dimobilisasi untuk mendengar janji-janji omong kosong para politikus. Esoknya, aspirasi mereka dicampakkan bahkan sengketa rakyat menjadi misteri penyelesaiannya. 
    Hari ini, calon mereka meneriakkan janji, esok lusa lidah wakil mereka menjadi kelu, tak mampu bicara, telinga mereka menjadi pekak. Dewan yang terhormat itu melupakan akar, bahwa mereka itu dari rakyat, lalu status sosialnya terangkat, karena dipilih juga oleh rakyat. 
    Para wakil rakyat yang dipilih lalu ingkar janji adalah mereka yang terpilih dengan cara serdadu-serdadu bayaran. Menyogok, mengancam bahkan memaksa pemilih lemah untuk memilih aliran politiknya. Mereka hanya sekedar mengejar target suara terbanyak, meraih posisi, lalu merasa bangga. Selanjutnya dengan leluasa proses penindasan secara diam-diam bahkan terang-terangan mereka lakukan. Sasaran utamanya adalah para pengusaha dan pejabat, namun ujung-ujungnya mengorbankan rakyat umum. 
    Cara-cara seperti ini seakan terbayang kembali. Seperti hari-hari belakangan ini, nama rakyat diagung-agungkan, namun juga tengah dihin hak-hak politiknya. Mereka yang menghina adalah mereka yang memanfaatkan usus menggeliat lantaran kelaparan. Memiskinkan rakyat lalu membeli hak rakyat dengan uang. Mereka menghina karena mensederajatkan hak-hak rakyat seperti barang loakan di pasar murah. 
    Bila ini terjadi, maka kesempatan untuk membangun kembali demokrasi bangsa hanya mimpi. Rakyat akan kembali mengalami masa-masa yang suram. Mereka justru dihianati oleh yang mereka beri mandat. 
    Mereka yang memiliki dana sebukit, harus paham, bahwa aspirasi rakyat tidak harus selalu diukur dengan uang. Bahwa dengan uang itu justru merusak moral dan mental rakyat. Bahwa dengan membangun moralitas politik yang tercela sama dengan membangun piramida kekuasan korup. 
    Sungguh, mereka yang membeli hak pemilih, esok lusa ketika telah berkuasa akan kehilangan tanggungjawab. Mereka beranggapan bahwa mereka telah membeli hak rakyat. 
    Sementara rakyat yang tergoda dengan mendukung dan menggadaikan hak politiknya kepada para politikus busuk, juga akan berakhir dengan penyesalan ketika mereka ditimpa masalah. Rakyat bermental seperti inilah yang sesungguhnya mengambil saham atas kehancuran rakyat lainnya. Mereka ikut menanggung dosa karena mendukung para politikus busuk yang sesungguhnya juga mereka tahu calon yang diusungnya bermental jahat. Toh, perbuatannya itu juga menjadi boomerang bagi dirinya. 
    Mereka menjadi bahan permainan atas janji-janji menyelesaikan masalah-masalah yang menimpanya. Bahkan mereka hanya akan menjadi sumber eksploitasi bagi para politikus busuk untuk menyalurkan aspirasi mereka sambil memeras para pengusaha atau pun para penguasa.
                                                          *** 
    Rakyat seharusnya diberi kesadaran akan hak-hak politiknya. Mereka perlu diberi pemahanan, bahwa umbul-umbul, disertai simbol rektorik belum tentu sebagai wadah terbaik untuk menyalurkan aspirasinya. Mereka perlu mengetahui, siapa figur dan bagaimana kualitas calon mereka. Mereka harus mengingat daftar rekaman dosa di kepala, bahwa figur-figur busuk tak layak dipilih untuk mewakili mereka baik di pusat maupun di daerah. Karena satu keputusan para politikus busuk itu, dampaknya menimpa jutaan rakyat.
klik ishak_zainal untuk membaca tulisan lainnya, seperti modus kecurangan Pemilu


Diterbitkan di: April 14, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.