.... KENAPA DIPERMUDAH ? .Bisnis itu simple. (Jack Wels, 1997)
Cerita pertama : Seminar gajah.
Ada cerita yang sangat familiar yaitu :
seminar gajah. Kisahnya demikian : Badu menjelaskan, bagaimana bentuk tubuh
seekor gajah. Bahwa gajah, diantaranya, memiliki ekor kecil panjang, seperti ular.
Nah begitu pembicaraan menginjak seperti ular ini, si Badu melanjutkan, ular
itu jenisnya macam-macam. Seperti yang saya kenal di Sumatra, kata Badu, ada
ular python yang sangat besar. Tabiatnya ganas karena kebutuhan makannya
luar biasa besar. Tetapi ular python di India lain, lanjutnya. Ular disana tidak
sebuas di Sumatra. Itu mungkin karena pola hidup masyarakat India yang
mempunyai penghargaan khusus terhadap ular. Dan seterusnya, dan seterusnya
si Badu pun tersesat bercerita tentang masyarakat India yang tidak sesuai
dengan rencana cerita semula, yaitu gajah. Dan prit . time is up, seminar gajah
pun usai dengan hasil spektakuler : pemahaman bersama tentang masyarakat
India !
Itulah salah satu cara berpikir yang luar biasa sesat. Di tengah perjalanan
bertutur, terjadi keasyikan yang akhirnya membuat fokus terpeleset.
Kisah lain. Sering sekali saya mendapatkan cerita, sebagai laporan,
maunya, yang akhirnya membuat otak menjadi .over loaded., kelebihan beban.
Dengan pelbagai penugasan yang saya terima, dengan macam-macam amanah
yang harus saya jalankan, jelas saya harus belajar berpikir pintar (smart, bukan
clever yang kalau diterjemahkan artinya pandai).
Kelebihan beban terjadi karena yang dilaporkan adalah aktivitas, atau
data. Padahal, jelas yang saya butuhkan terutama adalah informasi. Kalau hanya
data yang saya peroleh, bukan informasi, ada 2 poin minus. Pertama, saya akan
segera mengalami diskfull syndrome. Yang kedua, sang pelapor ini hanya akan
terbiasa menjadi tukang pos. Data yang seharusnya dia olah menjadi informasi,
tetap saja dikirim masih mentah sebagai data. Bagaimana dengan processing
machine di otak kita dari karunia-Nya ? Sayang kalau tidak dioptimalkan dengan
latihan.
Kelebihan beban terjadi karena yang dilaporkan adalah aktivitas, atau
data. Padahal, jelas yang saya butuhkan terutama adalah informasi. Kalau hanya
data yang saya peroleh, bukan informasi, ada 2 poin minus. Pertama, saya akan
segera mengalami diskfull syndrome. Yang kedua, sang pelapor ini hanya akan
terbiasa menjadi tukang pos. Data yang seharusnya dia olah menjadi informasi,
tetap saja dikirim masih mentah sebagai data. Bagaimana dengan processing
machine di otak kita dari karunia-Nya ? Sayang kalau tidak dioptimalkan dengan
latihan.
Story lain lagi. Seringkali saya mengikuti rapat yang sungguh membuat
saya merasa sangat berdosa kepada perusahaan yang membayar gaji saya. Rapat
disusun dengan pelbagai agenda yang tampak oke. Tetapi sering terjadi yang
diagendakan tiga poin, yang selesai hanya hanya satu setengah. Dan itupun
hasilnya setengah matang, dengan memakan jam kerja yang panjang, yang
artinya semuanya menjadi mahal. Itu bisa terjadi karena salah satu penyebabnya
adalah penyakit seminar gajah. Keasyikan membahas yang satu, melupakan
yang lain yang harusnya lebih essensial.
Juga bisa terjadi karena penyebab lain, yang sama kategorinya :
kesalahan dalam berpikir. Masing-masing peserta rapat adu pintar dengan
pelbagai jurus yang dikuasainya. Semua ngotot. Semua berdebat keras. Semua
mau menang, tetapi semua juga pada tidak jelas. Ujungnya apa yang mau
dicapai ? Apa objectives yang mau diraih ? Pergulatan bicara ngalor ngidul, tapi
mau kemana ?
Stephen Covey yang tersohor dengan Seven Habits-nya mengingatkan
satu hal yang dasar : begin with the end in mind. Segala pemikiran harus dimulai
dari ujung, dari sasaran yang hendak dituju. Atau kalau mau lebih lengkap, ada
pelajaran yang disebut sebagai ocean voyage. Ini suatu pelajaran yang intinya
mengajak kita untuk mengolah pola pikir kita dengan 3 fase : yang pertama,
positioning (dimana kita saat ini); kedua : kemana kita mau menuju (objectives)
dan terakhir bagaimana cara kesana (how do we get there).
Kalau kita berdisiplin menerapkan cara berpikir itu, yakinlah bahwa
kita akan jadi smart, jadi pintar. Yakinlah bahwa tidak ada yang ruwet, karena
segala sesuatunya menjadi simple (sederhana; bukan gampang dari terjemahan
easy). Yakinlah bahwa kita akan lebih efisien. Dan yakinlah bahwa dengan
demikian dosa kita kepada perusahaan akan sangat minim. Itu mudah. Hanya
perlu tekad untuk berdisiplin menjalankan pola pikir simple.
Tapi . bisa juga sulit bila kita memang penganut fanatic suatu
paham yang di negara ini pengikutnya nampak sangat besar, yaitu suatu paham
yang sangat .indah. : . kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah ? ..