Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Cangkir yang Cantik

.

Cangkir yang Cantik

Pengarang : Thiyok
Ringkasan oleh : Thiyok
Kunjungan: 5
kata: 600
Diterbitkan di: April 16, 2008



Alkisah, ada
seorang pengrajin tanah liat sedang mencari tanah liat. Sesampainya di sawah,
ia mengeluarkan cangkulnya dan mencangkul tanah itu untuk dicongkeli dan dibawa
pulang. Saat orang itu mnghempaskan cangkulnya ke tanah, si tanah berbicara. “Auw,
apa yang kau lakukan, sakit tahu! Berhetilah, aku kesakitan. Kau tidak
merasakan apa yang aku rasakan. Tolong berhentilah mencangkuliku, dan
tinggalkan aku.”, kata si tanah. Tapi orang itu berkata,”Ini belumlah seberapa,
sabarlah!”.

Sesampainya di rumah, orang itu merendam tanah
liat tadi. Lagi-lagi si tanah itu berkata,”Sudahlah, aku sudah tidak tahan
lagi.
Aku tidak bisa
bernapas. Hentikalah. Kumohon, jangan siksa aku seperti ini”. Dan orang itu pun
menjawab,”Ini belum seberapa, sabarlah!”. Setelah proses perendaman selesai,
saatnya beralih ke tahap selanjutnya, yaitu proses pembuatan. Si tanah itu
diletakkan di alat yang dipakai untuk membentuk tanah liat. Sambil terus
memutar alat itu, orang tadi terus menggerakkan tangannya dengan lihai. Si
tanah protes lagi,”Kumohon, hentiknlah. Aku pusing. Cukup sampai di sini saja.
Aku sadah tidak tahan.” Tapi orang itu berkata hal yang sama,’Ini belum
seberapa, sabarlah!”


Setelah berbetuk, tanah liat itu lalu dibakar. Si tanah itu menjrit kesakitan,”Auw,
panas, panas! Kau ingin membunuhkuya? Kumohon hentiknlah semua ini, aku sudah
tidak tahan.” Orang itu hanya menanggapi dengan kata-kata yang sama,”Ini belum
seberapa, sabarlah!” Dan tibalah saatnya untuk pengecatan. Dengan kelihaian
tangannya, prose itu tidak berlangsung lama. Lalu tanah liat tadi dijemur
sampai kering.


Setelah semua proses itu selesai, si pengrajin itu
berkata kepada tanah liat itu,”Sekarang bercerminlah! Lihatlah dirimu yang
sekarang di cermin.” Saat dia melihat dirinya sendiri di depan cermin, ia
terpesona dengan kecantikannya sendiri. Ia tidakyakin, apakah yang ia lihat itu
dirinya atau khayalannya. Ia sekarang sudah menjadi sebuah cangkir yang cantik,
bukan seonggok tanah liat lagi.


Pernahkan kita mengalami hal seperti itu? Kita
sering ditimpa musibah, dan kita selalu mengeluh kepada Allah. Kita berpikir
bahwa Allah tidak sayang kepada kita. Itu semua salah. Mungkin Allah
memberikita musibah dan cobaan, dengan maksud untuk membentuk kepribadian kita
agar kita bisa menjadi sebuah cangkir yang cantik. Mungkin kita tidak akan
menemukan perubahan kita di dunia, tapi besok di akhirat. Insya Allah. Maka
dari itu saudaraku, bersabarlah atas apa yang menimpamu. Karena Allah pasti
punya jalan yang terbaik untuk hamba-Nya yang senantiasa istiqomah di
jalan-Nya. (Thiyok)


Cangkir yang Cantik  oleh  Thiyok     
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • amibroker
  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie

.