Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > POLIGAMI BUKAN UNTUK SEMBARANG ORANG

.

POLIGAMI BUKAN UNTUK SEMBARANG ORANG

Summary rating: 5 stars 1 Tinjauan
Pengarang : Jaisy01
Summary by : Jaisy01
Kunjungan : 58  kata: 900   Diterbitkan di: April 07, 2008
”HA! POLIGAMI!” sekilas ada seorang yang tercengang saat kalimat POLIGAMI dilontarkan. Banyak kaum wanita merasa takut dengan kata-kata yang berbau POLIGAMI. Dalam beberapa hal, kadang poligami membuat kita merasa jengah dengan seorang pria yang malakukannya. Wanita akan menganggap hina bagi dirinya, jika dia menjadi seorang yang dipoligami.

Sejarah membuktikan bahwa, banyak seorang yang menikah. Karena kebutuhan seksnya terlalu besar. dan seorang wanita, hanya dijadikan objek seksual kaum pria. Seperti pernikahan raja-raja dalam masa-masa kegelepan (Eropa) dan jaman Jahilia (Arab).

Setelah itu lahirlah seorang nabi dari Arab. Yang dijuluki, Muhammad. Dengan sangat luar biasanya. Nabi ini bisa mengembangkan dakwah dalam agamanya. Hingga sampai kemanapun. Sampai-sampai menjadi tokoh No. 1 sebagai Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah (buku Michael H. Hart) yang terbit di Eropa. Semua masalah dapat dipecahkannya, melalui beberapa firman yang diturunkan oleh Allah. Termasuk masalah poligami. Dan sangatlah hebat, Muhammad bisa menjadikan poligami sebagai solusi dari krisis yang melanda wanita-wanita Arab. Saat peperangan terjadi, jumlah kaum perempuan yang menjadi janda. Sangat melonjak drastis. Apakah seorang perempuan yang menjadi janda, bisa ditolong tanpa harus menikahinya? Sebuah pertanyaan besar dibenak kita.

Seorang perempuan, adalah manusia biasa. Seperti kaum pria juga. Mereka mempunyai rasa yang ingin disayang dan menyayangi. Seorang wanita pun menginginkan sebuah kepastian dalam sebuah hubungan dan takut akan terkena fitnah. Adalah Dr. Gustaf Lebon. Seorang cendekiawan Eropa, yang mengatakan. Saya hanya ingin mengatakan bahwa praktik poligami secara resmi yang dipraktikkan masyarakat Timur lebih baik daripada hubungan seksual diluar nikah dan yang mengakibatkan banyaknya bayi lahir tanpa ayah, sebagaimana yang terjadi di sejumlah Negara Eropa. Ketertinggalan kaum Muslimin dalam mengejar kemajuan saat ini bukan disebabkan dibolehkannya poligami. Kenyataan ini harus kita sadari.

Jika dicermati dengan baik, maka dapat disimpulkan bahwa kondisi ideal hubungan suami istri adalah di saat seorang suami hanya memiliki seorang istri. Inilah kondisi kehidupan rumah tangga yang ideal. Kondisi seperti inilah yang ingin dicapai oleh umat manusia dan seharusnya terus dipelihara oleh sepasang suami istri. Akan tetapi, ada beberapa factor yang menyebabkan manusia tidak selamanya dapat mempertahankan kondisi ini. Laki-laki kadang terjebak dalam suatu kondisi yang mengharuskannya beristri lebih dari satu. Keputusan untuk melakukan poligami ini terkadang dilakukan bukan hanya untuk kemaslahatan suami sendiri, namun juga untuk kemaslahatan orang lain.

Terkadang poligami dilakukan untuk kemaslahatan manusia secara umum. Perempuan bekerja di kantor-kantor, pabrik-pabrik, dan di tempat-tempat umum. Kondisi yang membuat mereka sering menjadi sasaran pelecehan seksual. Dan, hal ini juga telah menggugah sebagian cendekiawan Inggris untuk menyuarakan agar praktik poligami diberlakukan kembali (Di Inggris).

Didalam artikel yang termuat di harian London Truth. Seorang jurnalis perempuan menulis.

….Lihatlah berapa banyak anak yang lahir dari hubungan gelap? Tidakkah ini merupakan suatu aib kemanusiaan? Jika poligami dibolehkan, kondisi memprihatinkan yang menimpa bayi hasil hubungan gelap tidak akan terjadi. Jika poligami dibolehkan, maka kehormatan keduanya akan terjaga…

Dalam surat kabar Esterm Mile. Seorang penulis kenamaan, Miss Enrud menulis;

Kenapa negeri kita tidak seperti negeri-negeri muslim yang mengajarkan agar kehormatan dan kesucian perempuan dipelihara. Negeri di mana para perempuan memiliki pembantu yang siap melayani dengan baik. Mereka menjalani hidup dengan indah dikelilingi pembantu yang melayani mereka berikut anak-anak mereka dengan baik. Walhasil, mereka tidak mengalami kondisi di mana harga diri dan kehormatannya dilecehkan. Benar-benar aib memalukan bangsa Inggris jika kaum perempuannya terjebak dalam perilaku buruk sebagai akibat pergaulan bebasnya dengan laki-laki. Apa yang menghalangi kita menganut konsep yang membuat perempuan terfokus mengerjakan tugas yang selaras dengan fitrahnya, dan menyerahkan urusan laki-laki kepada laki-laki?

Dalam surat kabar Echo. Lady Cokce, memiliki pendapat.

Lihatlah, bukankah perempuan yang hamil di luar nikah kebanyakan adalah perempuan yang bekerja di lapangan public, para pembantu, dan para perempuan yang membiarkan dirinya menjadi barang pameran, yang bebas dilihat dan dinikmati keindahan tubuhnya oleh siapa saja. Jika para dokter memboikot memberikan obat-obat pencegah kehamilan, sudah pasti kita dapati jumlah kehamilan di luar nikah sangat mencengangkan.

(Maaf karena tidak mencukupi, maka bersambung di POLIGAMI BUKAN UNTUK SEMBARANG ORANG II
.


Ringkasan lain tentang POLIGAMI BUKAN UNTUK SEMBARANG ORANG
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------